Jumat, 14 Juni 2024

Hakikat Ilmu Dalam Al-Quran

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muh. Ihsanuddin, M. Phil
Disusun Oleh Kelompok 2 Angkatan 5:
1. Futty Nayu Soka Kemala (PAI)
2. Nida Labibah (PAI)
3. Putri Khairunissa (PAI)
4. Yuni Heri Suciasih (PAI)

KATA PENGANTAR

بسم لله الرحمن الرحيم

إنّ الحمد لله، نحمده م نستعينه و نستغفره، و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، و من يضْللْ فلا هادي له، و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، و أشهد أن محمّدا عبده و رسوله.

يا أيّها الذين ءامنوا اتّقوا الله حقَّ تقاته و لا تموتون إلا و أنتم مسلمون. يا أيّها النّاس اتّقوا ربّكم الذي خلقكم من نفس واحده و خلق منها زوجها و بثّ منهما رجالا كثيرا و نساء و اتّقوا الله الذي تسآءلون به و الأرحام، إنّ الله كان عليكم رقيبا. يا أيّها الذين ءامنوا اتّقوا الله و قولوا قولا سديدا. يصلح لكم أعمالكم و يغفر لكم ذنوبكم، و من يطع الله و رسوله فقد فاز فوزا عظيما. أمّا بَعْدُ

فإنّ أصدق الحديث كتاب الله، و خير الهدي هدي محمّد صلى الله عليه و سلّم و شرّ الأمور محدثاتها، كلّ محدثة بدعة، و كلّ بدعة ضلالة، و كلّ ضلالة في النار. و ُبَعْدُ

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan kemudahan kepada penulis sehingga mampu menyusun makalah dengan judul “Hakikat Ilmu dalam Al Quran” untuk melengkapi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi sebagai materi lanjutan dari mata kuliah tersebut.

Harapan penyusun semoga dengan hadirnya makalah ini, dapat menjadi bekal untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi diri penulis dan para pembaca.

Penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik, saran dan koreksi sangat penulis harapkan agar makalah ini hadir menjadi lebih baik lagi.

Yogyakarta, Juni 2024

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN.
1.1. Latar Belakang Masalah.
1.2. Rumusan Masalah.
1.3. Manfaat Penelitian.
BAB II PEMBAHASAN.
A. OBJEK ILMU DAN PROSES PEROLEHANNYA.
B. TAUHID.
C. ILMU.
D. SUMBER ILMU PENGETAHUAN.
1. Surat Al An'am Ayat 38.
2. Surat Yusuf Ayat 111.
3. Surat Al Baqarah Ayat 31.
4. Surat Al Baqarah Ayat 32.
E. URGENSI ILMU DAN PENDIDIKAN.
F. PENGHARGAAN AL QUR'AN KEPADA ILMU.
G. KEBODOHAN ADALAH KEJAHATAN YANG TERSELUBUNG.
1. Surat Al An’am ayat.
2. Surat Al A’raf Ayat.
3. Surat Al A’raf Ayat.
BAB III PENUTUP.
KESIMPULAN.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam Al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang membuat manusia unggul dari makhluk lain dan dapat menjalankan kekhalifahan di bumi. Al-Qur’an juga menyatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk meraih dan mengembangkan ilmu dengan izin Allah.

Al-Qur’an memberikan kedudukan terhomat bagi ilmu dan para ulama. Hadits Nabi juga menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Al-Qur’an menyatakan bahwa barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan dunia, akhirat, atau keduanya, maka harus menuntut ilmu.

Al-Qur’an juga menyatakan bahwa objek ilmu pengetahuan adalah semua ciptaan Allah, yang sekaligus merupakan ayat-ayatNya. Islam meyakini bahwa ilmu adalah milik Allah dan bersumber dari Allah. Seberat apa pun manusia berupaya untuk mencapai ilmu, tanpa kekuatan Allah, manusia tidak akan mampu mencapainya.

Al-Qur’an menginspirasi perkembangan ilmu pengetahuan dan mengajarkan peran dan tanggung jawab manusia yang diberi amanah ilmu. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk menuntun umat manusia agar memperoleh keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

I.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tafsir ayat-ayat tentang objek ilmu dan proses perolehannya?
2. Bagaimana tafsir ayat-ayat tentang tauhid?
3. Bagaimana tafsir ayat-ayat tentang ilmu?
4. Bagaimana tafsir ayat-ayat tentang sumber ilmu pengetahuan?
5. Bagaimana tafsir ayat-ayat tentang urgensi ilmu dan pendidikan?
6. Bagaimana tafsir ayat-ayat tentang penghargaan Al Qur’an kepada ilmu?
7. Kajian tafsir ayat-ayat tentang kebodohan adalah kejahatan yang terselubung?

I.3. Manfaat Penelitian

1. Mengetahui objek ilmu dan proses perolehannya.
2. Mengetahui tauhid.
3. Mengetahui ilmu.
4. Mengetahui sumber ilmu pengetahuan.
5. Mengetahui urgensi ilmu pengetahuan.
6. Mengetahui penghargaan Al Qur’an kepada ilmu.
7. Mengetahui kebodohan adalah kejahatan yang terselubung.

BAB II
PEMBAHASAN

A. OBJEK ILMU DAN PROSES PEROLEHANNYA

Dalam pandangan Al-Qur’an, manusia mempunyai potensi untuk meraih ilmu serta mengembangkannya. Oleh karena itu, banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk menempuh cara agar hal tersebut terwujud. Ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain.

Ilmu terdiri dari dua macam, yaitu yang pertama ilmu yang diperoleh tanpa upaya dari manusia yang dinamai (Ilmu Laduni). Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah :

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami”. (Q.S. Al-Kahf : 65)

Yang kedua yaitu ilmu yang diperoleh dari usaha dan kerja keras manusia yang dinamai (Ilmu Kasbi), Hal ini mencakup membaca, menulis, mendengarkan, dan merenungkan apa yang dipelajari. Dan ilmu dalam islam juga tidak hanya mencakup pengetahuan agama saja melainkan juga ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat bagi manusia, Seperti dalam QS Al Alaq ayat 1-5 :

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

“Dia menciptakan manusia dari segumpal darah”

ٱقْرَأ ْوَرَبُّك ٱلْأَكْرَمُ

“ Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“ Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”

Ayat ini menunjukkan pentingnya kita untuk meminta bantuan kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan, ayat tersebut memerintahkan Nabi agar membaca, dengan adanya bantuan Allah walaupun sebelumnya belum bisa membaca dan menulis. Dan Allah pula yang mengajarkan manusia dengan pena seandainya tidak ada tulisan, pastilah ilmu-ilmu itu akan punah, agama tidak akan berbekas, kehidupan tidak akan baik, dan aturan tidak akan stabil. Tulisan merupakan pengikat ilmu pengetahuan dan instrumen untuk mencatat cerita dan perkataan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, dakwah Islam dimulai dengan menganjurkan membaca dan menulis serta menjelaskan bahwa keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah pada makhluknya dan rahmatnya atas mereka.

Berbeda dengan ilmuwan, dalam mendapatkan ilmu pengetahuan umum ada tiga cara yaitu, pengamatan, percobaan,dan trial and error. Cara inipula di singgung oleh Alqur’an dimana manusia diperintahkan untuk berfikir tentang muka bumi ini, Firman Allah :

قُلِ انْظُرُوۡا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ ​ؕ وَمَا تُغۡنِى الۡاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنۡ قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ‏

“ Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!" Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman”. (Q.S Yunus:101)

B. TAUHID

Tauhid secara tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il (wahhada yuwahhidu) yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya. Sementara Ibn Taimiyah mendeskripsikan tauhid sebagai doktrin yang terikat dalam pengertian tawhid fi al ilm wa al qawl wa tawhid fi al ibadat Demikian juga halnya dengan konsep klasifikasi tauhid yang dilakukan oleh Muhammad ‘Abduh yang cenderung mengacu kepada konsep ontologi tauhid yang melekat pada diri Tuhan semata dengan formulasi Tauhid Rububiyah wa Tauhīd al-Asmā’ wa al-Sifāt. Namun kedua konsep tersebut tidak membumi kepada bahasan yang implementatif dalam tataran dimensi kehidupan manusia sebagaimana yang dikaji oleh al-Faruqi, tauhid menurutnya adalah pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu, sejarah manusia yang mencakup prinsip dualitas, ideasionalitas, teologi, kemampuan manusia dalam pengolaham alam dan tanggung jawab penilaian.

Ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan Muslim, khususnya agama yang sangat menghargai Ilmu pengetahuan. Dalam konsep Ilmu Pengetahuan, Islam menjadikan Iman sebagai dasar utama yang melandasi ilmu, karenanya kaum Muslim diwajibkan beriman dan beramal dengan ilmu. Jika ilmunya salah maka iman dan amalnya juga akan salah [1] di dalam tauhid terdapat prinsip yang terkandung hal ini terdapat dalam QS Az Zumar ayat 7
[1] Firda Inayah Inayah, ‘Tauhid Sebagai Prinsip Ilmu Pengetahuan (Studi Analisis Ismail Raji Al Faruqi)’, Tasfiyah, 2.1 (2018), 97 <https://doi.org/10.21111/tasfiyah.v2i1.2484>.

إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu”

Dalam Tafsir Al Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah disebutkan, “Wahai manusia, Jika kalian kufur terhadap Allah, sesungguhnya Allah Maha Kaya dengan tanpa keimanan kalian, dan Allah tidak ridha sebab kekufuran kalian, Allah pun tidak memerintahkan kalian untuk menyembahNya, sedang Allah memberikan Rahmat pada mereka, juga Allah berikan siksa pada mereka, dan bersyukurlah padaKu (Allah) wahai para hambaKu, maka mereka akan beriman sebab syukur menjadikan mereka ridla dan mencintai Allah, lalu keimanan ditetapkan atas mereka, karena yang demikian itu adalah sebab yang tidak bisa ditawar. Kalian tidak dihukum sebab dosa yang dilakukan selain dari kalian, kemudian pada Tuhanmulah kamu sekalian akan kembali pada hari kiamat. Tuhanmulah yang akan memberikan kalian pengajaran mengenai kebaikan dan keburukan. Yaitu Allah SWT yang Maha bijaksana yang menciptakan jiwa-jiwa kalian. Tidak ada yang samar sedikitpun bagi Allah”[2]
[2] https://tafsirweb.com/8669-surat-az-zumar-ayat-7.html.

Dimana dalam QS Az-Zumar ayat 7 ini menekankan prinsip tauhid ketergantungan manusia kepada Allah, penolakan terhadap kekafiran, pentingnya kesyukuran, tanggung jawab pribadi, dan pengetahuan Allah yang Maha Luas.

C. ILMU

1. Surat Al-Mujadalah ayat 11

يآ أيّها الّذين ءَامَنُوا إذا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي المَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ. وَ إذا قِيْلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُم وَ الّذِينَ أُوتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ. وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَيْرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Tetapi, menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat, yakni yang lebih tinggi daripada yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di luar ilmu itu.

Tentu saja, yang dimaksud dengan (الّذين أوتوا العلم) alladzina utu al-‘ilm yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekadar beriman dan beramal saleh dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok yang kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan, atau tulisan, maupun dengan keteladanan. Ilmu yang di maksud oleh ayat di atas bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat.

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘Ilmu yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ilmu adalah bentuk masdar dari ‘alima, ya’lamu-‘ilman. Menurut Ibn Zakaria, pengarang buku Mu’jam Maqayis al-Lughab bahwa kata ‘ilm mempunyai arti denotatif “bekas sesuatu yang dengannya dapat dibedakan sesuatu dari yang lainnya”. Menurut Ibn Manzur ilmu adalah antonim dari tidak tahu (naqid al-jahl), sedangkan menurut al-Asfahani dan al-Anbari, ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu (indrak al-sya’i bi haqq qatib). Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering digunakan.

Ada dua jenis pengetahuan, yaitu:

1) Pengetahuan biasa

Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya.

2) Pengetahuan ilmiah

Pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan.

وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Allah mengetahui segala perbuatanmu. Tidak ada samar bagi-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka di antara kamu. Orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan, dan orang yang berbuat buruk akan dibalas-Nya dengan apa yang pantas baginya, atau diampuni-Nya. [3]
[3] https://makalahmonster.blogspot.com/2017/10/makalah-tafsir-tarbawi-tentang-ilmu.html?m=1

D. SUMBER ILMU PENGETAHUAN

Al-Qur’an sebagai sumber ilmu adalah kitab induk, rujukan utama bagi segala sumber rujukan, basis bagi segala sains dan ilmu pengetahuan. Al Qur’an adalah buku induk ilmu pengetahuan, dimana tidak ada satu perkara apapun yang terlewatkan, semuanya telah diatur di dalamnya, baik yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah), sesama manusia (hablumminannas), alam, lingkungan, ilmu akidah, ilmu sosial, ilmu empiris, ilmu agama, umum, dan sebagainya. [4]
[4] Darmadji. Tafsir Al- Qur’an Tentang Teori Pendidikan Islam: Persepektif Pendidikan Islam Di Indonesia. Hermeneutik, Vol. 7, No.1, Juni 2013. Hlm 181

1. Surat Al An'am Ayat 38

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤٮِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّاۤ اُمَمٌ اَمْثَالُـكُمْۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْـكِتٰبِ مِنْ شَىْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan” Al-Qur’an sering mengingatkan manusia agar memikirkan ayat- ayat Allah dan mengambil pelajaran darinya.[5]
[5] Ahmad Munir. Tafsir Tarbawi: Mengungkap pesan Al- Qur’an tentang Pendidikan. 2007. Ponorogo:STAIN Ponorogo Press 79

2. Surat Yusuf Ayat 111

لَـقَدْ كَانَ فِىْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗمَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَـرٰى وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِىْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَىْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”

Berbicara tentang ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an, ada persepsi bahwa Al Qur’an itu adalah kitab ilmu pengetahuan. Persepsi ini muncul atas dasar isyarat- isyarat Al Qur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Dari isyarat tersebut sebagian para ahli berupaya membuktikannya dan ternyata mendapatkan hasil yang sesuai dengan isyaratnya, sehingga semakin memperkuat persepsi tersebut.[6] Al-Qur’an mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan. Ilmu yang bersumber pada naqli ini adalah ilmu-ilmu agama (Tafsir, Hadits, Fiqih, Tauhid, Tasawuf, dan Sejarah). Sedangkan ilmu aqli seperti sejarah, ilmu sosial, teknik, biologi, fisika, kimia, dan sebagainya). Adapun diantara ayat al-Qur’an dalam tulisan ini yang berkaitan dengan macam-macam ilmu pengetahuan tertuang dalam beberapa surah yaitu: ilmu agama (At Taubah (9) : 122), psikologi dan ilmu alam (Fushshilat (41) : 53), ilmu sejarah dan benda-benda purbakala (Muhammad (47) : 101), ilmu tumbuh-tumbuhan dan ilmu bercocok tanam/botani (Al Hajj (22) : 5, Yasin (36) : 36), ilmu hewan/zoologi) dan ilmu hayat (Al-Ghasiyah (88) : 17), ilmu tentang proses kejadian makhluk/manusia (Al Mukminun (23) : 12-14), ilmu falaq (Yasin (36) : 37-40), ilmu hitung dan eksakta (Al-Hijr (15) : 21, Al-An’am (6) : 96), fisika dan kimia (Ar-Ra’du (13) : 12-13, An-Nur (24) : 43), ilmu geologi (Al Zalzalah (99) : 1-2).[7] Orang yang mempelajari Al-Qur’an akan melihat realitas dari setiap temuan penelitian yang manusia lakukan. Itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu.[8]
[6] Ahmad Munir. Tafsir Tarbawi: Mengungkap pesan Al- Qur’an tentang Pendidikan. 2007. Ponorogo:STAIN Ponorogo Press. 68
[7] Asnil Aidah Ritonga dan Irwan. Tafsir Tarbawi. 2013. Bandung: Citapustaka Media. 24
[8] Aghuts Nur Amien. The Miracle of Al- Qur’an: Rahmat bagi Kehidupan Semesta Alam di Dukung dengan Riset Sains. 2013. Yogyakarta: Elangit7 Publishing. 14


Dalam pandangan Al Qur’an, ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk yang lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.

3. Surat Al-Baqarah Ayat 31

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤٮِٕكَةِ فَقَالَ اَنْبِۢــُٔوْنِىْ بِاَسْمَاۤءِ هٰۤؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"

Berikut akan kami paparkan tafsir dari surat Al Baqarah ayat 31 di atas, dilihat dari sumber rujukan yang berbeda. Dijelaskan dalam kitab tafsir Jalalain, yang artinya sebagai berikut: (Dan diajarkan- Nya kepada Adam nama- nama) maksudnya nama- nama benda (kesemuanya) dengan jalan memasukkan ke dalam kalbunya pengetahuan tentang benda- benda itu (kemudian dikemukakan- Nya mereka) maksudnya benda- benda tadi yang ternyata bukan saja benda- benda mati, tetapi juga makhluk- makhluk berakal, (kepada para malaikat, lalu Allah berfirman) untuk memojokkan mereka, (“beritahukanlah kepada- Ku) sebutkanlah (nama- nama mereka) yakni nama- nama benda itu (jika kamu memang benar”) bahwa tidak ada yang lebih tahu daripada kamu diantara makhluk- makhluk yang Kuciptakan atau bahwa kamulah yang lebih berhak untuk menjadi khalifah. Sebagai ‘jawab syarat’ ditunjukkan oleh kalimat sebelumnya.[9]
[9] Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As- suyuthi. 1433 H. Tafsir Qur’anil ‘Adzim Lil Imam Jalalain. ImaratAllah : Surabaya. 6

4. Surat Al Baqarah Ayat 32

قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَاۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Dalam Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H, “Mereka menjawab, ’Mahasuci Engkau, ”Maksudnya, kami menyucikanMu, dari segala pembantahan kami dan penyelisishan kami terhadap perintah Mu “tidak ada yang kami ketahui” dengan segala bentuknya, ”selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami” tentangnya sebagai suatu anugerah dariMu dan kemuliaan, “sesungguhnya Engkau lah Yang Maha mengetahui lagi Maha bijaksana, ”yang Maha mengetahui adalah yang mengetahui sesuatu dalam segala aspeknya, tidak ada yang tertutup olehnya dan tidak terlupakan seberat bijnin dzarrah pun di langit maupun di bumi dan tidak yang kecil maupun yang besar, dan yang Maha bijaksana adalah Dzat yang memiliki kebijaksanaan yang sempurna, yang tidak ada seorang makhluk pun yang keluar darinya dan tidak seorang pun yang di perintahkan menyimpang darinya, karena Dia tidaklah menciptakan sesuatu kecuali ada hikmah di baliknya, dan tidak pula Dia memerintahkan kepada sesuatu kecuali menyimpan hikmah padanya, dan hikmah itu sendiri meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai.

Lalu mereka sadar dan mengakui ilmu Allah dan hikmahNya, dan ketidak mampuan mereka dalam mengetahui sekecil apapun, serta pengakuan mereka terhadap keutamaan Allah atas mereka dan pengajaranNya kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui.[10]
[10] https://tafsirweb.com/294-surat-al-baqarah-ayat-32.html

E. URGENSI ILMU DAN PENDIDIKAN

Dalam islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam waktu yang sangat singkat melainkan sepanjang waktu. Islam memotivasi untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan, dan pengetahuan. Laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin semuanya mendapatkan porsi yang sama dalam pandangan islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (Pendidkan). Bukan hanya pengetahuan agama saja yang harus dipelajari urusan pengetahuan duniawi juga harus dipelajari. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagian hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia.

Islam juga menekankan akan pentingnya membaca, mengamati dan meneliti segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Karena yang dapat melakukan hal tersebut hanyalah manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena yang ada disekitar kita termasuk pengetahuan. Dan tugas manusia di muka bumi ini selain bertaqwa kepada Allah ia juga sebagai pemakmur bumi.

Berikut adalah urgensi pendidikan dalam Al Qur’an :

1. Mendidik akhlak dan jiwa manusia, menanamkan nilai-nilai keutamaan, membiasakan berlaku sopan

2. Menjadi manusia yang hidup dengan ketaqwaan dan kebahagian dunia akhirat

3. Menjadi hamba Allah yang selalu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah

4. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kita dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

5. Mampu menjalankan hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan memiliki pengetahuan agama baik pengetahuan dunia (umum).

Surat At Taubah Ayat 122 :

وَ مَا كَ، المُؤمِنُون لِيَنفِرُوا كَافَةً فَلَولَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِ،ْهُم طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنذِرُوا قَومَهُمْ إذَا رَجَعُوا إلَيْهِمْ لَعَلَّهُم يَحذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri”

Beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini menjadi dasar hukum tentang kewajiban menuntut ilmu dan memperdalam ilmu, lalu mengajarkannya kepada orang lain. Al Qurtubi menyatakan bahwa kewajiban menuntut ilmu hanya sebatas fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain. Hal ini selaras dengan QS. Al Nahl ayat 43:

فَسْئَلُوا أهْلَ الذِّكْرِ إن كُنتُم لا تعلمون

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu mengetahui”

Maka, yang termasuk dalam kategori ayat ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dan ilmu yang mendalam, sehingga mereka bertanya dan berkonsultasi kepada para pakar yang sesuai dengan bidangnya.

Sedangkan Az Zuhayli berpendapat bahwa hukum jihad (beperang) adalah fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain. Sebab, jika semua turun ke medan perang, maka kemaslahatan umat dan keluarga akan terbengkalai. Karena itu, ada yang berjihad dengan perang, ada pula yang memperdalam ilmu agama dan menjaga kemaslahatan negara dan bangsa.[11]
[11] https://tafsiralquran.id/tafsir-surah-al-taubah-ayat-122-perintah-memperdalam-ilmu-agama/

Dari sini dapat dipahami bahwa betapa pentingnya pengetahuan bagi kelangsungan hidup manusia, karena dengan pengetahuan manusia akan mengetahui mana yang baik dan yang buruk, yang benar dan salah, dan yang membawa manfaat dan yang membawa madharat.

Islam menekankan akan pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia. Karena tanpa pengetahuan manusia akan berjalan kearah yang sesat yang akan membuat manusia hilang arah.

Imam Syafi’i pernah menyatakan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang yang menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka, harus dengan ilmu”.

F. PENGHARGAAN AL QURAN KEPADA ILMU

Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan selalu memerintahkan umat manusia untuk menuntut ilmu. Hal ini dibuktikan dengan ayat pertama yang diturunkan, yaitu "iqra'" (perintah membaca). Meskipun Al Qur’an tidak secara spesifik menyebutkan apa yang harus dibaca, namun dapat dipahami bahwa umat manusia diharuskan membaca apa saja yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Selain perintah membaca, Allah Ta’ala juga menjanjikan kedudukan yang lebih tinggi bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan. Penghargaan ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam ajaran Islam. [12] Dalam bahasa Arab, kata penghargaan sering diungkapkan dengan al-Jaza’ atau tsawab. Dalam al-Mu'jam al-Wasith juga disebutkan: Membalas seseorang dengan sesuatu atau karena sesuatu artinya memberinya imbalan. ini bisa berupa pujian, ucapan terima kasih, imbalan yang lebih baik, doa, dan sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, penghargaan didefinisikan dengan “perbuatan menghargai; penghormatan.”[13] Salah satu ayat yang mejelaskan tentang penghargaan ilmu terdapat dalam QS An Naml ayat 15 yang berbunyi :
[12] Surahman Amin Dan Ferry Muhammad Siregar, ‘Ilmu Dan Orang Berilmu Dalam Al-Qur’an: Makna Etimologis, Klasifikasi, Dan Tafsirnya’, Empirisma, 24.1 (2015), 1–5 <https://doi.org/10.30762/empirisma.v24i1.14>.
[13] Ibrahim Bafadhol, ‘Sanksi Dan Penghargaan Dalam Pendidikan Islam’, Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 04 (2015), 1118–29.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ عِلْمًاۗ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Sungguh, kami benar benar telah menganugerahkan ilmu kepada daud dan sulaiman keduanya berkata “ segala puji bagi allah yang melebihkan kami dari pada kebanyakan hamba hamba nya yang mukmin”

Dalam Tafsir Al Misbah menyebutkan bahwa, ayat di atas bagaikan berkata: “Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Musa dan Harun hikmah, petunjuk, serta kemenangan dan kemuliaan menghadapi Fir'aun dan kaum nya, dan sesungguhnya Kami juga telah menganugerahkan kepada Daud dan putranya yaitu Sulaiman, sebagian ilmu yang sangat dalam dan berharga yang tidak Kami anugerahkan kepada sembarang orang. Keduanya menerapkan ilmu yang Kami anugerahkan itu untuk kebaikan makhluk dan keduanya mensyukuri anugerah Kami serta mengucapkan: “Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Pemurah yang melebihkan kami dari banyak hamba hambaNya yang mukmin yakni yang dekat kepada-Nya lagi mantap imannya. ” Ilmu yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Daud dan Sulaiman as. sungguh banyak dan unik. Nabi Daud as. misalnya dianugerahi kemampuan membuat perisai (QS. Al-Anbiya’ : 80), dan diajari hikmah dan kemampuan menyelesaikan perselisihan (QS. Shad : 20), sedang Nabi Sulaiman as. di samping dianugerahi hikmah dan kemampuan memahami kasus-kasus perselisihan, juga antara lain kemampuan memahami bahasa/ suara burung (QS. Al Naml : 16).

Ayat di atas menuntun setiap ilmuwan untuk mengakui terlebih dahulu anugerah Allah atas ilmu yang dimilikinya, kemudian mensyukurinya, bukan saja dengan pengakuan lisan, tetapi juga dengan mengamalkan dan menyesuaikan diri dengan ilmu yang dimilikinya itu. Ayat di atas menggabung kesyukuran mereka berdua dalam satu kata yang berbentuk dual. Boleh jadi kesyukuran dan ucapan itu mereka ucapkan bersama sebagai anak dan ayah dan kemungkinan yang lebih besar adalah masing-masing mengucapkan setiap saat walau setelah mereka berpisah dengan kematian Nabi Daud as. Kata (كثير) katsir/ banyak bukan berarti “kebanyakan” sebagaimana diterjemahkan oleh sementara orang tetapi berarti banyak. Ucapan beliau itu, menunjukkan kehati-hatian sekaligus mencerminkan kerendahan kedua Nabi yang sekaligus Raja itu. Kata banyak sudah benar, walau jumlahnya hanya lebih dari dua orang, tetapi kalau dikatakan kebanyakan, maka itu paling tidak berarti lebih lima puluh persen dari jumlah seluruh orang-orang mukmin. Walaupun hal tersebut benar adanya buat kedua Nabi agung itu, bahkan Nabi Sulaiman as. dianugerahi kekuasaan yang tidak pernah akan dapat diraih oleh manusia sesudahnya, namun terasa kurang tepat bila mereka berkata kebanyakan dari orang-orang mukmin, karena hal tersebut dapat mengesankan adanya pengetahuan beliau secara pasti tentang semua orang-orang mukmin, di samping jika beliau berucap demikian, terasa juga ada semacam kebanggaan yang tidak tepat untuk diucapkan oleh seorang Nabi tanpa menggandengkannya dengan kalimat yang mengesankan kerendahan hati.

Kata (الحمد لله) Al Hamdulillah biasa diartikan segala puji bagi Allah. Kata Al-Hamd berarti pujian, ia adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walau tidak memberi sesuatu kepada si pemuji. Di sini bedanya dengan kata syukur yang pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan dengan penuh hormat pemberian yang dianugerahkan oleh siapa yang disyukuri itu kepada yang bersyukur. Kesyukuran itu bermula dalam hati yang kemudian melahirkan ucapan dan perbuatan.[14]
[14] QURAISH SHIHAB, TAFSIR AL MISBAH (JAKARTA: LENTERA HATI, 2005).

G. KEBODOHAN ADALAH KEJAHATAN YANG TERSELUBUNG

1. Surat Al An’am ayat 144

وَ مِنَ الإبِلِ اثْنَيْنِ وَ مِنَ البَقَرِ اِثْنَيْنِ. قُلْ ءآلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الأُنْثَيَيْنِ. أَمْ كُنتُمْ ِشُهَدَآءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللهُ بِهذا. فَمَنْ أَظْلَمُ مِمّنِ افْتَرَى على اللهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ. إِنَّ اللهَ لا يَهْدِي القَوْمَ الظَّالِمِيْنَ.

“Dan dari unta sepasang dan dari sapi sepasang. Katakanlah,”Apakah yang diharamkan dua yang jantan atau dua yang betina, atau yang ada dalam kandungan kedua betinanya?. Apakah kamu menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini bagimu?. Siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan?”. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”

Dalam Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di disebutkan “Kemudian Allah menjelaskan tentang unta dan sapi dengan penjelasan yang sama. Manakala Allah menjelasan kebatilan dan kerusakan ucapan mereka, maka Allah berfirman kepada mereka dengan perkataan yang membuat mereka tidak mampu lolos dari konsekuensinya kecuali hanya dengan mengikuti syariat, “Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu?” maksudnya, yang tersisa padamu hanyalah sekedar klaim di mana kamu tidak mampu membuktikan kebenarannya. Yaitu hendaknya kamu, “Sesungguhnya Allah menetapkan itu kepada kami dan mewahyukan sebagaimana Dia mewahyukan kepada rasul-rasulNya, bahkan Allah mewahyukan kepada kami dengan wahyu yang menyelisihi wahyu para Rasul dan yang disampaikan oleh kitab-kitab”. Ini adalah kedustaan yang diketahui oleh semua orang. Oleh karena itu Allah berfirman, “Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” maksudnya, ditambah dengan kedustaan dan kebohongan atas nama Allah dengan maksud menyesatkan hamba-hamba Allah dari jalan Allah tanpa bukti, argument, akal dan dalil. “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim,” yang tidak memiliki kemauan selain mendzalimi, berlaku sewenang-wenang dan berdusta atas nama Allah. [15]
[15] http://tafsirweb.com/2268-surat-al-anan-ayat-144.html

2. Surat Al A’raf Ayat 138

فَجَوَزْنَا بِبَنِي إِسْراءِيْلَ البَحْرَ فَأَتَوْا عَلى قَومٍ يَعْكُفُونَ على أَصْنامٍ لَّهُمْ. قَالُوا يا مُوسَى اجْعَلْ لَّنَا إِلهًا كَما لَهُمْ ءَالِهَةٌ. قَالَ إنّكُم قَومٌ تَجْهَلُونَ

“Dan Kami selamatkan Bani Israil menyebrangi laut itu (bagian utara dari Laut Merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israil berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh”

Dalam Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI, disebutkan “Dan setelah kami menyelamatkan mereka dan menenggelamkan Fir’aun, kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu, yaitu bagian utara Laut Merah. Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tekun menyembah berhala, muncul keinginan untuk melakukan kebiasaan lama mereka, kebiasaan menyembah berhala yang dilakukan di Mesir. Mereka lalu meminta kepada nabi Musa untuk membuat patung berhala untuk disembah, seperti yang dilakukan oleh kaum yang mereka lihat itu. Mereka Bani Israil berkata, “Wahai Musa!, buatlah untuk kami ssebuah tuhan berhala untuk kami sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan berhala. Nabi Musa berusaha mencegah keinginan mereka dan dengan nada mencela, dia menjawab, “Sungguh kamu orang-orang yang bodoh, tidak memahami keagungan Allah dan tidak mengetahui bahwa yang patut disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Yang mereka lakukan itu tentu tidak benar, dan sebagai akibatnya, sesungguhnya mereka para penyembah berhala yang kamu lihat tekun itu akan dihancurkan apa yang sedang mereka anut, yaitu akan punah kepercayaan dan ajaran syirik mereka, dan akan sia-sia, tidak bermanfaat sedikit pun apa yang mereka kerjakan, sebab sembahan itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa Allah ketika datang.[16]
[16] https://tafsirweb.com/2592-surat-al-araf-ayat-138

3. Surat Al A’raf Ayat 179

وَ لَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الجِنِّ وَ الإنْسِ. لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَ لَهُم أَعْيُنٌ لّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَ لَهُمْ ءِاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا. أُولئكَ كَالْأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ. أولئك هُمُ الغَافِلُونَ.

“Dan sungguh, telah Kami ciptakan isi neraka Jahannam banyak dari kalangan Jin dan manusia. Mereka memiliki hati , tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”

Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi perintahNya dengan menyatakan bahwa Dia telah menciptakan Jin dan manusia untuk di siksa di neraka Jahannam, yaitu orang-orang yang berpaling dan enggan menghayati ayat-ayat Allah.

Allah telah mengetahui sejak zaman azali mereka akan memilih kekafiran, maka Allah menghendaki itu, menciptakan kekafiran di dalam diri mereka, dan menjadikan tempat mereka adalah neraka, karena mereka memiliki hati yang tidak mau memahami bukti-bukti yang dapat mengantarkan kepada hidayah keimanan, padahal bukti-bukti itu tersebar di seluruh penjuru alam semesta, yang akan dipahami oleh hati yang terbuka dan jernih. Dan mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat bukti-bukti keesaan Allah di alam semesta, padahal itu semua terpampang di depan pandangan mereka, serta memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengar ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran dari Kami dengan penuh penghayatan. Mereka sama sekali tidak memanfaatkan indra-indra ini yang telah Allah ciptakan sebagai jalan mendapat hidayah.

Maka barangsiapa yang memiliki sifat-sifat tersebut, maka mereka seperti hewan ternak yang digembalakan, yang tidak memanfaatkan anggota tubuh mereka untuk mendaptkan hidayah. Bahkan mereka lebih buruk dari hewan ternak, karena hewan ternak hanya memiliki insting yang dimilikinya. Adapun manusia telah dikaruniai hati yang sadar, akal yang berpikir, mata yang melihat, dan kemampuan memilih mengikuti hidayah atau kesesatan. Sungguh mereka telah lalai dari sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan dari mereka, akibat telah terkuasai oleh setan dan hawa nafsu, dan Allah sama sekali tidak mendzalimi siapapun.[17]
[17] https://tafsirweb.com/2633-surat-al-araf-ayat-179

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Tulisan merupakan pengikat ilmu pengetahuan dan instrumen untuk mencatat cerita dan perkataan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, dakwah Islam dimulai dengan menganjurkan membaca dan menulis serta menjelaskan bahwa keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah pada makhluknya dan rahmatNya atas mereka.

Di dalam QS. Az Zumar ayat 7, menekankan tentang prinsip tauhid ketergantungan manusia kepada Allah, penolakan terhadap kekafiran, pentingnya kesyukuran, tanggung jawab pribadi, dan pengetahuan Allah yang Maha Luas.

Ada dua jenis pengetahuan, yaitu:

1) Pengetahuan biasa

Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya.

2) Pengetahuan ilmiah

Pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan.

Al-Qur’an sebagai sumber ilmu adalah kitab induk, rujukan utama bagi segala sumber rujukan, basis bagi segala sains dan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an adalah buku induk ilmu pengetahuan, dimana tidak ada satu perkara apapun yang terlewatkan, semuanya telah diatur di dalamnya, baik yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah), sesama manusia (hablumminannas), alam, lingkungan, ilmu akidah, ilmu sosial, ilmu empiris, ilmu agama, umum, dan sebagainya

Berikut adalah urgensi pendidikan dalam Al Qur’an :

1. Mendidik akhlak dan jiwa manusia, menanamkan nilai-nilai keutamaan, membiasakan berlaku sopan.

2. Menjadi manusia yang hidup dengan ketaqwaan dan kebahagian dunia akhirat.

3. Menjadi hamba Allah yang selalu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

4. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kita dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

5. Mampu menjalankan hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan memiliki pengetahuan agama baik pengetahuan dunia (umum).

Beberapa ulama berpendapat bahwa QS. At-Taubah ayat 122 menjadi dasar hukum tentang kewajiban menuntut ilmu dan memperdalam ilmu, lalu mengajarkannya kepada orang lain. Kewajiban menuntut ilmu hanya sebatas fardhu kifayah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan kedudukan yang lebih tinggi bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan. Al-Qur’an menuntun setiap ilmuwan untuk mengakui terlebih dahulu anugerah Allah atas ilmu yang dimilikinya, kemudian mensyukurinya, bukan saja dengan pengakuan lisan, tetapi juga dengan mengamalkan dan menyesuaikan diri dengan ilmu yang dimilikinya itu.

Kebodohan terhadap ilmu agama menyebabkan manusia berbuat kemaksiatan, kerusakan dan kesesatan di muka bumi ini. Mereka sesat dan menyesatkan umat Islam dari jalan Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Aghuts Nur Amien. The Miracle of Al- Qur’an: Rahmat bagi Kehidupan Semesta Alam didukung dengan Riset Sains. 2013. Yogyakarta: Elangit7 Publishing.

Ahmad Munir. Tafsir Tarbawi: Mengungkap pesan Al- Qur’an tentang Pendidikan. 2007. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press

Asnil Aidah Ritonga dan Irwan. Tafsir Tarbawi. 2013. Bandung: Citapustaka Media.

Darmadji. Tafsir Al- Qur’an Tentang Teori Pendidikan Islam: Persepektif Pendidikan Islam Di Indonesia. Hermeneutik, Vol. 7, No.1, Juni 2013.

Ibrahim Bafadhol, ‘Sanksi Dan Penghargaan Dalam Pendidikan Islam’, Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 04 (2015), 1118–29

Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi. 1433 H. Tafsir Qur’anil ‘Adzim Lil Imam Jalalain. ImaratAllah : Surabaya.

Inayah, Firda Inayah, ‘Tauhid Sebagai Prinsip Ilmu Pengetahuan (Studi Analisis Ismail Raji Al Faruqi)’, Tasfiyah, 2.1 (2018), https://doi.org/10.21111/tasfiyah.v2i1.248

Surahman Amin dan Ferry Muhammad Siregar .‘Ilmu Dan Orang Berilmu Dalam Al-Qur’an: Makna Etimologis, Klasifikasi, Dan Tafsirnya’.Empirisma, 24.1 (2015), 1–5 https://doi.org/10.30762/empirisma.v24i1.14

Shihab, Quraish, Tafsir Al Misbah 2005. Jakarta: Lentera Hati

Tafsir web, https://tafsirweb.com/294-surat-al-baqarah-ayat-32.html

Tafsir web, https://tafsirweb.com/8669-surat-az-zumar-ayat-7.html

Tafsir web, https://tafsirweb.com/2268-surat-al-anam-ayat-144.html

Tafsir web, https://tafsirweb.com/2592-surat-al-araf-ayat-138.html

Tafsir web, https://tafsirweb.com/2633-surat-al-araf-ayat-179.html

https://makalahmonster.blogspot.com/2017/10/makalah-tafsir-tarbawi-tentang-ilmu.html?m=1

https://tafsiralquran.id/tafsir-surah-al-taubah-ayat-122-perintah-memperdalam-ilmu-agama/

https://tafsirweb.com/3375-surat-yunus-ayat-101.html /diakses pada kamis 13 Juni 2024

https://quran.com/id/segumpal-darah/1-5/ diakses pada hari kamis 13 Juni 2024

https://tafsirweb.com/3138-surat-at-taubah-ayat-122.html / diakses pada hari kamis 13 Juni 2024

https://www.scribd.com/document/486915343/URGENSI-ILMU-DAN-PENDIDIKAN-DALAM-ISLAM / diakses pada hari kamis 13 Juni 2024