Tampilkan postingan dengan label 26. SBA : Morfologi Bahasa Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 26. SBA : Morfologi Bahasa Arab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2025

Kaidah Idgham dalam Ilmu Sharaf

Materi Pembelajaran
1. Pengertian Idgham secara bahasa dan istilah
2. Perbedaan Idgham dalam ilmu tajwid dan ilmu sharaf
3. Syarat-syarat terjadinya Idgham dalam sharaf
4. Macam-macam Idgham:
Idgham mutamāthilain (dua huruf yang sama)
Idgham mutaqaribain (dua huruf yang mirip tempat keluarnya)
Idgham mutajānisain (dua huruf yang jenisnya sama)
4. Contoh-contoh penerapan Idgham dalam fi’il dan isim
5. Perbedaan bentuk Idgham dan bukan Idgham
6. Latihan dan penerapan Idgham dalam teks dan tashrif

Tasyrif Lughawi dan Nun Taukid

Definisi singkatnya:
Tasyrif Lughawi (التصريف اللغوي) adalah perubahan bentuk fi’il (kata kerja) dalam bahasa Arab berdasarkan pelaku, jumlah, dan waktu tanpa mengubah makna dasar kata tersebut.
Nun Taukid (نون التوكيد) adalah huruf “ن” yang ditambahkan di akhir fi’il untuk menegaskan atau menguatkan makna perintah atau kepastian suatu peristiwa.

Penjelasan:

1. Tashrif Lughawi (التصريف اللغوي)

Tashrif lughawi adalah perubahan bentuk suatu kata kerja (fi’il) dalam bahasa Arab ke berbagai bentuk sesuai perubahan pelaku (fa’il), waktu (madhi – lampau, mudhari’ – sekarang/akan datang), dan jumlah (mufrad, mutsanna, jamak).

Agar kita dapat mengetahui semua bentuk fi’il berdasarkan perubahan subjek dan waktunya, tanpa mengubah makna dasar kata tersebut.

Contoh:
Misalnya dari fi’il كَتَبَ (kataba) yang berarti “dia telah menulis”, maka tasyrif lughawinya sebagai berikut:

Bentuk Fi’il Kata Arti
Madhi (dia laki-laki) كَتَبَ Dia (laki-laki) telah menulis
Madhi (mereka berdua) كَتَبَا Mereka berdua telah menulis
Madhi (mereka) كَتَبُوا Mereka telah menulis
Mudhari’ (dia laki-laki) يَكْتُبُ Dia sedang/akan menulis
Mudhari’ (mereka) يَكْتُبُونَ Mereka sedang/akan menulis
Amar (perintah) اُكْتُبْ Tulislah!

Tasyrif ini biasanya disusun dalam bentuk tabel 14 bentuk fi’il (الصيغة الأربعة عشر / ash-shighah al-arba'ata 'asyar).

2. Nun Taukid (نُونُ التَّوكِيدِ)

Pengertian:

Nun Taukid adalah huruf tambahan berupa “ن” yang diletakkan di akhir fi’il mudhari’ atau fi’il amar untuk menegaskan atau menguatkan makna perintah atau kejadian.

Jenis Nun Taukid:

1. Nun Taukid Tsaqilah (ن الثقيلة):

Bentuknya “نّ” (dengan tasydid)
Digunakan pada bentuk fi’il yang ingin dikuatkan secara sangat tegas.
Contoh: لَيَكْتُبَنَّ (Sungguh dia benar-benar akan menulis)

2. Nun Taukid Khafifah (ن الخفيفة):

Bentuknya “نْ” (tanpa tasydid)
Penegasannya lebih ringan.
Contoh: لَيَكْتُبَنْ (Sungguh dia akan menulis)

3. Perubahan Bentuk Fi’il karena Nun Taukid

Aturan Umum:
Ketika Nun Taukid dimasukkan ke dalam fi’il mudhari’, maka:
Harus diawali dengan huruf lam taukid (لَـ).
Akhiran fi’il kadang berubah atau hilang untuk memudahkan pelafalan.

Contoh Perubahan:
Fi’il mudhari’ يَكْتُبُ (yakṭubu) → setelah ditambah lam taukid dan nun taukid menjadi:

لَيَكْتُبَنَّ = Sungguh dia benar-benar akan menulis (dengan nun tsaqilah)
لَيَكْتُبَنْ = Sungguh dia akan menulis (dengan nun khafifah)

Catatan Penting:
Fi’il mudhari’ yang diakhiri dengan huruf illat (contoh: يَرْمِي) akan mengalami perubahan khusus saat ditambah nun taukid.
Contoh: لَيَرْمِيَنَّ dari يَرْمِي (sungguh dia benar-benar akan melempar)

4. Perbandingan Tashrif Lughawi dan Tashrif Istilahi

Aspek Tashrif Lughawi Tashrif Istilahi
Pengertian Perubahan bentuk fi’il sesuai perubahan pelaku dan waktu Perubahan bentuk kata kerja untuk menunjukkan bab fi’il dan makna tambahan
Fokus Bentuk gramatikal berdasarkan pelaku dan waktu Bab fi’il dan pola-pola fi’il yang menunjukkan makna tertentu
Contoh Kata Dasar كَتَبَ كَتَبَ (bab pertama), قَاتَلَ (bab ketiga)
Tujuan Mengenal bentuk-bentuk fi’il dalam penggunaannya Mengetahui makna tambahan seperti saling, usaha keras, dsb

Contoh Perbandingan:
كَتَبَ – يَكْتُبُ – اُكْتُبْ (Tashrif Lughawi: perubahan bentuk kata)
كَاتَبَ – يُكَاتِبُ – كَاتِبًا (Tashrif Istilahi: perubahan bentuk dan makna menjadi “saling menulis”)

Masdar dan Al-Musytaqat


Materi Pembelajaran
1. Masdar (المصدر)
- Definisi Masdar
Fungsi dan kedudukan dalam kalimat
Pola-pola masdar dari fi'il tsulatsi dan mazid
Perbedaan antara masdar dan fi’il
Contoh-contoh penggunaannya dalam teks
2. Al-Musytaqat (المشتقات)
Pengertian al-musytaqat
- Syarat sebuah kata disebut musytaq
Macam-macam musytaqat dan fungsinya:
Isim Fa’il
Isim Maf’ul
Shifah Masyabbahah
Ism Tafdhil
Ism Zaman & Ism Makan
Ism Alah (isim alat)
Shighat Mubalaghah
3. Perbedaan Antara Masdar dan Musytaqat
- Penekanan pada bentuk asli (masdar) vs bentuk turunan (musytaqat)
Aplikasi dalam kalimat
Analisis bentuk kata dalam teks Arab

Pembagian Fi'il Dan Macam-Macamnya

Materi ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Morfologi Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Sabar Siswoyo, M.Pd
Pemateri : Kelompok 1
Anggota :
1. Neng Hindi Hadiyani, NIM. 023210083
2. Sherly Febriana, NIM. 23220034
3. Priti Swardani, NIM. 23220031


DAFTAR ISI

1. Pembagian Fi’il Berdasarkan Waktu Kejadiannya
2. Pembagian Fi’il Berdasarkan Jenis Hurufnya
3. Pembagian Fi’il Berdasarkan Ma’mul-nya
4. Pembagian Fi’il Berdasarkan Bentuk Aktif dan Pasifnya
5. Pembagian Fi’il Berdasarkan Jumlah Hurufnya

PEMBAHASAN

1. Pembagian Fi’il Berdasarkan Waktu Kejadiannya (تَصْنِيْفُ الفِعْلِ حَسَبَ الزَّمَن)

Dalam ilmu ṣarf (morfologi), fi’il dibagi berdasarkan waktu terjadinya perbuatan menjadi tiga jenis utama:

a. Fi’il Māḍī (الفِعْلُ الْمَاضِي)

Pengertian: Kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang sudah terjadi di masa lampau.
Ciri: Biasanya diakhiri dengan harakat fatḥah (ـَ).
Contoh:
كَتَبَ (kataba) – Dia telah menulis
ذَهَبَ (dhahaba) – Dia telah pergi

b. Fi’il Muḍāri’ (الفِعْلُ الْمُضَارِع)

Pengertian: Kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang sedang atau akan terjadi (present/future tense).
Ciri: Diawali dengan salah satu huruf mudhāri‘ (ن – أ – ي – ت).
Contoh:
يَكْتُبُ (yaktubu) – Dia sedang/akan menulis
نَذْهَبُ (nadhhabu) – Kami sedang/akan pergi

c. Fi’il Amr (الفِعْلُ الأَمْر)

Pengertian: Kata kerja yang digunakan untuk memberikan perintah atau permintaan.
Ciri: Biasanya berbentuk singkat dan tegas; berasal dari fi’il muḍāri’ dengan perubahan tertentu.
Contoh:
اُكْتُبْ (uktub) – Tulislah!
اِذْهَبْ (idhhab) – Pergilah!

2. Pembagian Fi’il Berdasarkan Jenis Hurufnya (تَصْنِيْفُ الفِعْلِ حَسَبَ نَوْعِ حُرُوفِهِ)

Fi’il dalam bahasa Arab dibagi berdasarkan jenis huruf asalnya (huruf fi’il), yaitu apakah mengandung huruf illat (و، ا، ي) atau tidak. Pembagian ini sangat penting karena memengaruhi perubahan (tasrif) fi’il tersebut.

A. Fi’il Shahīḥ (الفِعْلُ الصَّحِيْح)

Pengertian: Fi’il yang tidak mengandung huruf illat (و، ا، ي) dalam huruf asalnya (fa’, ‘ain, dan lam).

Jenis-jenis Fi’il Shahih:
1. Shahīḥ Sālim (الصحيح السالم)

Tidak ada huruf illat dan tidak ada hamzah atau huruf dobel.
Contoh: ذَهَبَ (pergi), كَتَبَ (menulis)

2. Shahīḥ Mahmūz (الصحيح المهموز)

Mengandung huruf hamzah (ء) pada salah satu huruf asal.
Contoh: أَكَلَ (makan), سَأَلَ (bertanya)

3. Shahīḥ Mudha‘af (الصحيح المضعف)

Huruf kedua dan ketiga sama, sehingga terjadi penggandaan (tasydid).
Contoh: مَدَّ (memanjang), رَدَّ (menolak)

B. Fi’il Mu‘tal (الفِعْلُ المُعْتَل)

Pengertian: Fi’il yang mengandung huruf illat (و، ا، ي) pada salah satu huruf asalnya.

Jenis-jenis Fi’il Mu’tal:

1. Mu‘tal Fā’ (المعتل الفاء) – Mithāl

Huruf illat berada di awal (huruf pertama).
Contoh: وَعَدَ (berjanji), يَسَرَ (mudah)

2. Mu‘tal ‘Ain (المعتل العين) – Ajwaf

Huruf illat berada di tengah (huruf kedua).
Contoh: قَالَ (berkata), بَاعَ (menjual)

3. Mu‘tal Lām (المعتل اللام) – Nāqiṣ

Huruf illat berada di akhir (huruf ketiga).
Contoh: دَعَا (mengajak), سَمَا (tinggi)

4. Lafīf (اللفيف)

Mengandung dua huruf illat sekaligus.

Terdiri dari:
- Lafīf Maqrun: dua huruf illat berdampingan.
Contoh: طَوَى (melipat), رَوَى (meriwayatkan)

- Lafīf Mafrūq: dua huruf illat terpisah
Contoh: وَفَى (menepati), وقى (melindungi)

📌 Catatan Penting:
Pengetahuan jenis fi’il ini sangat penting karena memengaruhi bentuk konjugasi (tasrif) fi’il dalam berbagai wazan (pola).
Fi’il mu’tal sering mengalami perubahan atau pengguguran huruf saat ditasrifkan.

3. Pembagian Fi’il Berdasarkan Ma‘mūl-nya (تَصْنِيْفُ الفِعْلِ حَسَبَ مَفْعُوْلِهِ)

Dalam ilmu ṣarf dan nahwu, fi’il dapat diklasifikasikan berdasarkan apakah fi’il tersebut memerlukan objek (maf‘ūl bih) atau tidak. Hal ini berpengaruh pada struktur kalimat yang dibentuk.

A. Fi’il Lāzim (الفِعْلُ اللَّازِم)

Pengertian:
Fi’il yang tidak membutuhkan objek, karena maknanya sudah lengkap tanpa menyertakan maf‘ūl bih.

Ciri:
Biasanya menunjukkan keadaan atau gerakan yang tidak memengaruhi sesuatu.
Contoh:
جَلَسَ (jalasa) – Dia duduk
نَامَ (nāma) – Dia tidur
ذَهَبَ (dhahaba) – Dia pergi
Kalimat sudah sempurna tanpa harus menyebutkan objek.

B. Fi’il Muta‘addī (الفِعْلُ الْمُتَعَدِّي)

Pengertian:
Fi’il yang memerlukan objek untuk menyempurnakan maknanya.

Ciri:
Tanpa objek, maknanya menjadi kurang jelas atau tidak lengkap.
Biasanya dapat diikuti oleh maf‘ūl bih langsung.
Contoh:
كَتَبَ رِسَالَةً (kataba risālah) – Dia menulis surat
أَكَلَ تُفَّاحَةً (akala tuffāhah) – Dia memakan apel

Untuk membedakan fi’il lāzim dan muta‘addī, coba tanyakan “apa?” setelah fi’il. Jika jawabannya masuk akal dan diperlukan, maka itu fi’il muta‘addī.

📌 Catatan Tambahan:
Beberapa fi’il bisa menjadi lāzim atau muta‘addī tergantung konteks dan struktur kalimat.
Contoh:
كَبُرَ (membesar) → lazim
كَبَّرَ (membesarkan) → muta‘addī

4. Pembagian Fi’il Berdasarkan Bentuk Aktif dan Pasifnya (تَصْنِيْفُ الفِعْلِ حَسَبَ الْمَبْنِي لَهُ)

Dalam bahasa Arab, fi’il dapat dibagi menjadi dua berdasarkan apakah pelaku (fā‘il) dari perbuatan disebut atau tidak. Ini berkaitan erat dengan konsep aktif (ma‘lūm) dan pasif (majhūl).

A. Fi’il Mabnī Lil Ma‘lūm (الفِعْلُ الْمَبْنِيُّ لِلْمَعْلُوم)

Pengertian:
Fi’il yang subjeknya (pelaku) disebut secara jelas atau diketahui. Ini adalah bentuk aktif, di mana pelaku melakukan tindakan terhadap objek.

Contoh:
كَتَبَ زَيْدٌ الدَّرْسَ (Zaid menulis pelajaran)
→ "Zaid" adalah pelaku yang diketahui dan disebut.

B. Fi’il Mabnī Lil Majhūl (الفِعْلُ الْمَبْنِيُّ لِلْمَجْهُول)

Pengertian:
Fi’il yang subjeknya tidak diketahui atau tidak disebut. Ini adalah bentuk pasif, di mana perhatian tertuju pada objek yang dikenai tindakan.

Perubahan Bentuk:
Pada fi’il māḍī, harakat huruf pertama diubah menjadi ḍammah, dan huruf sebelum terakhir diubah menjadi kasrah.
كَتَبَ → كُتِبَ (telah ditulis)

Pada fi’il muḍāri’, huruf pertama ḍammah, dan huruf sebelum terakhir fatḥah.
يَكْتُبُ → يُكْتَبُ (sedang ditulis)
Contoh:
كُتِبَ الدَّرْسُ (Pelajaran telah ditulis)
→ Tidak diketahui siapa yang menulisnya.

📌 Catatan Penting:
Dalam bentuk majhūl, objek dari bentuk aktif berubah menjadi na’ibul fā‘il (pengganti subjek) dan harus dalam keadaan marfū‘ (berharakat ḍammah).

Tidak semua fi’il dapat dibentuk menjadi majhūl, hanya fi’il muta‘addī (yang memiliki objek) yang dapat dijadikan bentuk pasif.

5. Pembagian Fi’il Berdasarkan Jumlah Hurufnya (تَصْنِيْفُ الفِعْلِ حَسَبَ عَدَدِ حُرُوفِهِ الأَصْلِيَّة)

Dalam ilmu ṣarf, fi’il diklasifikasikan menurut jumlah huruf asal (huruf asli – bukan tambahan) yang membentuk fi’il tersebut. Huruf-huruf asli ini menentukan jenis wazan (pola) fi’il dan cara penambahan huruf (ziyādah) dalam bentuk-bentuk lainnya.

A. Fi’il Mujarrad (الفِعْلُ الْمُجَرَّد)

Yaitu fi’il yang belum ditambahkan huruf apapun—hanya terdiri dari huruf-huruf asalnya saja.

1. Fi’il Tsulāthī Mujarrad (الفِعْل الثُّلاَثِي المُجَرَّد)

Terdiri dari tiga huruf asli.
Wazan dasar: فَعَلَ

Contoh:
نَصَرَ (menolong)
ضَرَبَ (memukul)
فَتَحَ (membuka)

2. Fi’il Rubā‘ī Mujarrad (الفِعْل الرُّبَاعِي المُجَرَّد)

Terdiri dari empat huruf asli, tanpa tambahan.
Wazan dasar: فَعْلَلَ

Contoh:
دَحْرَجَ (menggelindingkan)
زَلْزَلَ (mengguncang)

B. Fi’il Mazīd (الفِعْلُ الْمَزِيد)

Yaitu fi’il yang telah ditambahkan satu atau lebih huruf pada bentuk dasar (mujarrad). Tambahan ini bisa di awal, tengah, atau akhir.

Contoh dan Jenisnya:
- Mazīd bi Ḥarf (ditambah 1 huruf):
أَكْرَمَ ← dari كَرُمَ (mulia)
Ziyādah: huruf hamzah di awal

- Mazīd bi Ḥarfayn (ditambah 2 huruf):
تَقَدَّمَ ← dari قَدَمَ (maju)
Ziyādah: taʼ dan taṣhdīd

- Mazīd bi Thalāthah Ḥurūf (ditambah 3 huruf):
إِسْتَغْفَرَ ← dari غَفَرَ (mengampuni)
Ziyādah: alif, sīn, dan tāʼ

📌 Catatan Tambahan:

Penambahan huruf pada fi’il mazīd berfungsi untuk menambah makna, seperti:
- ta‘diyah (membuat fi’il menjadi muta‘addī): أَكْرَمَ (memuliakan)
- istif‘āl (meminta sesuatu): إِسْتَغْفَرَ (meminta ampun)
- tafā‘ul (saling): تَقَاتَلَ (saling membunuh)

Kaidah I'Lal (القواعد الإعلالية)



Deskripsi Mata Kuliah:

Mata kuliah Kaidah I‘lal merupakan salah satu cabang penting dalam ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab) yang membahas perubahan bentuk kata akibat keberadaan huruf illat (huruf 'aib). Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep dasar i‘lal, mengenali huruf-huruf illat, serta menerapkan kaidah-kaidah perubahan kata dalam berbagai bentuk fi‘il secara tepat. Penguasaan terhadap kaidah i‘lal sangat penting untuk memahami struktur kata dalam Al-Qur’an, hadis, dan literatur Arab klasik maupun modern.

Materi Pembelajaran dan Uraiannya:

1. Pengertian I‘lal

Secara bahasa, i‘lal (الإعلال) berasal dari kata ‘alla–yu‘illu (أعلّ – يعلّ) yang berarti melemahkan atau menyebabkan cacat. Dalam ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab), i‘lal berarti perubahan bentuk suatu kata akibat keberadaan huruf illat (huruf lemah).

Huruf illat sering menyebabkan perubahan dalam kata karena sifatnya yang tidak stabil dalam bentuk-bentuk konjugasi atau turunan kata. Oleh karena itu, perlu kaidah khusus untuk menangani perubahan ini agar tetap sesuai dengan struktur bahasa Arab yang benar.

2. Huruf Illat

Huruf ‘illat adalah huruf-huruf yang dianggap “lemah” dalam sistem morfologi bahasa Arab, karena sering mengalami perubahan bentuk (seperti diganti, dihapus, atau digabung) ketika kata-kata mengalami infleksi atau derivasi.

Dalam bahasa Arab, terdapat tiga huruf illat, yaitu:

و (wāw)
ي (yā’)
ا (alif)

Huruf-huruf ini bersifat lemah dalam struktur fonetik bahasa Arab dan sering kali mengalami perubahan (dihapus, diganti, digabung, dll.) tergantung pada posisi dan bentuk kata.

Karakteristik Huruf Illat

a. Fonetik Lemah : 
Huruf-huruf ini memiliki bunyi yang lembut dan ringan, yang membuatnya mudah berubah jika berdekatan dengan huruf-huruf kuat atau jika struktur kata menuntut keseimbangan fonetik.

b. Peran dalam Kata : Huruf illat bisa menjadi bagian dari akar kata (fi’il tsulatsi), atau muncul dalam bentuk bentukan (masdar, isim, dll.). Mereka bisa berada di awal, tengah, atau akhir kata.

c. Sumber Perubahan (I‘lal) : Huruf-huruf ini sering menjadi penyebab adanya perubahan bentuk kata, seperti:
1. Penghilangan (ḥadhf)
2. Penggantian (ibdal atau qalb)
3. Penggabungan (idghām)

3. Macam-Macam I‘lal Berdasarkan Posisi Huruf Illat

Perubahan kata akibat i‘lal tergantung pada letak huruf illat dalam akar kata (fi'il). Terdapat empat kategori utama:

a. Mithāl (المثال)

Huruf illat berada di awal kata.
Contoh:
وَعَدَ (wa‘ada) → يَعِدُ (ya‘idu)
(Wau berubah atau dihapus dalam bentuk mudhari‘)

b. Ajwaf (الأجوف)

Huruf illat berada di tengah kata.
Contoh:
قَالَ (qāla) → يَقُولُ (yaqūlu)
بَاعَ (bā‘a) → يَبِيعُ (yabī‘u)
Huruf tengah bisa berubah menjadi alif, wau, atau ya’, tergantung harakat dan bentuk fi’il.

c. Naqis (الناقص)

Huruf illat berada di akhir kata.
Contoh:
رَمَى (ramā) → يَرْمِي (yarmī)
دَعَا (da‘ā) → يَدْعُو (yad‘ū)
Huruf terakhir bisa berubah atau dihilangkan dalam bentuk amr atau majzum.

d. Lafif (اللفيف)

Terdapat dua huruf illat dalam satu kata.
Lafif Maqrun: dua huruf illat berdampingan, misalnya: حَيِيَ (ḥayiya)
Lafif Mafruq: dua huruf illat dipisah oleh huruf lain, misalnya: وَقَيَ (waqaya)

Perbandingan Singkat:

Jenis I‘lal Posisi Huruf Illat Contoh Madhi Contoh Mudhari‘ Bentuk Perubahan
Mithāl Awal kata وَعَدَ يَعِدُ Penghilangan wau
Ajwaf Tengah kata قَالَ يَقُولُ Perubahan ke alif/wau/ya’
Nāqis Akhir kata رَمَى يَرْمِي Penghilangan ya’/wau
Lafīf Maqrun Dua huruf illat berurutan حَيِيَ يَحْيَى Gabungan/perubahan
Lafīf Mafrūq Dua huruf illat dipisah وَقَى يَقِي Perubahan ganda

Pembagian i‘lal berdasarkan posisi huruf illat sangat membantu dalam memahami pola perubahan kata dalam bahasa Arab. Masing-masing jenis memiliki kaidah khas dalam perubahan bentuk fi‘il (madhi, mudhāri‘, amar, masdar, dll). Dengan memahami klasifikasi ini, pelajar bahasa Arab dapat menganalisis bentuk kata dengan lebih tepat dan akurat.

4. Macam-Macam I‘lal Berdasarkan Jenis Perubahan

Berdasarkan jenis perubahan yang terjadi, i‘lal dibagi menjadi tiga bentuk utama:
1. I‘lal Bi Al-Hadzf (الإعلال بالحذف) – Perubahan dengan Penghilangan.
2. I‘lal Bi Al-Qalb (الإعلال بالقلب) – Perubahan dengan Penggantian.
3. I‘lal Bi Al-Naql (الإعلال بالنقل) – Perubahan dengan Pemindahan Harakat.

Dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. I‘lal Bi Al-Hadzf (الإعلال بالحذف)

Perubahan bentuk kata dengan menghilangkan huruf illat dari akar katanya.

Kapan Terjadi? Biasanya terjadi ketika kata:
1. Mengalami jazm (sukun karena fi‘il majzūm)
2. Dalam bentuk fi‘il amr
3. Dalam bentuk-bentuk yang menyebabkan bertemunya dua sukun

Contoh-Contoh:
a. Fi‘il Nāqis (Huruf illat di akhir)

رَمَى – يَرْمِي – ارْمِ
Fi‘il amr: huruf ya di akhir dihilangkan → ارْمِ

b. Fi‘il Majzum

لَمْ يَقُلْ (bukan يَقُولُ)
Huruf wau dihilangkan karena fi‘il mudhari‘ dimajzumkan (ada "lam")

2. I‘lal Bi Al-Qalb (الإعلال بالقلب)

Perubahan bentuk kata dengan mengganti huruf illat menjadi huruf lain (biasanya menjadi alif, wau, atau ya’) untuk menjaga keseimbangan bunyi atau mengikuti wazan (pola) tertentu.

Kapan Terjadi? Biasanya terjadi:
Pada fi‘il ajwaf (huruf illat di tengah)
Pada masdar atau bentuk isim lainnya

Contoh-Contoh:
a. Perubahan Wau/Ya’ menjadi Alif : قَوَلَ → قَالَ
Huruf wau diganti menjadi alif : بَيَعَ → بَاعَ

b. Perubahan di Masdar : قَالَ – قَوْلٌ
Di masdar, wau dikembalikan : بَاعَ – بَيْعٌ

3. I‘lal Bi Al-Naql (الإعلال بالنقل)

Perubahan bentuk kata dengan memindahkan harakat dari huruf illat ke huruf sebelumnya, kemudian huruf illat dihilangkan.

Kapan Terjadi? Biasanya terjadi:
1. Pada fi‘il yang mengandung huruf illat di akhir dan tidak bisa ditasykil secara normal.
2. Ketika terdapat dua huruf sukun bertemu, sehingga harakat dipindah ke sebelumnya dan huruf illat dihapus.

Contoh-Contoh:

a. Fi‘il seperti: قَضَى – يَقْضِي – اقْضِ

Dalam bentuk amr: اقْضِ
Harakat kasrah dipindahkan ke huruf sebelumnya, huruf ya dihilangkan

b. حَذَا – يَحْذُو – احْذُ

Bentuk amr: احْذُ → wau dihilangkan, ḍammah dipindah ke huruf sebelumnya

Memahami jenis-jenis i‘lal berdasarkan bentuk perubahan sangat penting dalam:
1. Menyusun kata kerja secara benar
2. Mengenali pola-pola dalam fi‘il tsulatsi mu‘tall (fi‘il tiga huruf yang mengandung huruf illat)
3. Menghindari kesalahan dalam konjugasi (tashrif) dan pemaknaan

Dengan menguasai ini, pelajar bahasa Arab akan lebih mudah menganalisis struktur kata dan menerjemahkan dengan tepat.

5. Kaidah-Kaidah Umum dalam I‘lal

Beberapa kaidah penting:
1. Huruf illat di awal fi‘il mudhari‘ bentuk majzum biasanya dihapus (contoh: ya‘id dari wa‘ada).
2. Huruf illat di tengah sering berubah menjadi alif dalam fi‘il madhi, dan wau atau ya’ dalam fi‘il mudhari‘, tergantung pada harakat sebelumnya.
3. Huruf illat di akhir sering dihilangkan dalam bentuk amr dan majzum.
4. Perubahan bisa berbeda antara madhi, mudhari‘, amar, dan masdar, sehingga penting untuk memahami keseluruhan sistem tashrifnya.

6. Penerapan I‘lal dalam Bentuk Fi‘il

Untuk setiap jenis kata kerja (fi‘il), perubahan i‘lal harus diterapkan sesuai kaidah:
Contoh:
Fi‘il Ajwaf – قَالَ
Madhi: قَالَ
Mudhari‘: يَقُولُ
Amar: قُلْ
Masdar: قَوْلٌ
Isim Fa’il: قَائِلٌ

Perhatikan bahwa perubahan terjadi sesuai posisi dan bentuk kata kerja.

Penutup

Ilmu i‘lal sangat penting dalam memahami keindahan dan kedalaman bahasa Arab. Kaidah-kaidahnya memungkinkan pembelajar untuk mengenali bentuk kata secara benar, terutama dalam membaca Al-Qur’an dan teks Arab klasik. Dengan penguasaan i‘lal, seseorang akan lebih mudah menguraikan bentuk-bentuk kata yang tampaknya berbeda, namun berasal dari akar kata yang sama.

Pembagian Isim dan Macam-Macamnya

Materi ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Morfologi Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Sabar Siswoyo, M.Pd
Pemateri : Kelompok 2
Anggota :
1. Abdul Mutawakkil, NIM. 23220023
2. Agis Sugiana, NIM. 023210069
3. Azzubair Juarsa, NIM. 023210073

DAFTAR ISI

1. Pembagian Isim Berdasarkan Makna dan Fungsi.
2. Pembagian Isim Berdasarkan Jenis Kelamin.
3. Pembagian Isim Berdasarkan Ketentuan 'I’rab.
4. Pembagian Isim Berdasarkan Ma’rifat dan Nakirah.
5. Pembagian Isim Berdasarkan Keberadaan Huruf 'Alif Lam'.
6. Pembagian Isim Berdasarkan Keberadaan Tanwin.
7. Pembagian Isim Berdasarkan Kemampuan Dirafa’kan.

BAB I
PENDAHULUAN

PENGERTIAN ISIM DALAM ILMU NAHWU

a. Definisi Isim menurut bahasa dan istilah:

Secara bahasa (لغويًا):
"Isim" berasal dari kata "السِّمَة" (as-simah) yang berarti tanda atau ciri. Dalam arti ini, isim berfungsi sebagai penanda makna.

Secara istilah (اصطلاحًا):
Dalam ilmu Nahwu, isim didefinisikan sebagai: "Kalimat (kata) yang menunjukkan pada suatu makna dan tidak terikat dengan waktu."

Artinya, isim itu menunjuk pada suatu benda, orang, tempat, konsep, atau hal tertentu, tanpa dikaitkan dengan masa seperti lampau, sekarang, atau akan datang.
Contoh: رَجُلٌ (seorang laki-laki), بَيْتٌ (rumah), عِلْمٌ (ilmu).

b. Ciri-ciri umum Isim:

Untuk mengenali sebuah kata sebagai isim, para ulama Nahwu memberikan beberapa tanda (alamat). Di antaranya:

1. Bisa menerima Alif Lam (ال):
Misal: كِتاب (buku) → الكتاب (buku itu).

2. Bisa diberi Tanwin (نُونَةٌ زَائِدَةٌ):
Yaitu bunyi "n" tambahan di akhir kata, seperti: رَجُلٌ (seorang laki-laki).

3. Bisa didahului oleh huruf jar (حرف جر):
Seperti: في البيتِ (di dalam rumah), "fi" diikuti oleh isim.

4. Bisa menerima tanda I'rab (perubahan akhir kata) karena kedudukan dalam kalimat:
Misalnya, perubahan harakat akhir karena menjadi subjek, objek, dll.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN JUMLAH DAN MAKNANYA

Dalam ilmu nahwu, isim dibagi berdasarkan jumlah dan maknanya menjadi beberapa bagian:

A. ISIM MUFRAD (الإسم المفرد)

Isim mufrad adalah kata benda yang menunjukkan satu benda, orang, tempat, atau hal lainnya. → Artinya, kata itu hanya menunjuk satu tanpa memperhitungkan jumlah lebih dari satu.

Contoh:
رَجُلٌ (seorang laki-laki)
كِتَابٌ (sebuah buku)
طَالِبٌ (seorang murid)

B. ISIM MUTSANNA (الإسم المثنى)

Isim mutsanna adalah kata benda yang menunjukkan dua benda, orang, atau tempat.
→ Biasanya dibentuk dengan menambahkan -انِ (-ani) atau -يْنِ (-ayni) di akhir kata.

Contoh:
رَجُلَانِ (dua orang laki-laki)
كِتَابَانِ (dua buah buku)
طَالِبَيْنِ (dua orang murid — dalam posisi majrur atau manshub)

C. ISIM JAMAK (الإسم الجمع)

Definisi:
Isim jamak adalah kata benda yang menunjukkan lebih dari dua (tiga atau lebih) benda, orang, tempat, atau hal.

Isim jamak terbagi lagi menjadi tiga:

1) Jamak Taksir (جمع التكسير)

Jamak taksir adalah jamak yang bentuk kata dasarnya berubah saat dijamakkan.

Ciri-ciri:
Tidak ada pola tambahan khusus, bentuk katanya berubah.
Contoh:
رَجُلٌ → رِجَالٌ (laki-laki → para laki-laki)
كِتَابٌ → كُتُبٌ (buku → buku-buku)

2) Jamak Mudzakkar Salim (جمع مذكر سالم)

Jamak mudzakkar salim adalah jamak untuk laki-laki yang dibentuk dengan menambahkan وْنَ (-uuna) saat marfu’ atau يْنَ (-iina) saat manshub dan majrur, tanpa mengubah bentuk dasar isim.

Contoh:
مُسْلِمٌ → مُسْلِمُوْنَ (seorang muslim → para muslim)
مُعَلِّمٌ → مُعَلِّمِينَ (guru → para guru — dalam posisi majrur/manshub)

3) Jamak Muannats Salim (جمع مؤنث سالم)

Jamak muannats salim adalah jamak untuk perempuan dengan menambahkan ـاتٌ (-aatun) atau ـاتٍ (-aatin) di akhir isim muannats.

Contoh:
طَالِبَةٌ → طَالِبَاتٌ (mahasiswi → para mahasiswi)
مُعَلِّمَةٌ → مُعَلِّمَاتٍ (guru perempuan → para guru perempuan — dalam posisi majrur)

2.2. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN JENIS KELAMIN

Dalam ilmu Nahwu, isim juga dibagi berdasarkan jenis kelamin menjadi mudzakkar (maskulin) dan muannats (feminin).

A. ISIM MUDZAKKAR (الاسم المذكر)

Isim mudzakkar adalah kata benda yang menunjukkan laki-laki atau sesuatu yang diperlakukan sebagai laki-laki dalam tata bahasa Arab.

Contoh:
رَجُلٌ (laki-laki)
غُلامٌ (anak laki-laki)
قَلَمٌ (pena — diperlakukan mudzakkar)

Catatan:
Tidak harus manusia; benda pun bisa disebut mudzakkar jika gramatikalnya dianggap laki-laki.

B. ISIM MUANNATS (الاسم المؤنث)

Isim muannats adalah kata benda yang menunjukkan perempuan atau sesuatu yang diperlakukan sebagai perempuan dalam tata bahasa Arab.

Ciri-ciri isim muannats:
1. Berakhiran tā’ marbūṭah (ة) di akhir kata.
2. Kadang tanpa tanda khusus tetapi diketahui dari maknanya.

Contoh:
مَرْأَةٌ (perempuan)
طَالِبَةٌ (mahasiswi)

Isim Muannats terbagi lagi menjadi dua:

1). Muannats Haqiqi (المؤنث الحقيقي) 

Muannats haqiqi adalah isim muannats yang menunjukkan makhluk hidup betul-betul perempuan.

Contoh:
فَاطِمَةُ (Fatimah)
أُمٌّ (ibu)
نَاقَةٌ (unta betina)

2). Muannats Majazi (المؤنث المجازي)

Muannats majazi adalah isim muannats yang menunjukkan benda mati atau konsep yang dianggap feminin secara tata bahasa, bukan betulan perempuan.

Contoh:
شَمْسٌ (matahari)
سَيَّارَةٌ (mobil)
دَارٌ (rumah)

Catatan:
Meskipun benda-benda ini tidak berjenis kelamin, dalam bahasa Arab mereka dianggap muannats.

2.3. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN KETENTUAN 'I’RAB

Dalam ilmu Nahwu, 'i’rab merujuk pada perubahan atau pergeseran harakat (tanda baca) pada kata dalam kalimat, yang biasanya dipengaruhi oleh peran atau posisi kata tersebut dalam kalimat. Isim, sebagai salah satu jenis kata dalam bahasa Arab, dibagi menjadi dua kategori berdasarkan ketentuan 'i’rab: Isim Mu’rab dan Isim Mabni.

A. ISIM MU’RAB (الإسم المعرب)

Isim mu’rab adalah isim yang mengalami perubahan harakat pada akhir kata sesuai dengan kedudukan dan fungsi gramatikalnya dalam kalimat.
Perubahan harakat ini terjadi karena posisi kata tersebut dalam kalimat, apakah menjadi subjek (raf‘), objek (nasb), atau terpengaruh oleh huruf jar (majrur).

Ciri-ciri:
1. Mengalami perubahan pada akhir kata, tergantung peran sintaksisnya dalam kalimat.
2. Memiliki tiga macam harakat utama:
a. Raf‘ (رفع): Harakat dhammah (contoh: رَجُلٌ - laki-laki).
b. Nasb (نصب): Harakat fathah (contoh: رَجُلًا - seorang laki-laki).
c. Jarr (جر): Harakat kasrah (contoh: رَجُلٍ - laki-laki, setelah huruf jar).

Contoh:
رَجُلٌ (laki-laki - subjek/raf‘)
رَجُلًا (seorang laki-laki - objek/nasb)
رَجُلٍ (laki-laki - setelah huruf jar/majrur)

B. ISIM MABNI (الإسم المبني)

Isim mabni adalah isim yang tidak mengalami perubahan harakat pada akhir kata, meskipun posisi kata tersebut dalam kalimat berubah. Artinya, kata ini tetap pada satu harakat tanpa terpengaruh oleh kedudukan dalam kalimat.

Ciri-ciri:
1. Tidak berubah harakat pada akhir kata meskipun fungsi sintaksisnya berubah.
2. Biasanya berbentuk tetap dan lebih sedikit jenisnya dibandingkan isim mu’rab.
3. Tergolong dalam kategori ini adalah isim-isim yang sudah jelas fungsinya dan tidak mengikuti aturan 'i’rab.

Contoh:
ال (artikel definitif, alif lam)
→ الْبَيْتُ (rumah itu)
هَذَا (ini - untuk benda dekat)
→ هَذَا رَجُلٌ (ini seorang laki-laki)
تِلْكَ (itu - untuk benda jauh)
→ تِلْكَ شَجَرَةٌ (itu pohon)

2.4. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN MA’RIFAT DAN NAKIRAH

Dalam bahasa Arab, ma’rifat dan nakirah merujuk pada status kepemilikan atau tingkat kejelasan suatu isim dalam kalimat. Pemahaman mengenai ma’rifat dan nakirah penting dalam menganalisis peran isim dalam kalimat.

A. DEFINISI MA’RIFAT DAN NAKIRAH

1. Ma’rifat (المعرفة)

Ma’rifat adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui atau pasti. Isim ma’rifat biasanya menunjukkan objek atau hal yang jelas dan spesifik. Isim ini bisa merujuk pada orang, benda, atau hal yang sudah dikenal atau ditentukan dalam konteks tertentu.

Contoh:
الكتاب (buku itu - karena ada alif lam yang menunjukkan bahwa itu sudah jelas).
الرجل (laki-laki itu - menunjukkan laki-laki yang sudah dikenal).

2. Nakirah (النكرة)

Nakirah adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang umum atau tidak spesifik. Isim ini merujuk pada benda atau hal yang tidak pasti, tidak diketahui dengan jelas, atau hanya mengacu pada jenis atau kategori secara umum.

Contoh:
كتابٌ (sebuah buku - tidak spesifik, hanya buku secara umum).
رجلٌ (seorang laki-laki - tidak spesifik, bisa siapa saja).

B. JENIS-JENIS ISIM MA’RIFAT

Berikut adalah jenis-jenis isim yang termasuk dalam kategori ma’rifat:

1. Isim Dhomir (الضمير)

Isim dhomir adalah kata ganti yang digunakan untuk menggantikan isim lain, baik itu orang, benda, atau hal yang telah disebutkan sebelumnya.

Ciri-ciri:
Dhomir selalu jelas merujuk pada suatu pihak yang sudah dikenal dalam konteks kalimat.

Contoh:
هو (dia - untuk laki-laki)
هي (dia - untuk perempuan)
هما (keduanya)

2. Isim ‘alam (الإسم العلم)

Isim 'alam adalah nama diri atau nama khusus yang merujuk pada individu, tempat, atau entitas tertentu yang sudah dikenal.

Ciri-ciri:
Isim 'alam selalu menunjukkan entitas yang sudah pasti atau dikenal.

Contoh:
محمد (Muhammad)
مكة (Mekkah)
نهر النيل (Sungai Nil)

3. Isim Isyarah (الإسم الإشارة)

Isim isyarah adalah isim yang digunakan untuk menunjukkan benda atau hal tertentu dengan menggunakan kata tunjuk.

Ciri-ciri:
Biasanya digunakan untuk menunjuk sesuatu yang sudah jelas dalam konteks percakapan.

Contoh:
هذا (ini - untuk benda dekat)
تلك (itu - untuk benda jauh)

4. Isim Maushul (الإسم الموصول)

Isim maushul adalah isim yang digunakan untuk menghubungkan kalimat atau bagian kalimat, seperti kata yang digunakan untuk menyambungkan atau memperkenalkan klausa relatif.

Contoh:
الذي (yang - untuk laki-laki)
التي (yang - untuk perempuan)
اللذان (yang keduanya - untuk dua laki-laki)

5. Isim Yang Disandarkan Kepada Ma’rifat (الإسم المنسوب إلى المعرفة)

Isim yang disandarkan kepada ma’rifat adalah isim yang dalam posisinya bergantung pada isim ma’rifat lainnya, baik karena kata yang mengikutinya atau karena konteks yang sudah ditentukan.

Contoh:
البيت الكبير (rumah besar itu)
الكتاب الذي قرأته (buku yang aku baca - karena ada kata yang mengarah ke ma’rifat sebelumnya)

6. Al-Ma’ruf Bil Alif Wal Lam (المعرف بالـ ألف واللام)

Al-Ma’ruf bil Alif wal Lam adalah isim ma’rifat yang memiliki alif lam di depan kata, yang berfungsi untuk menunjukkan kepastian atau penentuan yang jelas.

Ciri-ciri:
Isim yang menggunakan alif lam di depan kata selalu dianggap ma’rifat karena menunjukkan sesuatu yang pasti atau sudah dikenal.

Contoh:
السماء (langit)
الطاولة (meja)
المدرسة (sekolah)

2.5. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN KEBERADAAN HURUF 'ALIF LAM'

Dalam bahasa Arab, penggunaan alif lam (ال) berfungsi sebagai penanda untuk membedakan antara isim ma'rifah dan isim nakirah. Alif lam memberi penanda yang jelas bahwa suatu kata adalah ma'rifah, yang berarti sesuatu yang sudah dikenal atau pasti, sementara tanpa alif lam menunjukkan bahwa isim tersebut adalah nakirah, yang berarti sesuatu yang tidak spesifik atau umum.

A. ISIM NAKIRAH (اسم نكرة)

Isim nakirah adalah isim yang tidak menggunakan alif lam dan menunjukkan sesuatu yang umum atau tidak spesifik. Biasanya, isim nakirah merujuk pada benda, orang, atau hal yang belum dikenal atau yang sifatnya umum.

Ciri-ciri:
1. Tidak ada penggunaan alif lam (ال) di depan kata.
2. Menunjukkan sesuatu yang tidak jelas atau tidak dikenal dalam konteks kalimat.
3. Biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata sebuah atau seorang.

Contoh:
كتابٌ (sebuah buku)
رَجُلٌ (seorang laki-laki)
قَلَمٌ (sebuah pena)
شَجَرَةٌ (sebuah pohon)
دَرَجَةٌ (sebuah tingkat)

Semua contoh di atas tidak merujuk pada benda atau orang tertentu, melainkan pada kategori atau jenis benda secara umum.

B. ISIM MA’RIFAH (اسم معرفة)

Isim ma’rifah adalah isim yang menggunakan alif lam (ال) atau bentuk ma'rifah lainnya yang menunjukkan bahwa benda atau hal yang dimaksud sudah dikenal atau pasti, baik itu sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya atau sesuatu yang spesifik.

Ciri-ciri:
1. Menggunakan alif lam di depan kata (ال).
2. Bisa merujuk pada orang, benda, atau hal tertentu yang sudah diketahui atau spesifik.
3. Bisa juga berupa bentuk lainnya seperti isim dhomir (kata ganti) dan isim ‘alam (nama diri).

Contoh:
الكتاب (buku itu - menunjukkan buku yang sudah dikenal)
الرجل (laki-laki itu)
الشجرة (pohon itu)
المدينة (kota itu)
السماء (langit - sebagai objek yang dikenal dengan pasti)

Isim ma'rifah dengan alif lam menunjukkan bahwa objek atau hal yang dimaksud sudah pasti dan dikenali oleh pembicara dan pendengar. Biasanya, alif lam digunakan untuk mengacu pada benda atau orang yang sudah disebutkan sebelumnya dalam percakapan atau yang sudah jelas dalam konteksnya.

2.6. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN KEBERADAAN TANWIN

Tanwin adalah harakat tambahan yang berupa dua tanda fathah, kasrah, atau dhammah di akhir sebuah kata. Tanwin digunakan untuk menandakan bahwa isim tersebut merupakan isim nakirah (tidak spesifik atau umum). Berdasarkan keberadaan tanwin ini, isim dibagi menjadi dua jenis utama: Isim Munawwan (bertanwin) dan Isim Ghairu Munawwan (tidak bertanwin).

A. ISIM MUNAWWAN (الإسم المنوّن)

Isim munawwan adalah isim yang diakhiri dengan tanwin, yaitu dua harakat yang menunjukkan bahwa isim tersebut adalah isim nakirah (umum atau tidak spesifik). Tanwin bisa berupa dhammah, fathah, atau kasrah, tergantung pada fungsi sintaksisnya dalam kalimat.

Ciri-ciri:
1. Menggunakan tanwin (doubled harakat) pada akhir kata.
2. Tanwin ini menandakan bahwa isim tersebut tidak spesifik dan bersifat umum atau tak tentu.
3. Digunakan untuk menggambarkan benda, orang, atau hal yang belum dikenal secara jelas dalam kalimat atau konteks.

Contoh:
كتابٌ (sebuah buku)
رَجُلٌ (seorang laki-laki)
شَجَرَةٌ (sebuah pohon)
قَلَمٌ (sebuah pena)

Semua contoh di atas menunjukkan kata yang tidak merujuk pada benda atau orang yang sudah jelas atau spesifik, melainkan pada jenis atau kategori benda yang umum.

B. ISIM GHAIRU MUNAWWAN (الإسم غير المنوّن)

Isim ghairu munawwan adalah isim yang tidak memiliki tanwin di akhir kata, yang biasanya menandakan bahwa isim tersebut merupakan isim ma'rifah atau isim yang spesifik dan sudah dikenal. Isim ini bisa berfungsi sebagai subjek, objek, atau bagian lain dalam kalimat, dan sering kali memiliki makna yang lebih pasti atau jelas.

Ciri-ciri:
1. Tidak ada tanwin di akhir kata.
2. Biasanya menunjukkan objek atau hal yang spesifik, pasti, atau sudah dikenal oleh pembicara dan pendengar.
3. Bisa merupakan isim ma'rifah (dengan alif lam) atau bentuk lainnya seperti isim dhomir (kata ganti).

Contoh:
الكتاب (buku itu - dengan alif lam menunjukkan spesifik)
الرجل (laki-laki itu)
الشجرة (pohon itu)
المدرسة (sekolah itu)
هو (dia - kata ganti)

Isim ghairu munawwan merujuk pada hal-hal yang sudah dikenali, baik karena alif lam yang digunakan pada isim ma'rifah atau karena penggunaan kata ganti yang sudah jelas.

2.7. PEMBAGIAN ISIM BERDASARKAN KEMAMPUAN DIRAFA’KAN

Dalam ilmu nahwu, suatu isim dapat memiliki kemampuan untuk berada pada posisi tertentu dalam kalimat, tergantung pada fungsi sintaksisnya. Salah satu aspek penting adalah apakah isim tersebut dapat dirafa’kan (diberi tanda fathah pada akhir kata). Pembagian ini berdasarkan kemampuannya untuk menjadi Mubtada’, Fa’il, Maf’ul, atau Mudhaf Ilaih.

A. ISIM YANG DAPAT MENJADI MUBTADA’ DAN FA’IL

Isim yang dapat menjadi Mubtada’ (subjek) dan Fa’il (pelaku) adalah isim yang bisa berdiri sebagai subjek dalam kalimat nominal (kalimat yang dimulai dengan isim) maupun sebagai pelaku dalam kalimat verbal (kalimat yang dimulai dengan fi'il). Isim yang dapat dirafa'kan ini sering disebut sebagai isim yang dapat diposisikan di awal kalimat (Mubtada') atau di posisi setelah fi'il (Fa'il).

Ciri-ciri:
1. Isim yang dapat berada dalam posisi Mubtada’ (subjek) dan Fa’il (pelaku), biasanya memiliki fungsi sebagai subjek yang dikenalkan terlebih dahulu atau sebagai pelaku yang melakukan suatu tindakan.
2. Isim jenis ini bisa berupa isim ma'rifah (dikenal dengan pasti) atau isim nakirah (umum) tergantung pada konteksnya.

Contoh dalam Kalimat:

Mubtada' (Subjek):
الكتاب مفيدٌ (Buku itu bermanfaat)
الكتاب adalah mubtada', yang berada di awal kalimat dan menunjukkan subjek dari kalimat.

Fa'il (Pelaku):
الولد يكتبُ الدرس (Anak laki-laki itu menulis pelajaran)
الولد adalah fa'il, yang bertindak sebagai pelaku yang melakukan perbuatan menulis.

B. ISIM YANG HANYA MENJADI MAF'UL ATAU MUDHAF ILAIH

Isim yang hanya dapat menjadi Maf’ul (objek) atau Mudhaf Ilaih (kata yang disandarkan kepada) adalah isim yang tidak bisa menjadi Mubtada’ atau Fa’il, tetapi bisa diposisikan sebagai objek dalam kalimat atau menjadi kata yang disandarkan pada kata lain (mudhaf ilaih).

Ciri-ciri:
1. Isim jenis ini tidak dapat berada di posisi Mubtada’ atau Fa'il. Biasanya, isim ini berfungsi untuk menerima aksi atau menjadi pelengkap dalam kalimat.
2. Isim-isim ini sering ditemukan dalam posisi maf’ul (objek) atau mudhaf ilaih (kata yang disandarkan kepada).

Contoh dalam Kalimat:

Maf'ul (Objek):
رأيتُ الكتابَ (Saya melihat buku itu)
الكتابَ adalah maf’ul, yang menerima aksi dari kata kerja "melihat".

Mudhaf Ilaih (Disandarkan):
بيتُ محمدٍ (Rumah Muhammad)
محمدٍ adalah mudhaf ilaih yang disandarkan kepada بيت (rumah).

BAB III
KESIMPULAN

Isim dalam ilmu nahwu adalah kata benda atau kata yang menunjukkan makna tanpa terikat waktu, seperti nama orang, benda, tempat, atau sifat. Isim memiliki karakteristik khusus dan dalam penggunaannya, isim diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori berdasarkan berbagai aspek, di antaranya:

1. Pembagian Berdasarkan Makna dan Fungsi:
Isim dibagi menjadi isim mufrad (tunggal), isim mutsanna (dua), dan isim jamak (banyak), dengan ragam bentuk jamak seperti jamak taksir, jamak mudzakkar salim, dan jamak muannats salim.

2. Pembagian Berdasarkan Jenis Kelamin:
Isim dibedakan menjadi isim mudzakkar (laki-laki/maskulin) dan isim muannats (perempuan/feminin), yang dalam muannats sendiri ada muannats haqiqi (perempuan sungguhan) dan muannats majazi (secara makna dianggap perempuan).

3. Pembagian Berdasarkan Ketentuan 'I’rab:
Isim diklasifikasikan berdasarkan perubahan akhirnya, yaitu mu’rab (bisa berubah bentuk i'rabnya) dan mabni (tetap bentuk akhirnya).

4. Pembagian Berdasarkan Ma’rifat dan Nakirah:
Isim terbagi menjadi isim ma’rifat (dikenal/spesifik) dan isim nakirah (umum/tidak spesifik), dengan beberapa jenis ma’rifat seperti isim dhomir, ‘alam, isyarah, maushul, dan lain-lain.

5. Pembagian Berdasarkan Keberadaan Huruf 'Alif Lam':
Isim dengan alif lam menjadi ma’rifat, sedangkan tanpa alif lam menjadi nakirah, yang mempengaruhi kejelasan makna kata tersebut.

6. Pembagian Berdasarkan Keberadaan Tanwin:
Isim munawwan (yang bertanwin) menunjukkan ketidakspesifikan (nakirah), sedangkan isim ghairu munawwan (yang tidak bertanwin) umumnya menunjukkan spesifikasi (ma’rifat).

7. Pembagian Berdasarkan Kemampuan Dirafa’kan:
Sebagian isim dapat berfungsi sebagai mubtada’ (subjek) dan fa’il (pelaku), sementara sebagian lain hanya dapat berfungsi sebagai maf’ul (objek) atau mudhaf ilaih (yang disandarkan kepada).

Dengan memahami berbagai pembagian isim ini, kita dapat lebih mudah memahami struktur kalimat dalam bahasa Arab, serta menentukan posisi dan peran kata dalam susunan nahwu dengan lebih tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Az-Zajjaji, Al-Jumal fi an-Nahw, hal. 12-14.
Al-Imam An-Nahwi, Matan Al-Ajurumiyyah.
Muhammad bin Salih Al-Utsaimin, Syarah Al-Ajurumiyyah.
Ibn Malik, Alfiyyat Ibn Malik
Az-Zamakhsyari, Al-Mufassal fi Ilm an-Nahw, Bab Al-Ism.
Ibnu 'Aqil, Syarh Ibn 'Aqil 'ala Alfiyyat Ibn Malik.

Sabtu, 12 April 2025

Mata Kuliah 26 : Morfologi Bahasa Arab

 Semester : VII / 2025

Mata Kuliah : MORFOLOGI BAHASA ARAB
Prodi : Sastra Bahasa Arab
Dosen Pengampu : SABAR SISWOYO, M.Pd
______________________________________

A. DESKRIPSI MATA KULIAH:

Mata kuliah Morfologi Bahasa Arab (Ilmu Sharaf) membahas tentang struktur dan perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab, baik isim maupun fi’il. Mata kuliah ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman teoretis dan praktis terkait kaidah-kaidah pembentukan kata, perubahan bentuk (tashrif), serta analisis unsur morfologis seperti masdar, musytaqat, i‘lal, idgham, dan lainnya. Dengan mempelajari morfologi, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk kata, memahami makna berdasarkan perubahan morfologisnya, serta menerapkannya secara tepat dalam membaca, menulis, dan memahami teks-teks berbahasa Arab.

B. MATERI PEMBELAJARAN/POKOK BAHASAN

Pokok bahasan dalam mata kuliah ini mencakup: 
1. Sharf dan Tashrif; Membahas pengertian ilmu sharf secara umum dan penerapannya dalam bentuk tashrif. Mahasiswa dikenalkan pada konsep perubahan bentuk kata kerja dan kata benda dalam bahasa Arab sesuai dengan kaidah morfologi.
2. Pembagian Fi’il dan Macam-Macamnya; Mengulas jenis-jenis fi’il (madhi, mudhari’, amar), pembagian fi’il berdasarkan bilangan, waktu, dan keaktifan, serta ciri-ciri dan contoh penggunaannya dalam struktur kalimat.
3. Pembagian Isim dan Macam-Macamnya; Menjelaskan klasifikasi isim berdasarkan jumlah, jenis kelamin, ma’rifat-nakirah, i’rab, dan tanwin. Mahasiswa diajak memahami perbedaan fungsi dan penggunaannya dalam kalimat Arab.
4. Masdar dan Al-Musytaqat; Membedah bentuk dasar dari fi’il (masdar) dan berbagai bentuk turunannya (musytaqat) seperti isim fa’il, isim maf’ul, dan shighat mubalaghah. Materi ini membantu mahasiswa memahami pembentukan makna dan fungsi kata.
5. Tashrif Lughawi dan Nun Taukid; Mengkaji bentuk perubahan fi’il secara lughawi (bahasa) serta penggunaan Nun Taukid dalam penguatan makna kalimat. Termasuk analisis bentuk-bentuk fi’il dengan tambahan nun dan dampaknya terhadap i’rab.
6. Kaidah I‘lal; Fokus pada perubahan bentuk kata akibat keberadaan huruf illat (wawu, ya’, alif). Mahasiswa mempelajari jenis-jenis I‘lal dan penerapannya dalam kata kerja mu’tal (kata kerja yang mengandung huruf illat).
7. Kaidah Idgham; Menjelaskan proses peleburan huruf dalam kata (idgham) yang menyebabkan perubahan fonologis dan bentuk tulisan. Materi ini mendukung pemahaman terhadap kaidah pembentukan kata dan pelafalan.

C. AGENDA KEGIATAN

⏰ Pertemuan Ke-1 :
Hari : Ahad
Tanggal : 13 April 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Sharf Dan Tashrif
Materi Pembelajaran :
1. Pengertian Sharaf
2. Perubahan Bentuk Kata (Tashrif Al-Kalimah)
3. Bentuk-Bentuk (Shighah) Kalimah
4. Wazan dan Mawzun
Pemateri : Dosen Pengampu
Download Materi :

⏰ Pertemuan Ke-2 :
Hari : Ahad
Tanggal : 20 April 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Pembagian Fi'il Dan Macam-Macamnya
Materi Pembelajaran :
1. Pembagian Fi’il Berdasarkan Waktu Kejadiannya
2. Pembagian Fi’il Berdasarkan Jenis Hurufnya
3. Pembagian Fi’il Berdasarkan Ma’mul-nya
4. Pembagian Fi’il Berdasarkan Bentuk Aktif dan Pasifnya
5. Pembagian Fi’il Berdasarkan Jumlah Hurufnya
Pemateri : Kelompok 1
Anggota :
1. Neng Hindi Hadiyani, NIM. 023210083
2. Sherly Febriana, NIM. 23220034
3. Priti Swardani, NIM. 23220031
Download Materi :
Blog :
https://kalam-angkatan5.blogspot.com/2025/04/pembagian-fiil-dan-macam-macamnya.html

Pertemuan Ke-3 :
Hari : Ahad
Tanggal : 27 April 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Pembagian Isim Dan Macam-Macamnya
Materi Pembelajaran :
1. Pembagian Isim Berdasarkan Makna dan Fungsi
2. Pembagian Isim Berdasarkan Jenis Kelamin
3. Pembagian Isim Berdasarkan Ketentuan 'I’rab
4. Pembagian Isim Berdasarkan Ma’rifat dan Nakirah
5. Pembagian Isim Berdasarkan Keberadaan Huruf 'Alif Lam'
6. Pembagian Isim Berdasarkan Keberadaan Tanwin
7. Pembagian Isim Berdasarkan Kemampuan Dirafa’kan
Pemateri : Kelompok 2
Anggota :
1. Abdul Mutawakkil, NIM. 23220023
2. Agis Sugiana, NIM. 023210069
3. Azzubair Juarsa, NIM. 023210073
Download Materi :
Blog :
https://kalam-angkatan5.blogspot.com/2025/04/pembagian-isim-dan-macam-macamnya.html

⏰ Pertemuan Ke-4 :
Hari : Ahad
Tanggal : 4 Mei 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Masdar Dan Musytaqat
Materi Pembelajaran :
1. Masdar
2. Al-Musytaqat
3. Perbedaan Antara Masdar dan Musytaqat
Pemateri : Kelompok 3
Anggota :
1. Azka Hasanah, NIM. 023210072
2. Siti Fauziatis Sakinah, NIM. 023210088
3. Dina Zahernanda, NIM. 023210075
Download Materi :
Blog :
-

⏰ Pertemuan Ke-5 :
Hari : Ahad
Tanggal : 11 Mei 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Tasyrif Lughawiy Dan Nun Taukid
Materi Pembelajaran :
1. Tashrif Lughawi
2. Nun Taukid
3. Perubahan Bentuk Fi’il karena Nun Taukid.
4. Perbandingan Tashrif Lughawi dan Tashrif Istilahi
Pemateri : Kelompok 4
Anggota :
1. Yopi Son Haji, NIM. 023210093
2. Kusnadi, NIM. 23220027
3. Prasetyo, NIM. 23220030
Download Materi :
Blog :

⏰ Pertemuan Ke-6 :
Hari : Ahad
Tanggal : 18 Mei 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Kaidah I'lal 
Materi Pembelajaran :
1. Pengantar Kaidah I‘lal
2. Huruf Illat
3. Macam-Macam I‘lal Berdasarkan Posisi Huruf Illat
4. Macam-Macam I‘lal Berdasarkan Jenis Perubahan
5. Kaidah-Kaidah Umum dalam I‘lal
6. Penerapan I‘lal dalam Bentuk Fi’il
Pemateri : Kelompok 5
Anggota :
1. Binty Sholikhah, NIM. 023210074
2. Mayangsari, NIM. 23220028
3. Tantri Rahmi Apadu, NIM. 023210089
4. Arlin Yuanita, NIM : 023220040
5. Khairiyatussyarifah, NIM.023220043
6. Annidatus Syahidah, NIM.023220039
Download Materi :
Blog :

⏰ Pertemuan Ke-7 :
Hari : Ahad
Tanggal : 25 Mei 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Kaidah Idgham dalam Ilmu Sharaf
Materi Pembelajaran :
1. Pengertian Idgham secara bahasa dan istilah
2. Perbedaan Idgham dalam ilmu tajwid dan ilmu sharaf
3. Syarat-syarat terjadinya Idgham dalam sharaf
4. Macam-macam Idgham:
5. Contoh-contoh penerapan Idgham dalam fi’il dan isim
6. Perbedaan bentuk Idgham dan bukan Idgham
Pemateri : Kelompok 6
Anggota :
1. Willy Rahman, NIM. 023210092
2. Bagus Herlianto, NIM. 23220024
3. Fandi Aldiansyah, NIM. 23220026
Download Materi :
Blog :
-

⏰ Pertemuan Ke-8 :
Hari : Ahad
Tanggal : 1 Juni 2025
Waktu : Jam 16.00 - 17.30 WIB
Judul : Ujian Mata Kuliah
Pemateri : Semua Mahasiswa/wi

D. REFERENSI BUKU

Judul : Ilmu Sharaf Morfologi Bahasa Arab
Penulis : Hafidah
Cetakan 1 Oktober 2014
Penerbit : FATABA Press. 2014
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Bahasa IAIN Surakarta
Jl. Pandawa Pucangan, Kartasura – Sukoharjo
Tlp. (0271) 781516 Fax (0271) 782774
www.fataba.iain-surakarta.ac.id
Email: fataba_press@yahoo.ac.id
_______________________________________