Tampilkan postingan dengan label 20. SBA : Metode Pengajaran Bahasa Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 20. SBA : Metode Pengajaran Bahasa Arab. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2024

Berbagai Metode Pengajaran Bahasa Arab (Bagian 2)

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Pengajaran Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Ustadz Sabar Siswoyo, M. Pd.
Disusun Oleh Kelompok 4 Prodi SBA :
1. Netti Hidayati Lestari NIM: 023210044
2. Binty Sholikhah NIM: 023210074
3. Tanti Rahmi Apadu NIM: 023210089
4. Neng Hindi Handiyani NIM: 023210083
5. Sherly Febriana NIM: 23220034

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Puji serta Syukur kehadirat Allah yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah- Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Berbagai Metode Bahasa Arab”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Metode Pengajaran Bahasa Arab yang diampu oleh Ustadz Sabar Siswoyo, M.Pd. Hafidzahullah.

Dalam makalah ini, penyusun akan membahas tentang Berbagai metode dalam pengajaran Bahasa Arab yang mana merupakan satu dari sekian aspek penting dalam pengajaran Ilmu Bahasa Arab, Penyusun berharap makalah ini dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi pembaca, serta menjadi referensi dalam mengajarkan ilmu bahasa arab. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap usaha kita untuk mencerdaskan generasi penerus ummat.

Akhir kata, penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ustadz Sabar Siswoyo, M.Pd. Hafidzahullah yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan serta kesehatan kepada beliau. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Balikpapan, 03 November 2024

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang.
B. Rumusan Masalah.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian.
BAB II PEMBAHASAN.
A. Metode Grammatical(Grammar Method).
B. Metode Translation(Translation Method).
C. Metode Percakapan( Conversation Method).
D. Metode Dikte/Imla’ (Dictation Method).
E. Metode Unit (Unit Method).
F. Metode Bahasa Dengar (Audio Lingual Method).
BAB III PENUTUP.
KESIMPULAN.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Metode pengajaran bahasa Arab telah berkembang seiring dengan kebutuhan dan konteks pendidikan yang berbeda. Dalam latar belakang ini, penting untuk memahami berbagai metode yang digunakan dalam pengajaran bahasa Arab. Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bahasa agama yang sangat penting dalam Islam, digunakan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Oleh karena itu, pemahaman bahasa Arab menjadi krusial bagi umat Islam, terutama di negara-negara dengan populasi Muslim yang besar seperti Indonesia. Di Indonesia, bahasa Arab diajarkan sejak usia dini di berbagai tingkat pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Pengajaran bahasa Arab memerlukan pendekatan yang beragam untuk memenuhi kebutuhan siswa yang berbeda. Dengan memahami sejarah, metode, dan prinsip dasar pengajaran, pendidik dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan berbahasa Arab siswa tetapi juga memperkaya pemahaman mereka terhadap budaya dan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Metode Grammatical (Grammar Method)?
2. Bagaimana Metode Translation (Translation Method)?
3. Bagaimana Metode Percakapan (Conversation Method)?
4. Bagaimana Metode Dikte/Imla’ (Dictation Method)?
5. Bagaimana Metode Unit( Unit Method)?
6. Bagaimana Metode Bahasa Dengar(Audio Lingual Method)?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Mengetahui Metode Grammatical (Grammar Method)
2. Mengetahui Metode Translation (Translation Method)
3. Mengetahui Metode Percakapan (Conversation Method)
4. Mengetahui Metode Dikte/Imla’ (Dictation Method)
5. Mengetahui Metode Unit( Unit Method)
6. Mengetahui Metode Bahasa Dengar(Audio Lingual Method)

BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode Grammatical (Grammar Method)

Metode gramatika yaitu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa Arab yang mencakup nahwu sharaf. Metode gramatika ini sangat kuat berpegang pada disiplin mental dan pengembangan intelektual. Pada metode gramatikal ini, guru tidaklah mengajarkan kemahiran berbahasa, tetapi terfokus pada pembelajaran gramatika (Nahwu dan sharaf). Dalam pengajarannya, guru berasumsi bahwa gramatika atau kaidah-kaidah bahasa lebih pentuing dibandingkan dengan kemahiran berbahasa. Hal ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pembelajaran tentang menggunakan bahasa (menyimak, mendengar dan berbicara) sama sekali diabaikan dalam kegiatan pembelajaran bahasa (Nuha, 2012: 195).

Ada beberapa ciri utama yang dimiliki metode ini. Pertama,menitik beratkan keterampilan membaca, menulis, dan terjemah. Tetapi kurang memperhatikan keterampilan membaca. Kedua, menggunakan bahasa ibu peserta didik sebagai bahasa pengatar dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, metode ini menggunakan penerjemahan sebagai strategi utama dalam mengajar. Ketiga, memperhatikan sisi gramatikal sebagai sarana pembelajaran bahasa asing. Keempat, guru sering kali memfokuskan analisis gramatika atau tata bahasa pada kalimat-kalimat bahasa yang dipelajari (Ali Al-Khuli, 2010: 23).

Kelebihan dari metode gramatikal adalah sebagai berkut:

a. Peserta didik terbiasa menghafal kaidah-kaidah tata bahasa asing yang sangat diperlukan untuk mampu bercakap-cakap dalam bahasa asing yang benar, dan mampu menulis dengan betul.

b. Melatih mental disiplin dan ulet dalam mempelajari bahasa.

Bagi guru tidak terlalu sulit menerangkan metode ini, karena kemampuan percakapan tidak diutamakan, dengan kata lain guru asalkan ia menguasai gramatika atau tata bahasa yang baik maka pengajaran dapat dilaksanakan (Izzan, 2009: 98).

B. Metode Translation(Translation Method)

Metode translation yaitu metode menerjemahkan dengan kata lain menyajikan pelajaran dengan menerjemahkan buku-buku bacaan berbahasa asing ke dalam bahasa sehari- hari, dan buku bacaan tersebut tentunya telah direncanakan sebelumnya. Dalam menggunakan metode ini, seorang guru tidak perlu untuk menguasai kemahiran berbahasa, karena yang difokuskan adalah pada kegiatan menerjemahkan, bukan pada kemahiran berbahasa. Metode ini memberikan gambaran umum berkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa, kata yang akan diterjemahkan, kata-kata yang akan dihafalkan serta tentu saja adalah cara menerjemahkan dengan baik (Nuha, 2012: 199). Artinya ada keterkaitan antara metode gramatikal, meskipun tidak dititikbertakan pada gramatikalnya.

Pada umumnya paling tidak, ada 3 syarat yang harus dimiliki jika ingin menjadi penerjemah yang baik dan berbobot yaitu:

a. Menguasai gramatika (kaidah-kaidah tata bahasa) dan kaidah-kaidah menerjemahkan.

b. Kaya pembendaharaan kata-kata (mufradat).

c. Memiliki pengetahuan sosial dan wawasan luas (Ali Al-Khuli, 2010: 25).

Metode terjemah ini berisi praktik penerjemahan naskah-naskah, dari yang mudah sampai yang sulit. Salah satu variasi dari metode terjemahan ialah metode terjemahan harfiah. Dalam metode terjemahan harfiah ini dilakukan sekaligus terjemahan dari kata ke kata dan terjemahan idiomatik atau terjemahan ungkapan-ungkapan. Sebagaimana metode tata bahasa,metode terjemah dapat diajarkan dalam kelas yang besar atau kecil, jumlah jam pengajaran tidak ditentukan: boleh banyak boleh sedikit, tergantung pada tujuan dan pengelolaan.

Langkah-langkah pelaksanaan metode terjemah ini dapat dilakukan dengan cara guru menunjuk atau menentukan bahan-bahan bacaan yang akan diterjemahkan itu kepada anak didik dan menetapkan pula pokok-pokok atau seri-seri pelajaran yang akan dipelajari (diterjemahkan). Jika sudah diketahui bersama oleh peserta didik topik yang akan diterjemahkan itu, langkah berikutnya guru memulai membuka seri pertama pelajaran baru itu dan menerjemahkannya. Pada tingkat-tingkat dasar sebaik-baiknya peserta didik terlebih dahulu diperkenalkan dengan diajarkan kaidah-kaidah (aturan-aturan) dalam menerjemahkan. Jangan langsung menerjemahkan, namun setelah pengetahuan dasar menerjemahkan ini telah dikuasai peserta didik barulah pelajaran menerjemahkan dapat dimulai.[1]
[1]. Kusnadi. 2019. Metode Gramatika Dalam Pembelajaran Bahasa Arab. Jurnal Kajian Pendidikan dan Bahasa Arab1(1) : 9-10

C. Metode Percakapan( Conversation Method)

Metode percakapan adalah metode mengajarkan bahasa asing(Arab) dengan cara langsung mengajak anak didik untuk berbicara dalam bahasa Arab yang sedang diajarkan. Metode percakapan harus juga dibarengi dengan media dan textbook yang lengkap, guru yang professional, dan murid-murid yang mempunyai motivasi yang tinggi. Berikut metode yang dapat dilakukan dalam menerapkan pengajaran percakapan:

1. Guru harus memilih topik yang sesuai dengan tingkat pemikiran anak didik.

2. Guru memilih kata-kata dan kalimat-kalimat yang sesuai dengan pengetahuan dan kosakata yang mereka miliki.

3. Menyiapkan alat peraga dan mampu menggunakannya.

4. Guru harus menyertai ucapannya dengan isyarat dan praktek.

5. Setiap akhir pelajaran guru mengadakan Tanya jawab mengenai materi yang diajarkan Ada beberapa keunggulan pada metode percakapan sebagai berikut:

1. Anak didik terampil menyimak dan berbicara.

2. Anak didik menguasai pelafalan dengan baik seperti mendekati penutur asli.

3. Anak didik mengetahui banyak kosakata dan penerapannya dalam kalimat.

4. Anak didik memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi karena dilatih dan berikir dalam bahasa target.

5. Anak didik menguasai tata bahasa secara fungsional tidak sekadar teoritas, artinya berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya.

Adapun kelemahan dalam metode percakapan ialah:

1. Anak didik lemah kemampuan membaca karena materi dan latihan ditekankan pada bahasa lisan.

2. Memerlukan guru yang ideal dari segi keterampilan berbahasa dan kelincahan dalam penyajian pelajaran.

3. Tidak bisa dilaksanakan dalam kelas besar dan tidak diperbolehkannya pemakaian bahasa peserta didik.

4. Bisa terbuangnya waktu karena menjelaskan makna satu kata abstrak, dan terjadinya kesalahan persepsi atau penafsiran pada anak didik.

5. Model latihan meniru dan menghaalkan kalimat-kalimat yang kurang bermakna atau tidak realistis membosankan bagi orang dewasa.

D. Metode Dikte/Imla’ (Dictation Method)

Imla’ adalah adalah bahasa Arab yag berasal dari kata Amla yang artinya mendiktekan/dikte. Dikte merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai dalam ilmu bahasa, seorang guru menerapkan metode ini dengan meminta murid-murid dengan cara menulis apa yang dibacakan oleh sang guru. Tujuannya untuk melatih murid agar mahir atau terampil dalam menulis bahasa Arab dengan benar. Adapun langkah-langkah penggunaan metode imla’ sebagai berikut :

1. Tiap anak didik satu per satu disuruh maju ke papan tulis menuliskan kata-kata penting/kalimat-kalimat tertentu dalam bahasa Arab secara bergantian.

2. Semua murid disuruh menyiapkan buku tulis dan pena. Guru membacakan kata-kata tertentu atau kalimat-kalimat tertentu dalam bahasa Arab secara jelas dan tenang berulang-berulang 2 atau 3 kali atau secukupnya, setelah itu anak menuliskan apa yang telah ia lafalkan.

E. Metode Unit (Unit Method)


Poerwadarminta menjelaskan bahwa metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik- baik untuk mencapai suatu maksud.[2] Marrison mengemukakan, bahwa Unit itu adalah suatu bentuk mengajar untuk mengadakan hubungan-hubungan yang erat dan serasi antara faktor luar dan faktor dalam siswa. Faktor luar dalam arti mata pelajaran dan serta pengalaman yang didapat oleh siswa. Faktor dalam dengan arti kesanggupan serta proses belajar yang dapat dilakukan oleh siswa.[3]
[2]. Purwadarminta, Metode dan Tehnis Pembelajaran Partisipatif, Bandung: Falah Prodotion, 2010, hlm. 7
[3]. Oemar Hamalik, Pengajaran Unit, Bandung: Mandar Maju, 1989, hlm. 19

Jadi, metode unit adalah pengajaran yang dilakukan oleh peserta didik dalam pemecahan masalah yang dikerjakan secara bersama di dalam kelompok terlebih dahulu dirumuskan oleh pendidik. Menurut Sumantri Sumarna, metode unit itu juga dinamakan pembelajaran terpadu. Terdapat beberapa jenis keterpaduan dalam pembelajaran terpadu:

1. Keterpaduan antara dua atau lebih masalah, konsep keterampilan, tugas atau ide-ide lain didalam satu bidang studi.

2. Keterpaduan antara beberapa topik atau sub tema dalam berbagai bidang studi (model jaring laba-laba).

3. Lintas bidang studi yaitu pemecahan masalah yang melibatkan adanya prioritaskurikuler dan menemukan pengetahuan.

Dalam pelaksanaan metode pengajaran unit, sebaiknya guru menyadari bahwa adanya prinsip-prinsip pemakaian yang meliputi prinsip kerjasama, prinsip integrasi disiplin ilmu danprinsip berorientasi pada siswa.Hakekat metode ini adalah aplikasi dari sistem mengajar menurut Herbart, yang terdiri atas lima langkah, yaitu:

1) Persiapan dari pihak anak didik atau student preparation,

2) Penyajian materi atau presentation of material,

3) Bimbingan melalui induksi atau guidance through induction,

4) Generalisasi, dan

5) Aplikasi atau pelaksanaan.[4]
[4]. Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi. (Jakyta: Bulan Bintang, 1975), hlm.37

1. Langkah persiapan, langkah ini mula-mula guru meyiapkan bahan/topik yang menarik yang akan disajikan, yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan penguasaan kemampuan anak didik.

2. Langkah penyajian materi, guru menghidangkan topik yang telah disiapkan sebelumnya sedemikian rupa kepada anak didik, misalnya mengajarkan unit (bagian tertentu) dari struktur grammar bahasa Arab, unit-unit gramatika itu disusun/disistematisir sedemikian rupa, untuk kemudian disajikan secara berurut dari unit termudah sampai ke unit tersulit.

3. Langkah asosiasi, pada tahap ini guru menyatukan unit-unit pengetahuan yang telah dikuasai siswa untuk dilakukan secara utuh dan sempurna.

4. Langkah generalisasi, pada langkah ini siswa membaca, menyusun dan mengorganisir pengetahuan dan pengalaman bahasanya itu dengan kemampuan dan kelihaiannya sendiri.

Tujuan pemakaian metode pengajaran unit dalam kegiatan belajar mengajar adalah :

1. Melibatkan para siswa mengkaji dan memecahkan suatu masalah dari berbagai disiplinilmu atau berbagai aspek, sehinga mereka pada akhirnya memiliki pemikiran yangkomprehensif (menyeluruh) dalam memecahkan masalah.

2. Meningkatkan keterampilan siswa dalam merencanakan, mengorganisasikan danmemimpin suatu kegiatan.

3. Membekali dan meningkatkan kemampuan para siswa dalam menerapkan keterampilan-keterampilan proses atau metode ilmiah untuk memecahkan suatu masalah.

4. Mengembangkan sikap kritis, kerjasama, keingintahuan, menghargai waktu danmenghargai pendapat orang lain.

5. Mengembangkan keterampilan berkomunikasi antar-pribadi (intrapersonalcommunication) pada diri siswa.

F. Metode Bahasa Dengar (Audio Lingual Method)

Metode Audiolingual pertama kali dikenalkan oleh Nelson Broos pada tahun 1964 M. Dianggap sebagai metode pembelajaran bahasa asing yang paling efektif dan efisien. Metode ini merevolusi pengajaran bahasa dengan mengubahnya dari sekedar metode pembelajaran keilmuan bahasa, hasil perpaduan prinsip dan pandangan-pandangan linguistik struktural, psikologi behavoristik dan analisis kontrastif.

Metode Audiolingual didasarkan pada asumsi bahwa bahasa itu pertama-tama merupakan ujaran. Oleh karena itu, sebelum pembelajaran keterampilan membaca dan menulis, dalam pembelajaran bahasa Arab harus diawali dengan mendengarkan bunyi- bunyi bahasa dalam bentuk kata atau kalimat kemudian mengucapkannya. Dalam bahasa Arab, metode Audiolingual disebut dengan metode al-Sami’yyah al- Syafawiyyah.

Suja'i menjelaskan bahwa metode al-Syamiyyah al-Syafawiyah memiliki akar dari bahasa Arab "Sam'iyyah" yang berarti menyimak, bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua dimulai dari kosakata ke kosakata dan dari kalimat ke kalimat. Saat mendengar pembicaraan dengan kalimat yang runtut, pemahaman tidak langsung terjadi secara spontan, seseorang harus melalui proses berfikir terlebih dahulu untuk memahaminya. Sementara itu, kata "alSyafawiyah" berasal dari bahasa Arab yang berarti berbicara. Bahwa kemampuan menyampaikan pemikiran adalah aspek penting dalam memperoleh bahasa. Berbicara merupakan kemampuan bahasa yang berkembang dalam kehidupan manusia, yang merupakan hasil dari kemampuan mendengar.[5]
[5]. Budi Santoso Wibowo, Irfan, “Metode Audiolingual Dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, Journal on Education Volume 06, No. 04, Mei-Agustus 2024

Metode ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang seimbang dari empat Kemahiran dalam berbahasa, yaitu keterampilan mendengar االستماعatau listening skills, keterampilan bicara الكالم( atau speaking skills, keterampilan membaca ) القرآة( atau reading skills, dan keterampilan menulis ) الكتابة( atau writing skills.[6] Prinsip pengajaran metode ini harus banyak mendengar baik melalui ucapan- ucapan sendiri, kaset-kaset, video, radio, dan sebagainya. Adapun langkah-langkah penggunaan metode bahasa dengar:
[6]. AG. Widdawson, Teaching Language as Communication, (London: Oxford University Press, 1978), hal. 57

1. Penyajian dialog atau bacaan pendek, dengan cara guru membacanya berulang-ulang, dan anak didik menyimak tanpa melihat teks.

2. Peniruan dan pengahafalan dialog atau bacaan pendek, dengan menirukan bacaan guru kalimat per kalimat secara klasikal.

3. Penyajian pola-pola kalimat yang terdapat dalam dialog atas bacaan pendek, terutama yang dianggap sukar, karena terdapat struktur atau ungkapan yang berbeda dengan struktur dalam Bahasa anak didik. Hal ini dilakukan dengan teknik drill atau latihan.

4. Dramatisi dialog atau bacaan pendek yang sudah dilatihkan.

5. Pembentukan kalimat-kalimat lain yang sesuai dengan pola-pola kalimat yang sudah dipelajari.

Ada beberapa keunggulan dari metode bahasa dengar ialah ,

1. Para anak didik memiliki keterampilan pelafalan yang bagus.

2. Anak didik terampil membuat pola-pola kalimat yang sudah dilatihkan.

3. Suasana kelas hidup, karena para anak didik tidak tinggal diam, harus terus menerus merespon stimulus guru.[7]
[7]. Enok Rohayati, Metode Pengajaran Bahasa Arab, Palembang: Rafah Press, 2017, Hal.89

Sedangkan kelemahan dalam metode bahasa dengar sebagai berikut:

1. Peserta didik cenderung untuk meniru atau mengikuti kata-kata yang diucapkan oleh pengajar tanpa memahami maknanya.

2. Anak didik bisa berkomunikasi dengan lancar hanya apabila kalimat yang digunakan telah dilatihkan sebelumnya di dalam kelas.

3. Makna kalimat yang diajarkan biasanya terlepas dari konteks, sehingga anak didik hanya memahami satu makna, padahal suatu kalimat atau ungkapan bisa mempunyai beberapa makna tergantung konteksnya.

4. Dalam prakteknya, peserta didik tidak aktif dalam pembelajaran tetapi hanya bereaksi terhadap instruksi pengajar

5. Karena kesalahan dianggap sebagai “pelanggaran”, maka pelajar tidak dianjurkan berinterksi secara lisan atau tulis sebelum menguasai pola kalimat yang cukup banyak. Akibatnya siswa takut menggunakan bahasa.

6. Latihan-latihan pola bersifat manipulatif

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Secara keseluruhan, keberhasilan pengajaran bahasa Arab terletak pada pemilihan metode yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik siswa. Dengan mengintegrasikan berbagai metode dan prinsip dasar pengajaran, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif, menarik, dan relevan bagi siswa.

Untuk lembaga pendidikan yang ingin menerapkan metode pengajaran bahasa Arab, harus mempertimbangkan empat keterampilan utama dalam bahasa Arab—mendengar, bicara, membaca, dan menulis—andai hanya dengan satu macam metode atau teknik pembelajaran bahasa Arab. Oleh karena itu, perlulah strategi pembelajaran bahasa Arab yang matang sebelum pembelajaran dimulai.

Dengan demikian, kombinasi antara prinsip-prinsip dasar, langkah-langkah aplikasi, dan strategi-strategi pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pengajaran bahasa Arab dan mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dunia internasional yang kompleks.

DAFTAR PUSTAKA

AG. Widdawson, Teaching Language as Communication, (London: Oxford University Press, 1978), hal. 57

Budi Santoso Wibowo, Irfan, “Metode Audiolingual Dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, Journal on Education Volume 06, No. 04, Mei-Agustus 2024

Enok Rohayati, Metode Pengajaran Bahasa Arab, Palembang: Rafah Press, 2017, Hal.89

Kusnadi. 2019. Metode Gramatika Dalam Pembelajaran Bahasa Arab. Jurnal Kajian Pendidikan dan Bahasa Arab1(1) : 9-10

Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi. (Jakyta: Bulan Bintang, 1975), hlm.37

Oemar Hamalik, Pengajaran Unit, Bandung: Mandar Maju, 1989, hlm. 19

Purwadarminta, Metode dan Tehnis Pembelajaran Partisipatif, Bandung: Falah Prodotion, 2010, hlm. 7

Rabu, 30 Oktober 2024

Berbagai Metode Pengajaran Bahasa Arab (Bagian 1)

Disusun untuk memenuhi tugas makalah pada mata kuliah Metode Pengajaran Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Sabar Siswoyo, M.Pd
Oleh Kelompok 3 Prodi SBA :
1. Agis Sugiana, NIM. 023210069
2. Bagus Herlianto, NIM. 23220024
3. Fandi Aldiansyah, NIM. 23220026
4. Prasetyo, NIM. 23220030
5. Nadhor Khusaini, NIM.023210047

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah melimpahkan banyak karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua, dan selayaknya bagi seorang muslim untuk bersyukur atas karunia dan nikmat tersebut, yaitu dengan selalu beribadah kepada-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, serta orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat nanti.

Puji syukur kami haturkan kepada Allah Ta’ala karena atas kemudahan dan pertolongan-Nya kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Berbagai Metode Pengajaran Bahasa Arab (Bagian 1)” dan kami juga berharap kepada Allah Ta’ala semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri, mahasiswa kuliah Al-Ma’wa dan kaum muslimin pada umumnya. Dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ustadz Sabar Siswoyo, M.Pd yang telah memberikan ilmu kepada kami, semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan dan kesehatan kepada beliau, Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Bekasi, 30 Oktober 2024

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN.
1.1 Latar Belakang.
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Prespektif Metode Pengajaran Bahasa Arab
2.2 Indikator Penerapan Metode Pengajaran Bahasa Arab yang Berhasil
2.3 Model-Model Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab
2.3.1 Metode Struktural.
2.3.2 Metode Langsung (Direct Method).
2.3.3 Metode Alami (Tajwid Method).
2.3.4 Metode Berdasarkan Kejiwaan (Psicologic Method)
2.3.5 Metode Mendengarkan Dan Mengucapkan (Phonetic Method).
2.3.6 Metode Membaca (Reading Method).
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
3.2 Saran.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metode pembelajaran Bahasa Arab telah mendapatkan perhatian dari para ahli pembelajaran Bahasa dengan melakukan berbagai kajian dan peneitian untuk mengetahui efektifitas dan kesuksekan berbagai metode pembelajaran. Yaitu bahwa metode menjadi hal yang sangat penting dalam studi Bahasa Asing termasuk didalamnya adalah belajar Bahasa Arab. Kesuksesan belajar ini sangat barkaitan dengan berbagai faktor yang mendukungnya yaitu faktor antara siswa dengan guru, karena hal ini adalah metode atau cara yang dipakai dalam pembelajaran untuk mempermudah seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan kebahasaan, tetapi ada kalanya juga seseorang mendapatkan kesulitan jika dalam belajarnya tidak sesuai dengan karakteristik metodenya atau tidak tepat sasaran. Oleh karena itu metode yang tepat dalam belajar sebaiknya melihat konsep dari sebuah metode belajar Bahasa Arabnya.

Dengan metode pembelajaran yang digunakan dapatlah memudahkan siswa belajar sesuatu yang berguna dan bermanfaat, bagaimana memadukan antara isi dan nilai yang terkandung dalam pembelajaran, dan belajar diharapkan dapat membentu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut :


1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Prespektif Metode Pengajaran Bahasa Arab?
2. Apa Saja Indikator Penerapan Metode Pengajaran Bahasa Arab yang Berhasil?
3. Apa Saja Model-Model Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab?

1.3 Tujuan Penelitian.

1. Mengetahui Prespektif Metode Pengajaran Bahasa Arab.
2. Mengetahui Indikator Penerapan Metode Pengajaran Bahasa Arab yang Berhasil.
3. Mengetahui Model-Model Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perspektif Metode Pengajaran Bahasa Arab

Dalam proses pengajaran bahasa Arab, tahapan selanjutnya setelah melewati tahapan pen dekatan maka langkah berikutnya adalah menentukan metode yang tepat dalam pembelajaran. 

Metode yang baik dan efektif adalah metode yang memenuhi, setidaknya empat syarat. 

Pertama, kesesuaian metode dengan materi yang akan dibelajarkan. Jika kita akan mengajarkan materi muthola’ah misalnya, maka thoriqoh Al-istiqraiyyah (metode induktif) dan atau thoriqoh Al-qyasyiyah (metode deduktif) bukanlah metode yang tepat untuk digunakan, melainkan metode membaca, metode gramatika, dan metode menerjemahkan, sesuai dengan karakteristik materi itu sendiri. Sementara itu, metode yang diasumsikan relevan untuk mengajarkan hiwar dialog dan muhadatsah (percakapan) adalah metode langsung atau metode audiolingual dan metode bermain peranan (demonstrasi). 

Kedua, kesesuaian metode dengan tema atau topik bahasan yang hendak dibelajarkan. Jika topik bahasanya adalah ‘jumlah jumlah fi’liyah’ misalnya, maka metode yang dapat dipilih untuk menjelaskannya, antara lain adalah at-thoriqoh Al istiqraiyyah (metode induktif).

Ketiga, metode yang digunakan diniscayakan dapat memberikan motivasi dan penciptaan situasi belajar yang kondusif dan produktif. Misalnya, kita mengawali pembelajaran dengan menggunakan metode langsung dalam beberapa menit antara lain dengan menanyakan kabar mereka, atau apa yang sudah dipelajari minggu lalu, atau apa topik pelajaran hari ini agar Pelajar lebih tertarik dan merasa dilibatkan.

Keempat, metode yang dipilih hendaknya dapat mengakomodasi berbagai perbedaan individual (al-furuq al-fardiyah), seperti tingkat kemampuan, minat, bakat, pengalaman, latar belakang pelajar, dan sebagainya. Karena itu direkomendasikan agar kita tidak secara monoton menggunakan satu pendekatan dan metode saja, melainkan kita dapat meramu dan mensinergikan beberapa metode dalam satu proses pembelajaran. 

Selain situasi atau suasana belajar mengajar (pagi, siang, sore, konteks peristiwa; perkembangan yang sedang hangat, dan sebagainya) juga perlu mendapat perhatian dalam pemilihan metode agar proses pembelajaran tidak kehilangan konteks dan agar pelajar merasa terlibat dalam perkembangan yang sedang terjadi.[1]
[1] Ulfah Susilawati, Dra., M.SI, METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Teori dan Aplikasi, Total Media, Cetakan Pertama, Oktober 2020, HAL. 95-98.

2.2 Indikator Penerapan Metode Pengajaran Bahasa Arab yang Berhasil

Idealnya setiap pengajaran bidang studi apapun itu berlangsung sesuai dengan yang diharapkan, yakni tepat dalam pemilihan pendekatan, metode dan tekniknya. Disisi lain juga memperhatikan ketepatan waktu, tepat sasaran, tepat tujuan, dan sesuai kebutuhan. Namun demikian, terkadang antara teori dan praktik seringkali terdapat perbedaan yang cukup tajam, sehingga harapan itu tidak tercapai sepenuhnya. Meskipun demikian, ada beberapa indikator penting yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur ketepatan dalam pemilihan pendekatan metode dan teknik olih guru akan berimbas pada keberhasilan atau efektivitas pembelajaran bahasa Arab. Diantara indicator keberhasilan tersebut adalah: 

Pertama, tujuan pengajaran secara umum (keseluruhan) dan khusus (setiap topik bahasan) tercapai secara optimal. Ukurannya adalah pelajar dapat mengikuti dan memahami pelajaran bahasa Arab dengan baik nilai rata-rata bahasa Arab memuaskan (minimal 75).

Kedua, pelajar belajar bahasa Arab dengan penuh minat, kesungguhan, rasa senang, dan memperlihatkan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini antara lain dapat dilihat dari respon mereka ketika diajak berdialog perhatian mereka terhadap pelajaran, kesungguhan mereka dalam mengerjakan tugas latihan, respon mereka yang tinggi dengan mengajukan pertanyaan juga prestasi mereka baik, dan sebagainya.

Ketiga, guru mampu menunjukkan profesionalitasnya dalam pembelajaran bahasa Arab, diantaranya: 
a. memiliki penguasaan materi yang luas dan mendalam, 
b. mempunyai, visi, misi, orientasi, pendekatan dan metode secara memadai, 
c. memiliki komitmen tinggi dan mencintai profesinya sebagai pendidik, 
d. memiliki kreativitas, kurioritas tinggi, dan semangat kuat untuk terus mengembangkan ilmu (bahasa Arab), 
e. selalu berusaha memotivasi dan memajukan anak didik, 
f. mempunyai integritas moral dan keteladanan yang baik, dan 
g. berjiwa demokratis responsif terhadap perkembangan zaman, reformis, dan mampu menyelesaikan persoalan. 

Keempat, proses pembelajaran bahasa berlangsung secara manusiawi (humanis), dinamis, menyenangkan dan produktif, tidak menonton dan membosankan, sehingga pelajar merasa termotivasi, ingin terus belajar dan terpacu untuk berprestasi. Kondisi demikian dapat diciptakan jika guru dapat memahami karakteristik dan linguistik bahasa Arab, prinsipprinsip pembelajaran bahasa Arab yang tepat psikologis belajar, psikologis perkembangan pelajar, dan sebagainya secara memadai dan penuh apresiatif.

Kelima, hasil pengajaran bahasa Arab dirasakan bermanfaat bagi perkembangan kepribadian pelajar, dapat membantu meningkatkan penguasaan ilmu, yang dibutuhkan pelajar dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Dan guru dapat menunjukkan signifikansi antara bahasa Arab dengan pelajaran lain, seperti al-quran, hadits, akidah, akhlak, fiqih, dan SPI. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Arab harus fungsional dan bermuara pada nilai teoritis (penguatan dan pengembangan ilmu) dan nilai pragmatis (kegunaan praktis).[2] 
[2] Ulfah Susilawati, Dra., M.SI, METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Teori dan Aplikasi, Total Media, Cetakan Pertama, Oktober 2020, HAL. 98-100.

2.3 Model-Model Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Arab :

Makalah ini membahas beberapa metode dalam pembelajaran bahasa arab: 

2.3.1 Metode Struktural.

Menurut Sholah Abdul Majid (1981: 40) Karakteristik metode ini diantaranya adalah bahwa kegiatan kebahasaan terfokus pada kaidah bahasa serta menghafal tasrifnya saja, memperhatikan cara baca, tulisan dan terjemah yang detail dari teks bahasa asing ke bahasa pembelajar. Sementara pengajar hanya memberikan penjelasan kaidah bahasa yang terdapat dalam bacaan, memberikan mufrodat baru yang terkait dengan materi, dan juga bersama pelajar menterjemahkan kedalam bahasa asli.

Ahmad Fuad Effendy (2009: 41-42) memberikan penjelasan secara detail tentang langkah-langkah yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode gramatika-terjemah sebagai berikut:

a. Guru menjelaskan definisi butir-butir tata bahasa (grammar) kemudian memberikan contoh-contohnya secara aplikatif dan buku teks yang dipakai sebagai referensi memang menggunakan metode deduktif.

b. Guru menuntun peserta didik dalam menghafalkan daftar mufrodat (mufrodat) dan terjemahannya, atau meminta peserta didik mendemonstrasikan hafalan mufrodat yang telah diajarkan sebelumnya.

c. Guru meminta peserta didik membuka buku teks bacaan ke mudian menuntun peserta didik mamahami isi bacaan dengan cara menerjemahkannya kata per kata atau kalimat per kalimat. Atau guru meminta peserta didik mem baca dalam hati (qiro’ah shamitah) kemudian mencoba menerjemah kannya per kata atau kalimat; guru membetulkan terjemahan yang salah dan menerangkan beberapa segi ketatabahasaan (nahwu-sharaf) dan keindahan bahasanya (balaghah).[3] 
[3] Ulfah Susilawati, Dra., M.SI, METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Teori dan Aplikasi, Total Media, Cetakan Pertama, Oktober 2020, HAL. 101.

Beberapa kelebihan metode ini antara lain: 

a. Pelajar menguasai secara mendalam di luar kepala kaidahkaidah tata bahasa bahasa obyek atau bahasa target. 

b. Pelajar memahami isi detail bahan bacaan yang dipelajarinya dan mampu menerjemahkannya. 

c. Pelajar memahami karakteristik bahasa target dan banyak hal lainnya yang bersifat teoritis, dan dapat membandingkannya dengan karakteristik bahasa ibu.

d. Metode ini memperkuat kemampuan pelajar dalam mengingat dan menghafal.

e. Bisa dilaksanakan dalam kelas besar dan tidak menuntut kemampuan guru yang ideal. 

Kelemahan metode ini adalah sebagai berikut:

a. Metode ini lebih banyak mengajarkan “tentang bahasa” bukan mengajarkan ”keterampilan berbahasa”. 

b. Metode ini hanya mengajarkan keterampilan membaca, sedang tiga keterampilan yang lain (menyimak, berbicara, menulis) kurang diperhatikan.

c. Terjemahan harfiah sering mengacaukan makna kalimat dalam konteks yang luas, dan hasil terjemahannya tidak lazim menurut cita rasa bahasa ibu peserta didik.

d. Pelajar hanya mempelajari satu ragam bahasa, yaitu ragam bahasa tulis klasik, sedangkan bahasa tulis modern dan bahasa percakapan tidak diperoleh.

e. Mufrodat, struktur dan ungkapan yang dipelajari oleh peserta didik mungkin sudah tidak dipakai lagi atau dipakai dalam arti yang berbeda dalam bahasa modern.

f. Karena otak peserta didik dipenuhi oleh masalah-masalah tata bahasa maka tidak tersisa lagi tempat untuk berekspresi dan berkreasi. Demikian beberapa sisi kelemahan metode gramatika terjemah yang semestinya harus dipertimbangkan bagi para pengajar ketika memilih metode gramatika-terjemah.

2.3.2 Metode Langsung (Direct Method)

Metode ini dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu yaitu, dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara.[4] Adapun ciri-ciri metode langsung adalah sebagai berikut : 
[4] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran … hlm.45

1). Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

2). Materi pelajaran berupa : buka teks yang berisi daftar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat, kosa kata itu umumnya kongkrit dan ada dilingkungan siswa. Ciri buku teksnya dipenuhi dengan tasmiyah “ ma : ha : dza... ma : dza : lika, yang selalu diperagakan.

3). Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif, yang berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan.

4). Kata-kata kongkrit diajarkan melalui demonstrasi, peragaan, benda langsung, dan gambar, sedangkan kata-kata abstrak melalui asosiasi, konteks dan definisi.

5). Kemampuan komunikasi lisan dilatihkan secara cepat melalui tanya jawab yang terencana dalam pola interaksi yang bervariasi.

6). Kemampuan berbicara dan menyimak kedua-duanya dilatih.

7). Guru dan siswa sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan stimulus berupa contoh ucapan, peragaan dan pertanyaan, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan, menjawab pertanyaan, memeragakan, dan sebagainya.

Ciri-ciri lain dari metode ini yaitu sebagai berikut:

1) Materi pelajaran terdiri dari kata-kata dan struktur kalimat yang banyak atau biasa digunakan sehari-hari.

2). Mengajarkan grammar tidak harus menghafalkan kaidah-kaidah gramatika, tetapi dibentuk situasi yang sedemikian rupa dan dipraktekkan secara lisan langsung.

3). Menjelaskan arti yang konkrit dengan benda-benda langsung atau membuat gambar benda yang bias difahami murid sedangkan arti yang masih abstrak dengan melalui asosiasi. 

4). Harus banyak menggunakan latihan mendengarkan dan menirukannya secara spontan dengan tujuan agar murid dapat mencapai penguasaan bahasa secara otomatis. 

5). Aktifitas belajar banyak dibimbing guru langsung praktek dalam kelas, sedangkan di luar kelas murid sudah terbiasa mempraktekkannya dengan kawan-kawan setingkat.

6). Mengajarkan bacaan harus diberikan secara lisan terlebih dahulu, dengan jalan menunjukkan atau menuliskan kata-kata yang sukar satu demi satu, kemudian menghubungkannya dalam bentuk kalimat dan alinea. Dari alinea yang satu ke alinea yang lain terbentuklah menjadi satu judul cerita dan bacaan.

7). Sejak awal murid dilatih berfikir dalam bahasa asing.[5]
[5] Juwairiyah Dahlan, Metode Belajar …. hlm. 111

Adapun langkah-langkah penyajian metode ini:

1). Guru memulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjukkan bendanya atau gambar benda itu, memeragakan sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.

2). Latihan berikutnya berupa tanya jawab dengan kata ” ma, hal, ayna ” dan sebagainya, sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan. Model interaksi bervariasi, biasanya dimulai dengan klasikal, kemudian kelompok, dan akhirnya individual, baik guru-siswa maupun antar siswa.

3). Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemhaman makna, siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.

4). Kegitan berikutnya menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada didalam buku, dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis.

5). Bacaan umum yang sesuai dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya berupa cerita humor, cerita yang mengandung hikmah, dan bacaan yang mengandung ucapan-ucapan indah. Karena pendek dan menarik biasanya siswa dapat menghafalnya diluar kepala. 

6). Tata bahasa diberikan diberikan pada tingkat tertentu secara induktif.[6]
[6] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi …, hlm.49

Kelebihannya metode ini, diantaranya : 

1). Siswa trampil menyimak dan berbicara.

2). Siswa menguasai pelafalan dengan baik bagikan penutur asli.

3). Siswa mengetahui banyak kosa kata dan pemakainnya dalam kalimat.

4). Pelajar memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi karena dilatih berpikir dalam bahasa target tidak terhambat oleh proses penerjemahan.

5). Siswa menguasai tata bahasa secara fungsional tidak sekedar teoritik, artinya berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya.[7]
[7] Ibid, hlm. 49

Adapun kelemahannya metode ini, yaitu : 

1). Siswa lemah dalam kemampuan membaca pemahaman karena materi dan latihan ditekankan pada bahasa Latin.

2). Memerlukan guru yang ideal dari segi kertrampilan berbahasa dan kelincahan dalam penyajian pelajaran. 

3). Tidak bisa dilakukan dalam kelas yang besar.

4). Tidak diperbolehkananya pemakaina bahasa ibu, siswa bisa berakibat terbuangnya waktu untuk menjelaskan makna satu kata abstrak, dan terjadinya kesalahan persepsi atau penafsiran pada siswa.

5). Model latihan menirukan dan menghafal kalimat-kalimat yang kadangkala tidak bermakna atau tidak realistis karena tidak kontekstual, baisa membosankan bagi siswa.


2.3.3 Metode Alami (Tajwid Method)

Pada hakikatnya metode ini banyak menunjukkan persamaan dengan metode langsung, menurut metode ini bahasa didik sama sekali tidak boleh digunakan termasuk menerjemahkannya, dinamakan metode alamiah karena dalam proses belajar mengajar anak didik dibawa ke alam seperti halnya belajar bahasa ibu[8], karena itu menurut penulis metode ini sebenarnya adalah metode yang digunakan untuk mengajarkan bahasa arab untuk anak didik arab dan metode langsung merupakan analog dari metode amalami untuk mengajarkan bahasa kedua bagi anak didik.
[8]. Mukti Ali, Pedoman pengajaran Bahasa Arab, ( Jakarta : Departemen Agama 1976 ) hlm 96

Ciri-Ciri Penggunan Metode Alami

1). Metode ini berdasarkan teorinya kepada kebiasaan anak-anak dalam mempelajari bahasa ibunya, oleh karena itu metode ini juga disebut metode kebiasaan.

2). Yang pertama-tama diajarkan adalah bunyi dan kemudian kata-kata dan kalimat secara lisan, dengan memperkenalkan benda-benda dan gambar-gambar.

3). Kata-kata baru diajarkan melalui kata-kata yang telah dikenal sebelumnya.

4). Gramatika digunakan untuk membetulkan kesalahan-kesalahan.

5). Untuk membantu mengingat kata-kata yang dilupakan kamus.

6). Penyajian pelajaran mengikuti urutan, menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), menulis (writing) baru kemudian gramatika.

7). Sebagai halnya si anak pada waktu belajar bahasa ibu selain dengan cara pengulangan, juga tidak selalu mendengar bunyi, kata dan kalimat itu dari orang yang sama, oleh karena itu dianjurkan untuk menggunakan beberapa pengajar secara bergantian.

Keungulan Metode Alami

1). Pada tingkat lanjutan metode ini sangat efektif, karena setiap individu siswa dibawa kedalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendengarkan dan menggunakan percakapan dalam bahasa arab.

2). Pengajaran membaca dan berbicara dalam bahasa arab sangat diutamakan, sedangkan pelajaran gramatika diajarkan sewaktu-waktu saja.

3). Pengajaran menjadi bermakna dan mudah diserap oleh siswa, karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan sehari-hari) anak didik.

Kelemahan Metode Alami

1). Siswa merasa kesulitan belajar apabila belum memiliki bekal dasar bahasa asing terutama pada tingkat-tinkat pemula, sehingga penggunaan/pemakaian bahasa asli siswa tidak dapat dihindari dengan demikian tujuan semula dari metode ini untuk membaca dan berbicara selalu dalam bahasa asing sulit diterapkan secara murni tapi harus diterapkan secara konsekuen.

2). Pada umumnya anak didik dan guru bersikap tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapan sesuatu yang salah secara ilmiah yang amat perlu dirubah.

3). Pada umumnya pengajaran bahasa asing di sekolah sangat terasa kurang dalam pengadaan macam-macam media/alat peraga yang diperlukan.

4). Guru yang memiliki kekurangan dalam mengajar dan pengalaman berbahasa asing menjadi faktor sulitnya diterapkan dan berhasilnya metode ini, Guru haruslah aktif dalam berbicara bahasa asing tersebut, barulah muridnya akan mampu berbahasa asing dengan aktif.

2.3.4 Metode Berdasarkan Kejiwaan (Psicologic Method)

Psikolinguistik dalam metode pengajaran bahasa Arab dapat menjadi dasar untuk meningkatkan proses pembelajaran di ruang kelas, sehingga menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung.[9] Dalam konteks praktis, psikolinguistik berfungsi sebagai alat untuk mengidentifikasi bahan yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Selanjutnya, metode pengajaran bahasa Arab harus disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis siswa tersebut. Psikolinguistik dapat memberikan panduan kepada guru dalam menentukan materi bahasa yang akan diajarkan dan memahami bahasa Arab.
[9] Muhammad Yusuf, “Psikolinguistik Dalam Metode Pembelajaran Bahasa Arab Di Era Postmetode,” Al Mi’yar: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa Arab dan Kebahasaaraban 2, no. 2 (August 30, 2019): 183.

Sosiolinguistik, faktor eksternal mencakup keadaan filosofis, keadaan psikis, intelegensi, bakat dan minat, dan daya komprehensi seseorang.[10] Dari beberapa faktor eksternal tersebut faktor minat atau bakat dijadikan faktor yang paling dominan karna minat bakat menjadi pendukung utama dalam proses belajar.[11] Sepertihalnya orang yang kurang memiliki ketertarikan dalam pembelajaran bahasa Arab akan kesulitan mengoptimalkan manfaat dari hasil belajar. Dari perspektif ini, bahasa dapat dianggap sebagai sekelompok tindakan berbicara dalam masyarakat. Dengan demikian, peran seorang guru memiliki integritas yang tak dapat dipungkiri, mengingat perannya yang sangat signifikan dalam proses pembelajaran. Peran ini terkait dengan cara seorang guru secara kreatif memanfaatkan proses pembelajaran bahasa Arab di dalam kelas.
[10] Fikni Mutiara Rachma, “Tinjauan Sosiolinguistik Terhadap Proses Pembelajaran Bahasa Arab,” Tatsqifiy: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab 1, no. 1 (February 13, 2020): 1–9
[11] I Made Adi Mahardika, Lulup Endah Tripalupi, and I Wayan Suwendra, “FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Kesiapan Menjadi Guru Pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Angkatan 2014 Universitas Pendidikan Ganesha,” Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha 11, no. 1 (2019): 160–271.

Peran psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa Arab dapat dilihat ketika guru memperhatikan perbedaan individu dalam gaya belajar, preferensi belajar, dan tingkat motivasi siswa. Guru menggunakan berbagai metode pengajaran, seperti penggunaan audiovisual, permainan, atau aktivitas kelompok, untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa secara individu. Dengan memahami karakteristik psikologis siswa, guru dapat menyusun strategi pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan bahasa Arab mereka

2.3.5 Metode Mendengarkan Dan Mengucapkan (Phonetic Method)

Selain disebut sebagai metode fonetik metode ini juga sering disebut dengan istilah oral method karena dianggap sebagai usaha penyempurnaan dari metode langsung, ia juga bisa dinamakan reform method. Jadi metode ini berhubungan erat dengan metode langsung dengan kata lain rumpun metode langsung.

Menurut metode fonetik, pelajaran sebaiknya diawali oleh latihan-latihan pendengaran (ear training) bunyi. Setelah itu diikuti oleh latihan-latihan pengucapan bunyi terlebih dahulu, diteruskan kemudian oleh kata, kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang.

Langkah-langkah penggunaan metode fonetik:

1). Guru membacakan bacaan-bacaan bahasa Arab di depan kelas, atau membuka/ menghidupkan cara bacaan berupa radio kaset/video, anak didik mendengarkan dan memperhatikan baik-baik program bacaan itu dengan cermat, serius (tanpa adanya kesan main-main saat berlangsungnya kegiatan membaca), anak didik harus memperhatikan betul langgam dan intonasi, serta gerak-gerik bentuk mimik tertentu dalam bacaan.

2). Seri-seri bacaan itu hendaknya disusun sedemikian rupa hingga menjadi bahan bacaan yang sempurna/berkelanjutan.

3). Guru dapat menghentikan seri-seri pelajaran tertentu jika seri pelajaran tersebut sudah dianggap selesai dan dikuasai oleh anak didik, kemudian dapat dilanjutkan pada seri berikutnya.

4). Setelah pelajaran membaca selesai, maka latihan percakapan dapat dilakukan. Misalnya percakapan-percakapan yang sifatnya mula- mula sederhana, setelah itu menuju pada percakapan yang kompleks/lebih sulit.

5). Untuk memperjelas ucapan dan percakapan, maka metode ini dianjurkan untuk menggunakan alat peraga/media pengajaran.

6). Pada setiap akhir materi pelajaran, guru hendaknya memberikan latihan-latihan praktis membaca dan latihan percakapan pada masing-masing anak didik, dan jangan lupa guru dapat memberikan berbagai catatan-catatan khusus, kesimpulan-kesimpulan juga motivasi terhadap anak didik.

Keunggulan metode fonetik:

1). Metode ini mengajarkan kemampuan membaca anak didik dengan lancer dan fasih sekaligus kemampuan percakapan, banyak drill berupa dialog dan tulisan.

2). Anak didik menyimak kesalahan bacaan dan percakapan dari guru atau teman sekelasnya, untuk kemudian diubah dan diperbaiki letak-letak kesalahannya.

Kelemahan metode fonetik

1). Metode ini memerlukan kesungguhan dan keahlian atau professional dari pihak guru, disamping perencanaan dan waktu harus matang.

2). Pada tingkat-tingkat pemula, metode ini masih sulit diterapkan terutama bagi anak didik yang belum memiliki bekal bahasa arab yang memadai, sebab itu perlu memotivasi anak didik dan mengajarkannya secara komunikatif.

3). Kalau seri-seri pelajaran tidak disusun dan direncanakan sedemikian rupa, maka pelajaran dan penguasaan materi bagi anak didik menjadi mengambang sebagai contoh materi pelajaran mambaca diberikan sedikit, juga percakapan pun serba tanggung. Oleh sebab itu, pengaturan waktu dan materi diatur sedemikian rupa untuk mencapai hasil yang optimal.[12]
[12] Metodologi pengajaran bahasa Arab, h. 79 - 81

2.3.6 Metode Membaca (Reading Method)

Metode membaca (Reading Method) yaitu menyajikan materi pelajaran dengan cara lebih dulu mengutamakan membaca, yakni guru mula-mula membacakan topik-topik bacaan, kemudian diikuti oleh siswa anak didik. Tapi kadang-kadang guru dapat menunjuk langsung anak didik untuk membacakan pelajaran tertentu lebih dulu, dan tentu siswa lain memperhatikan dan mengikutinya.

Teknik metode membaca (Reading Method) ini dapat dilakukan dengan cara guru langsung membacakan materi pelajaran dan siswa disuruh memperhatikan/ mendengarkan bacaan-bacaan gurunya dengan baik, setelah itu guru menunjuk salah satu di antara siswa untuk membacakannya, dengan jalan berganti-ganti (bergiliran).

Setelah masing-masing siswa mendapat giliran membaca, maka guru mengulangi bacaan itu sekali lagi dengan diikuti oleh semua siswa hal ini terutama pada tingkat-tingkat pertama; lalu kemudian guru mencatatkan kata-kata sulit atau baru yang belum diketahui siswa di papan tulis untuk dicatat di buku catatan untuk memperkaya perbendaharaan kata-kata dan begitulah selanjutnya, hingga selesai topik-topik yang telah ditetapkan/ditentukan.

Kebaikan Metode Reading/Membaca

Jika dibandingkan dengan metode-metode lain, maka metode ini memiliki segi kelebihan/kebaikan-kebaikan antara lain :

1). Siswa dapat dengan lancar membaca dan memahami bacaan-bacaan berbahasa asing dengan fasih dan benar

2). Siswa dapat menggunakan intonasi bacaan bahasa asing sesuai dengan kaidah membaca yang benar

3). Tentu saja dengan pelajaranmembaca tersebut siswa diharapkan mampu pula menerjemahkan kata-kata atau memahami kalimat-kalimat bahasa asing yang diajarkan, dengan demikian pengetahuan dan penguasaan bahasa anak menjadi utuh

Kekurangan Metode Reading/Membaca

1). Pada metode membaca ini, untuk tingkat-tingkat pemula terasa agak sukar diterapkan, karena siswa masing sangat asing untuk membiasakan lidahnya, sehingga kadang-kadang harus terpaksa untuk berkali-kali menuntun dan mengulang-ulang kata dan kalimat yang sulit ditiru oleh lidah siswa yang bukan dari bahasa asing yang sedang diajarkan. Dan dengan demikian metode ini relatif banyak menyita waktu.

2). Dilihat dari segi penguasaan bahasa, metode reading lebih menitikberatkan pada kemampuan siswa untuk mengucapkan/melafalkan kata-kata dalam kalimat-kalimat bahasa asing yang benar dan lancar. Adapun arti dan makna kata dan kalimat kadang-kadang kurang diutamakan. Hal ini dapat berarti pengajaran terlalu bersifat Verbalisme

3). Pengajaran sering terasa membosankan, terutama apabila guru yang mengajarkan tidak simpatik/metode diterapkan secara tidak menarik bagi siswa. Dari segi tensi suarapun kadang-kadang cukup menjenuhkan karena masing-masing guru dan siswa terus-menerus membaca topik-topik pelajaran. Oleh karena metode ini memiliki segi kekurangan yang berarti, maka perlu diperhatikan hal-hal yang berikut :

- Hendaknya pokok-pokok materi yang akan disajikan senantiasa disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa pada tingkat tertentu. Pilih topik dan materi pelajaran yang menarik hati bagi para siswa/yang sesuai dengan keinginan jiwa mereka

- Untuk menghindari verbalisme dalam pengajaran maka guru hendaknya dapat mengartikan/menerjemahkan kata-kata atau kalimat-kalimat yang belum dimengerti/pahami siswa dalam bacaan-bacaan tersebut

- Pada umumnya alat peraga/media pengajaran berupa pengeras suara, radio tape/kaset, video dan alat-alat sejenisnya sangat membantu mempercepat/ memperlambat lidah/bacaan siswa. Disamping itu dengan alat peraga, pengajaran menjadi menarik dan tidak membosankan.

- Buku-buku bacaan dapat dipilih dan disusun sedemikian rupa hingga menarik/menyenangkan siswa. Pada umumnya bacaan berupa novel, cerpen (cerita-cerita), pepatah, hikmah-hikmah dalam bahasa asing, ilmu pengetahuan dan lain-lain sangat menarik untuk bahan bacaan, terutama pada tingkat-tingkat pemula; pada tingkat-tingkat lanjutan bacaan-bacaan dapat diarahkan pada yang bersifat ilmiah/pemikiran.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan.

Dari penjelasan yang penulis paparkan diatas, dapat simpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan cara yang sistematis dalam menyampaikan materi kepada siswa guna mencapai tujuan yang diinginkan, Memberi jalan untuk mencapai suatu tujuan pengajaran yang ditempuh oleh guru dan siswa dalam belajar bahasa arab.

Jadi, dengan adanya Metode Pembelajaran Bahasa Arab yang baik maka akan mewujudkan hasil yang baik juga, untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Artinya Metode dalam pembelajaran akan mempengaruhi segala macam bentuk aktifitas yang dilakukan oleh siswa sehingga proses dalam pembelajaran menentukan sikap dan perubahan yang terjadi khususnya pada sebuah target dan tujuan menuju keberhasilan yang sempurna dan menjadikan manusia yang beradab dan bermoral.

Dalam makalah ini hanya ditugaskan untuk menjelaskan tentang 6 (enam) metode pembelajaran, yaitu :
1. Metode Struktural.
2. Metode Langsung (Direct Method).
3. Metode Alami (Tajwid Method).
4. Metode Berdasarkan Kejiwaan (Psicologic Method).
5. Metode Mendengarkan Dan Mengucapkan (Phonetic Method).
6. Metode Membaca (Reading Method).

Masih terdapat beberapa metode lain yang akan dilanjutkan pemaparannya pada makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA.

Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Malang, Misykat, Cet.IV, 2009

Muljanto Sumardi, dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Islam, (Jakarta: PPSPA Depag RI, 1976)

Juwairiyah Dahlan, Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab,Cet. I ( Surabaya : Usaha Nasional, 1992 ),

Ulfah Susilawati, Dra., M.SI, METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Teori dan Aplikasi, Total Media, Cetakan Pertama, Oktober 2020

Rohayati, Enok. 2017. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Palembang: Rafah Press Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Muhammad Yusuf, “Psikolinguistik Dalam Metode Pembelajaran Bahasa Arab Di Era Postmetode,” Al Mi’yar: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa Arab dan Kebahasaaraban 2, no. 2 (August 30, 2019).

Fikni Mutiara Rachma, “Tinjauan Sosiolinguistik Terhadap Proses Pembelajaran Bahasa Arab,” Tatsqifiy: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab 1, no. 1 (February 13, 2020).

I Made Adi Mahardika, Lulup Endah Tripalupi, and I Wayan Suwendra, “FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Kesiapan Menjadi Guru Pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Angkatan 2014 Universitas Pendidikan Ganesha,” Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha 11, no. 1 (2019):

Rosyidi, Abdul Wahab, Media Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: UIN Malang Press, 2009.

Sabtu, 26 Oktober 2024

Pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Disusun untuk memenuhi tugas makalah pada mata kuliah Metode Pengajaran Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Sabar Siswoyo, M.Pd
Oleh Kelompok 3 Prodi SBA :
1. Agis Sugiana, NIM. 023210069
2. Bagus Herlianto, NIM. 23220024
3. Fandi Aldiansyah, NIM. 23220026
4. Prasetyo, NIM. 23220030
5. Nadhor Khusaini, NIM.023210047

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah melimpahkan banyak karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua, dan selayaknya bagi seorang muslim untuk bersyukur atas karunia dan nikmat tersebut, yaitu dengan selalu beribadah kepada-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, serta orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat nanti.

Puji syukur kami haturkan kepada Allah Ta’ala karena atas kemudahan dan pertolongan-Nya kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa Arab” dan kami juga berharap kepada Allah Ta’ala semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri, mahasiswa kuliah Al-Ma’wa dan kaum muslimin pada umumnya. Dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ustadz Sabar Siswoyo, M.Pd yang telah memberikan ilmu kepada kami, semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan dan kesehatan kepada beliau, Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Bekasi, 25 Oktober 2024

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.
1.1 Latar Belakang.
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pendekatan Bahasa Arab
2.2. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab
2.3. Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab
1. Pendekatan Struktual.
2. Pendekatan Pragmatik.
3. Pendekatan Komunikatif.
4. Pendekatan All In One System Dan System Separated System.
5. Pendekatan Humanitik.
6. Pendekatan Teknologi.
7. Pendekatan Analitik dan Non Analitik.
8. Pendekatan Audio Lingual.
9. Pendekatan Kognitif.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
3.2 Saran.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembelajaran adalah suatu proses hubungan antara siswa, guru, dan sumber belajar yang terjadi pada lingkungan pembelajaran. Hal itu dilakukan oleh pengajar dan anak didik guna merubah suatu pemahaman, dari tidak bisa menjadi bisa, sehingga timbullah kesalingan dalam pertukaran suatu informasi.[1] Tak hanya itu, salah satu proses pembelajaran juga bertujuan untuk merubah sikap dan tingkah laku anak didik sesuai dengan yang dikehendaki.[2] Dan juga bukan hanya sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan saja, melainkan mengkondisikan siswa untuk belajar.[3]
[1]. Chusnul Chotimah and Muhammad Fathurrohman, Paradigma Baru Sistem Pembelajaran,
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2018), hlm. 1
[2]. Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 100
[3]. Munir, Pembelajaran Jarak Jauh: Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi, (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 1

Seperti halnya pada mayoritas guru Bahasa Arab dalam menyajikan materi bahasa Arab masih banyak menggunakan cara konvensional, yaitu sekedar menggunakan buku dan papan tulis. Dengan cara konvensional ini, mayoritas peserta didik kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran bahasa Arab. Keberhasilan dalam pembelajaran bahasa Arab tidak hanya dipengaruhi oleh media pembelajaran semata, tetapi banyak hal yang terkait di dalamnya, termasuk pendekatan, metode, landasan dan model pembelajaran. Kegiatan yang baik dari proses pembelajaran seyogyanya perlu sebuah kematangan perencanaan agar tujuan dapat tercapai sesuai harapan yang diinginkan.

Tercapainya tujuan pembelajaran, menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Adapun sebagian upaya tersebut adalah dengan ketepatan penggunaan dalam pendekatan pembelajaran. Karena suatu pendekatan pembelajaran menentukan keefektifan suatu proses belajar-mengajar. Istilah pendekatan dalam pembelajaran dipahami sebagai sudut pandang atau tolak ukur pada proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran digunakan sebagai rambu pendidik dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran terlaksana secara maksimal dan terarah. Karena pentingnya pendekatan digunakan, maka seorang pendidik hendaklah menyiapkan terlebih dahulu pendekatan yang akan digunakan sebelum menyusun kerangka pembelajaran, karena dengan pendekatan yang digunakan oleh seorang pendidik, akan menentukan strategi, teknik dan taktik serta komponen-komponen lain yang akan digunakan pendidik pada kegiatan pembelajarannya.

Ketepatan penentuan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh pendidik akan menentukan berapa besar prosentase tujuan pembelajaran yang telah direncanakan akan bisa tercapai. Sehingga pendidik hendaknya menentukan pendekatan yang digunakan secara tepat, serta memahami makna dan fungsi pendekatan pada sebuah pembelajaran, agar terhindar dari kesalahan selama proses pembelajaran dilaksanakan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Pendekatan Bahasa Arab?
2. Bagaimana Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab?
3. Apa Saja Bentuk Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab?

1.3 Tujuan Penelitian.

1. Memahami Pengertian Pendekatan Bahasa Arab.
2. Mengetahui Pentingnya Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab.
3. Mengetahui Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pendekatan Bahasa Arab

Pendekatan adalah proses, perbuatan, atau cara mendekati. Dapat juga dikatakan bahwa pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi yang saling berkaitan. Pendekatan artinya cara memperoleh subjek atas objek untuk tercapainya tujuan serta sudut pandang pada suatu objek permasalahan, berupa sekumpulan asumsi tentang proses belajar-mengajar.[4] Pendekatan dalam dunia pembelajaran merupakan pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Merupakan suatu cara pandang dalam suatu bidang ilmu, bagaimana seorang pendidik akan menggunakan suatu cara atau strategi dan metode ketika hendak memulai pembelajaran serta seperangkat asumsi mengenai cara belajar-mengajar.
[4] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm. 129

Pendekatan (madkhal) dan metode (thariqah) mempunyai kesamaan arti, namun keduanya sangat berbeda ketika diterapkan dalam konteks pembelajaran. Pendekatan berarti sudut pandang atau titik tolak tertentu dalam memandang pembelajaran. Dimulai dari pendekatan pembelajaran akan melahirkan metode yang sesuai dengan prinsip secara filosofis. Jadi, suatu metode itu merupakan proses dalam penerapan rencana yang telah disusun. Sehingga metode pembelajaran berupaya mewujudkan strategi yang sejalan dengan pendekatan pembelajaran.[5] Sedangkan strategi/teknik (uslub) bersifat operasional yang merupakan kegiatan khusus yang diterapkan dalam suatu kelas, selaras dengan pendekatan dan metode yang telah ditentukan guru. Sehingga kreativitas dan imajinasi guru diperlukan dalam rangka meramu materi dan memecahkan problematika di kelas.[6]
[5] Ismail Suardi Wekke, Pembelajaran Bahasa Arab Di Madrasah, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), hlm. 107
[6] Abd Wahab Rosyidi and Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2020), hlm. 34

Adapun pendekatan pada pembelajaran pada dasarnya terbagi menjadi dua macam, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approach). Teacher centred approach (pembelajaran yang berpusat pada pendidik) dikenal dengan pembelajaran konvensional atau tradisional dengan lebih banyak menggunakan metode ceramah pada setiap tahap pelaksanaanya. Dalam melakukan evaluasi pembelajaran, seorang pendidik bisa mengukur sejauh mana peserta didik mampu menguasai materi pelajaran yang diterimanya sebagai kriteria keberhasilan proses pembelajaran.

Sebaliknya dalam pendekatan student centered approach pembelajaran berpusat pada peserta didik), peserta didiklah yang memegang peranan selama proses pembelajaran. Pendidik sebagai fasilitator dalam hal ini bertugas membimbing peserta didiknya agar memiliki kemampuan mengutarakan pendapat dan gagasannya dalam proses pembelajaran.

B. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab

Pada pembelajaran bahasa Arab, pendekatan dikenal dengan istilah al-madkhal yaitu cara memulai pembelajaran bahasa Arab, dengan strategi, metode dan media, teknik dan taktik yang digunakan oleh pendidik bahasa Arab, guna mencapai suatu tujuan pembelajaran bahasa Arab yang dikehendaki. Pendekatan pembelajaran sebagai titik tolak pendidik bahasa Arab dalam memandang proses pembelajaran bahasa Arab yang akan dilaksanakan, berdasarkan situasi dan kondisi kelas yang akan mengikuti pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran bahasa Arab (teaching approach of Arabic) yaitu suatu rancangan atau kebijakan dalam memulai serta melaksanakan pembelajaran bahasa Arab, sehingga memberikan corak dan arah kepada metode dan strategi pembelajarannya. Seorang pendidik bahasa Arab yang meyakini pendekatan tertentu, mempunyai kebebasan memakai beberapa jenis pilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi situasi saat dilaksanakannya pembelajaran bahasa Arab.

Seperti halnya proses pembelajaran yang lain dalam pembelajaran Bahasa Arab juga ditunjang dengan pendekatan yang digunakan yaitu ada teacher centered dan student centered seperti yang dibahas pada materi sebelumnya. Pada pembelajaran Bahasa Arab berbasis pendekatan teacher centered, menuntut seorang pendidik untuk selalu menyampaikan informasi atau pengetahuan dari awal proses pembelajaran, sementara peserta didik hanya berperan sebagai mustami’ (pendengar). Kelemahan pendekatan ini, peserta didik cenderung pasif dan tidak terlatih untuk berani menyampaikan ide dan pendapatnya. Peserta didik cenderung hanya duduk, mendengar, menyalin dan menulis tugas rumah yang diberikan oleh pendidik, sehingga pembelajaran cenderung pasif dan kurang menarik.

Sedangkan, pendekatan student centered menempatkan pendidik sebagai fasilitator, yang bertugas mengawasi, mengarahkan, serta mengevaluasi kegiatan peserta didik dari awal sampai akhir proses pembelajaran. Guru akan memberi bimbingan pada siswa tentang materi yang akan dibahas di kelas, serta meluruskan informasi yang kurang benar dari pemahaman peserta didik.

Pada proses pembelajaran bahasa Arab, pendidik akan mengarahkan dan membimbing peserta didik, agar berani dan mampu berbicara menggunakan bahasa Arab di hadapan teman-teman sekelas. Diawali dengan penguasaan mufradat atau kosakata yang cukup, sehingga peserta didik tidak akan kekurangan kosakata dalam menyusun kalimat berbahasa Arab. Pendidik akan terus memotivasi dan menumbuhkan keberanian agar peserta didik berani menyampaikan ide, pendapat dan gagasannya baik secara kelompok maupun individu. Dari proses kemandirian dan keaktifan tiap siswa akan timbul internalisasi informasi-informasi dalam pembelajaran sehingga menjadikan rasa tanggung jawab pada diri siswa akan keputusan yang diemban mereka.[7]
[7] Umi Machmudah and Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2020), hlm. 221

C. Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab

Berbeda dengan bahasa lain, bahasa Arab memiliki struktur dan susunan kata yang cukup sulit sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang dapat memudahkan mengajarkan bahasa Arab pada anak, terlebih untuk jenjang sekolah tingkat dasar.[8] Kenyataan ini menuntut guru harus memiliki kualifikasi dengan tingkat keuletan, ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Melihat karakter tersebut, guru hendaknya menggunakan pendekatan yang lebih kontekstual, dan dapat menjadi acuan dalam menentukan langkah pembelajaran yang sesuai dengan karakter materi maupun kondisi peserta didik. Materi yang sulit dapat diterima dengan baik oleh peserta didik jika ditopang oleh pendekatan yang tepat.
[8] Dudung Hamdun, “Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Karakter di Sekolah Dasar”, Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 8, No. 1, 2016

Di dalam pembelajaran bahasa Arab, ada bermacam-macam pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk disesuaikan dengan materi dan tingkatan kelas peserta didik. Pendekatanpendekatan dalam pembelajaran bahasa Arab antara lain :

1. Pendekatan Struktual.

Pendekatan Struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititik beratkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Dengan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya. Pendekatan struktural menuntut para pelajarnya untuk memahami rumus-rumus dan istilah-istilah bahasa, dan pelajar diharuskan untuk menghafalkan model-model kalimat atau fungsi kata. Dalam bahasa Arab bisa kita lihat pembelajaran dengan pendekatan struktural dituntut untuk mengetahui fi’il, faa’il, maf’ul dan masih banyak istilah-istilah ilmu bahasa yang lain. Siswa dapat menghafalkan kaidah-kaidah bahasa dengan baik, namun mereka kurang terampil dalam pemakaian bahasa itu sendiri. Dengan kata lain, siswa menjadi kuat pengetahuan bahasanya. tetapi lemah dalam kemampuan berbahasanya. Tes bahasa dalam kedudukannya memiliki kaitan yang amat erat dengan komponenkomponen lain dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, terutama komponen pembelajaran yang mendasarinya yaitu kegiatan pembelajaran. Hal serupa berlaku pula pada tujuan pembelajaran untuk menyelenggarakan pembelajaran dengan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasilan dilakukan evaluasi atau tes bahasa dengan melihat keempat kemampuan bahasa. [9]
[9] http://arerariena.wordpress.com/2011/02/02/tes-bahasa/, diakses 25-10-2024

Pendekatan Struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Pendekatan struktural menuntut para pelajarnya untuk memahami rumus-rumus dan istilah-istilah bahasa, dan pelajar diharuskan untuk menghafalkan model-model kalimat atau fungsi kata.

Pendidikan bahasa umumnya ada 3 kaidah yang harus dikuasai siswa tidak terkecuali bahasa arab, yang tercakup dalam Fonologi, morfologi, dan sintaksis.

a. Fonologi : Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu.

b. Morfologi adalah bagian linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, klasifikasi kata-kata. 

c. Sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa dan frase. Ramlan mengatakan kalimat adalah satuan aramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik.

2. Pendekatan Pragmatik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat kata-kata pragmatik, pragmatika, pragmatis, dan pragmatisme[10]. Kata pragmatik dimaknai (i) berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi, (ii) berkenaan dengan negara, pemerintahan. Tampaknya makna pertamalah yang lebih cocok berkaitan dengan pembahasan pada bab ini. Sedangkan kata pragmatika bermakna (i) cabang semiotika tentang asal-usul, pemakaian, dan akibat lambang dan tanda (ii) ilmu tentang pertuturan, konteksnya, dan maknanya.
[10] Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembang Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka , 1999), cet. Ke-10, h. 784

Selanjutnya kata pragmatis diberi makna (i) bersifat praktis dan berguna bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis, (ii) mengenai atau bersangkutan dengan pragmatisme. Sedangkan kata pragmatisme diberi makna (i) kepercayaaan bahwa kebenaran atau nilai-nilai ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan dan sebagainya) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia, (ii) paham yang menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap, melainkaan tumbuh dan berubah terus, (iii) pandangan yang memberi penjelasan yang berguna tentang suatu permasalahan dengan melihat sebab akibat berdasarkan kenyataan untuk tujuan praktis.

Istilah pragmatik yang digunakan dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa sebenarnya berasal dari Charles Morris (1946) yang membagi pengkajian bahasa menjadi tiga, yaitu:
a. Sintaksis, yaitu kajian tentang hubungan antara unsur-unsur bahasa.
b. Semantik, yaitu kajian tentang hubungan unsur-unsur bahasa dengan maknanya.
c. Pragmatik, yaitu kajian hubungan unsur-unsur bahasa dengan pemakai bahasa.[11]
[11] PWJ Nababan, Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya (untuk selanjutnya disebut Ilmu Pragmatik), (Jakarta: Dep. P dan K, 1987), h. 1

3. Pendekatan Komunikatif.

Menurut Ahmad Fuad Effendi, pendekatan komunikatif memiliki beberapa asumsi berikut :

1. Setiap manusia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan language acquisition devide (LAD). Oleh karena itu kemampuan bahasa bersifat kreatif dan lebih ditentukan faktor internal.

2. Pengguna bahasa tidak hanya terdiri atas empat keterampilan: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Tetapi, mencakup beberapa kemampuan dalam kerangka komuniktif yang luas sesuai dengan peran peserta, situasi, dan tujuan interaksi.

3. Belajar bahasa kedua dan bahasa asing sama dengan belajar bahasa pertama, yaitu berangkat dari kebutuhan dan minat siswa. Oleh karena itu, analisis kebutuhan dan minat siswa merupakan landasan pengembangan bahan ajar.[12]
[12] Ahmad Fuad Effendi, op. cit., h. 54-55


Dari asumsi di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajar bahasa asing (Arab) telah memiliki kemampuan bahasa yang bersifat kreatif, yang bisa dibangkitkan dengan pendekatan internal, yaitu memunculkan minat belajar bahasa Arab. Untuk memunculkan minat, diperlukan motivasi eksternal berupa penciptaan peran pebelajar yang lebih luas dan situasi yang mendukung guna mencapai tujuan interaksi dalam komunikasi yang dikehendaki. Karena itu, perlu dirancang kegiatan untuk mengetahui kebutuhan dan minat pebelajar terhadap bahasa, misalnya dengan analisis kebutuhan dan minat.

Tentang prinsip pendekatan komunikatif, Angela Scarino dkk (1994) menyatakan bahwa tujuan utama semua pembelajaran bahasa adalah membantu pebelajar mampu menggunakan bahasa target yang bisa dicapai dengan berbagai cara dan pendekatan. Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang guru harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang harus diwujudkan ke dalam kegiatan pengajarannya. Secara ringkas, prinsip pendekatan komunikatif menurut Scarino dkk adalah: pembelajar akan belajar bahasa dengan baik apabila berada dalam delapan kondisi berikut:

1. Ia diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat.
2. Ia diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa sasaran secara komunikatif dalam beragam aktivitas.
3. Ia ditunjukkan pada data komunikatif yang bisa dipahami dan relevan dengan kebutuhan dan minatnya.
4. Ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya pada bentuk, keterampilan, dan strategi yang mendukung proses pemerolehan bahasa.
5. Ia dibeberkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya yang menjadi bagian dari bahasa sasaran.
6. Ia menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya.
7. Ia diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan belajarnya.
8. Ia diberi kesempatan untuk mengatur pembelajarannya sendiri.[13]
[13] Furqanul Azies dan A. Chaedar Alwasilah, op. cit., h. 28-32.

Littlewood (1981) lebih merinci prinsip-prinsip pengajaran bahasa dalam pendekatan komunikatif sebagai berikut :

1. Bahasa yang disajikan adalah bahasa yang autentik, dipergunakan dalam realita kontekstual.
2. Bahasa tersebut dapat dipahami maksudnya oleh pembicara atau penulis sebagai bagian dari kompetensi komunikatif.
3. Sasaran bahasa adalah wahana untuk komunikasi kelas, bukan sekadar objek belajar.
4. Satu fungsi dapat memiliki beberapa bentuk bahasa; fokus belajarnya bahasa yang digunakan secara realita; dan varian bentuk bahasa disajikan bersama-sama.
5. Pebelajar mempelajari kalimat dalam suatu wacana, seperti kohesi dan koherensi.
6. Pebelajar dapat menentukan keadaan belajar sesuai dengan realita komunikatif sehingga pembicara dapat langsung menerima umpan balik dari pendengar.
7. Pebelajar diberi kesempatan untuk mengekspresikan ide dan opini mereka.
8. Kekeliruan dapat diterima dan dinilai sebagai hal yang alami dalam pengembangan keterampilan komunikasi.
9. Guru bertanggung jawab dalam menentukan situasi yang disukai untuk pengembangan komunikasi.
10. Interaksi komunikasi mendorong hubungan kerjasama antar pembelajar. Interaksi ini merupakan kesempatan bagi pebelajar untuk memahami atau negosiasi makna.
11. Konteks sosial dalam even komunikasi merupakan hal penting dalam pengungkapan makna yang diberikan.
12. Belajar menggunakan bahasa yang tepat merupakan bagian penting dalam kompetensi komunikatif.
13. Guru berlaku sebagai pembimbing dalam aktivitas komunikasi.
14. Dalam komunikasi, pembicara dapat memilih tentang apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannnya.
15. Para pebelajar mempelajari gramatika dan kosakata melalui fungsi, konteks situasional, dan peran pada teman bicara.
16. Para pembelajar diberikan ruang untuk mengembangkan strategi dalam memahami bahasa sebagaimana yang digunakan para penutur bahasa tersebut.[14]
[14] Diane Larsen-Freeman, Techniques and Principles in Language Teaching (Oxford: Oxford University Press, 1986), h. 128-130.

4. Pendekatan All In One System Dan System Separated System.

Dalam konteks pengajaran bahasa Arab, pendekatan all-in-one system dan separated system mengacu pada cara struktur atau pengaturan materi serta aktivitas pengajaran. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung pada kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa, serta tujuan pembelajaran. Berikut adalah penjelasan dan perbandingan kedua pendekatan tersebut :

- All In One System

Pendekatan all-in-one mengintegrasikan semua aspek bahasa dalam satu sesi atau satu rangkaian materi. Artinya, dalam satu kali pembelajaran, siswa akan mempelajari keterampilan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis, serta memahami tata bahasa dan kosa kata.

- System Separeted System

Pendekatan separated system, sebaliknya memisahkan setiap aspek bahasa menjadi modul atau sesi pembelajaran yang berbeda. Misalnya, siswa bisa belajar keterampilan berbicara di satu kelas, lalu mendalami tata bahasa di kelas lain, dan seterusnya.

5. Pendekatan Humanitik.

Pendekatan Humanistik adalah pendekatan yang mengutamakan peran siswa. Dalam pengajaran Bahasa Arab harus dilihat suatu totalitas yang melibatkan anak didik secara utuh bukan sekedar sebagai sesuatu yang intelektual semata-mata. Sebagaimana guru, murid merupakan manusia yang mempunyai kebutuhan emosional, spiritual, maupun intelektual. Tidak hanya mengandalkan peran guru, siswa juga hendaknya dapat membantu dirinya dalam proses belajar mengajar. Anak didik bukan hanya sekedar penerima ilmu yang pasif.

Pendekatan ini beranggapan bahwa anak didik adalah seorang manusia yang berbudaya, bukanlah alat atau sekedar “hewan” yang dapat menerima stimulus untuk kemudian memberikan respon. Sebagaimana manusia lainnya, peserta didik juga memiliki daya, minat, bakat, kebutuhan, kecenderungan dan perbedaan-perbedaan individual yang harus diperhatikan dalam proses belajar mengajar Bahasa Arab. Iaperlu diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri sendiri, perasaan, pengalaman, dan pendapatnya. Partisipiasi anak didik dalam belajar mengajar Bahasa Arab menjadi penting, sebab keterlibatan emosional dapat meningkatkan motivasi serta gairah untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam aplikasi pendekatan humanistic ini disarankan untuk melaksanakan hal berikut;

1). Guru memberikan penjelasan mengenai tujuan Bahasa Arab dan melatih para anak didik agar mempraktikkan bahasa Arab dalam berbagai situasi.

2). Menerapkan teknik bermain peranan (role playing) dengan maksud melatih mereka agar dapat memberikan erspon sesuai dengan situasi dan kondisi yang sesungguhnya, seperti: ekspresi senang, benci, marah, cemas, dan sebagainya.

3). Memberikan contoh berbahasa Arab yang mungkin dan mudah diikuti oleh mereka.

6. Pendekatan Teknologi.

Kemajuan teknologi saat ini banyak sekali memberikan manfaat kepada manusia. Ada banyak kemudahan yang didapatkan dengan teknologi tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Keberadaan teknologi yang semakin canggih ini tidak dapat menggantikan peran guru dan juga tidak sepenuhnya menunjang efektivitas pembelajaran Bahasa Arab karena sangat tergantung pada orientasi, guru yang menggunakan, materi yang diajarkan dan situasi pembelajaran. Namun dengan pendekatan teknologi setidaknya dapat menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih hidup, menarik dan menyenangkan bagi anak didik.

Pemanfaatan atau penggunaan media pembelajaran tidak hanya terbatas pada media audio semata seperti: radio, earphone atau headphone pada laboratorium bahasa, melainkan juga meliputi media visual seperti: slide atau OHP, dan gabung audia-visual, seperti: televisi, computer, multimedia, video, dan sebagainya. Di antara tujuan dan pendekatan ini adalah memberikan konteks yang dapat lebih menjelaskan arti kosakata, struktur kalimat, dan konsep-konsep budaya yang baru dan abstrak melalui penggunaan gambar, peta, skema, contoh yang hidup, kartu, dan banyak lagi macam teknologi yang canggih untuk membantu lancarnya proses belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak didik.

7. Pendekatan Analitik dan Non Analitik.

Pendekatan analitik juga populer dengan sebutan المدخل الشكلي (atau formal approach. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi-asumsi sosiolinguistik, seperti analisis kebutuhan, analisis wacana, dan analisis komunikasi verbal. Pendekatan ini muncul di Amerika pada 1970-an, dan menjadi terkenal pada 1980-an. Namun pada waktu yang hampir bersamaan, di Eropa muncul kontra pendekatan, yaitu non- analutical approach yang lebih menekankan pada analisis isi) تحايل المحتوي hubungan humanistik dan kajian-kajian mengenai pemerolehan bahasa.

Jika pendekatan analitik berbasi pada linguistik, sosiolinguistik, dan semantik, maka pendekatan non-analitik berdasarkan psikolinguistik dan konsep-konsep pembelajaran. Pendekatan analitik menghendaki adanya analisis kebutuhan kebahasaan dan kurikulum bahasa yang baru dan fungsional berdasarkan nosi serta tujuan khusus, maka pendekatan non-analitik menghendaki pembelajaran bahasa dilakukan dalam situasi kehidupan yang alami, berkaitan dengan tema-tema yang berkaitan dengan anak didik dan aspek-aspek kehidupan manusia pada umumnya. Pendekatan non-analitik cenderung bersifat global, integral dan naturlistik, sementara pendekatan analitik mendasarkan diri pada konsep nosi dan fungsi, aksi pembicaraan, dan analisis nazham (verse, structure, versification), sebuah teori mengenai keserasian struktur ungkapan (kalimat) dan bait-bait syair sesuai kaedah-kaedah nahwu.

Pendekatan analitik dan non-analitik sama-sama menghendaki penyiapan materi dan teknik pembelajaran bahasa baru. Pengguna pendekatan pertama mengontrol hampir semua aksi bahasa yang ditampilkan anak didik, sedangkan pengguna pendekatan kedua tidak terlalu memperdulikan hal itu. Karena pembelajaran bahasa merupakan praktik berbahasa secara nyata, bukan rekayasa. Prosedur kerja pendekatan yang pertama berporos pada pendekatan kognitif, bukan pada prinsip-prinsip psikologis dan edukatif siswa, sebaliknya pendekatan yang kedua sangat mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologis dan edukatif anak didik, bahkan pembelajaran bahasa dipahami sebagai proses pemberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak didik untuk memperoleh bahasa, bukan sekedar belajar berbahasa. Pendekatan pertama berpendapat bahwa motivasi untuk belajar bahasa lebih dinamis melalui komunikasi langsung dengan dengan penutur asli dan berpartisipasi dalam situasi komunikasi yang sesungguhnya.[15]
[1] Metodologi pengajaran bahasa Arab, h. 65 - 66


A. Pendekatan Analitik

Pendekatan analitik dalam pengajaran bahasa Arab adalah metode yang fokus pada pemecahan unsur-unsur bahasa secara rinci. Pembelajaran bahasa dilakukan dengan menguraikan komponen bahasa seperti tata bahasa (nahwu dan sharaf), struktur kalimat, dan morfologi. Siswa diajak untuk memahami aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa Arab secara terperinci sebelum mereka dapat menggunakannya dalam komunikasi.

Diantara metode yang menggunakan pendekatan ini adalah metode tata bahasa dan terjemah.

Metode tata bahasa dan terjemah (H. Olendorf) secara historis digunakan dalam pengajaran Bahasa Yunani dan Latin. Itu digeneralisasi untuk mengajar bahasa modern. Bahasa latin diajarkan melalui apa yang disebut metode klasik dan fokus pada aturan tata bahasa, menghafal kosakata, terjemahan teks, melakukan latihan tertulis. Pada abad ke-19, metode klasik kemudian dikenal sebagai metode tata bahasa dan terjemah. Prator dan Celce-Murcia (1979:3) mencantumkan karakteristik utama dari metode tata bahasa dan terjemah sebagaimana berikut:

1. Kelas diajarkan dalam bahasa ibu, dengan sedikit penggunaan aktif dari bahasa target.

2. Banyak kosakata diajarkan dalam bentuk daftar kata-kata yang terisolasi.

3. Analisis terperinci tentang aturan tata bahasa.

4. Membaca teks-teks klasik yang sulit dimulai lebih awal.

5. Sedikit perhatian diberikan pada isi teks, yang diperlakukan sebagai latihan dalam analisis tata bahasa.

6. Seringkali satu-satunya latihan adalah latihan dalam menerjemahkan kalimat yang terputus dari bahasa target ke dalam bahasa ibu.

7. Sedikit atau tidak ada perhatian yang diberikan pada pengucapan.[16]
[16] Buku ajar Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, h. 48 - 49


B. Pendekatan Non-Analitik

Sebaliknya, pendekatan non-analitik adalah pendekatan yang lebih komunikatif dan praktis. Metode ini lebih menekankan pada penggunaan bahasa secara langsung dalam konteks komunikasi, tanpa terlalu banyak memfokuskan pada tata bahasa di awal pembelajaran.

Diantara metode yang menggunakan pendekatan ini adalah metode langsung.

Metode Langsung (M. Berlitz) pada awalnya dikembangkan sebagai reaksi terhadap pendekatan penerjemahan tata bahasa dalam upaya untuk mengintegrasikan lebih banyak penggunaan bahasa target dalam instruksi. Richards dan Rodgers (1986:9-10) meringkas prinsip-prinsip metode langsung sebagai berikut.

1. Pengajaran di kelas dilakukan secara eksklusif dalam bahasa target.

2. Bahasa ibu tidak pernah digunakan dan tidak memiliki terjemahan.

3. Proses pembelajaran sebagian besar didasarkan pada imitasi dan hafalan.

4. Hanya kosakata dan kalimat sehari-hari yang diajarkan.

5. Kata kerja digunakan pertama kali dan secara sistematis terkonjugasi, dan juga setelah beberapa penguasaan lisan dari bahasa target.

6. Keterampilan komunikasi lisan diselenggarakan di sekitar pertukaran tanya jawab antara guru dan siswa di kelas kecil dan intensif.

7. Tata bahasa diajarkan secara induktif mengenai aturan digeneralisasi dari praktik dan pengalaman dengan bahasa target.

8. Kosakata konkret diajarkan melalui demonstrasi, objek, dan gambar; kosakata abstrak diajarkan oleh asosiasi ide.

9. Pemahaman berbicara dan mendengarkan yang diajarkan.

10. Pengucapan dan tata bahasa yang benar ditekankan.

11. Siswa tingkat lanjut membaca literatur untuk pemahaman dan kesenangan. Teks sastra tidak dianalisis secara gramatikal.

12. Budaya yang terkait dengan bahasa target juga diajarkan secara induktif. Budaya dianggap sebagai aspek penting dalam mempela- jari bahasa.[17]
[17] Buku ajar Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, h. 49 - 50

8. Pendekatan Audio Lingual.

Pendekatan ini menekankan pembelajaran bahasa sebagai proses pembentukan kebiasaan. Pendekatan ini dilandasi oleh teori Behaviorisme yang cenderung memandang manusia sebagai organisme yang bisa memberikan respon (operant) baik oleh karena adanya stimulus yang Nampak atau tidak. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa belajar bahasa harus dimulai dari aspek bunyi dan lisan sebelum yang lain, dengan penggunaan drills (تدريبات atau kaji ulang yang intensif, dan bila perlu dengan penggunaan alat-alat elektronik dan laboratorium, agar tercipta tradisi belajar bahasa yang baik dan variatif.[18]
[18] Metodologi pengajaran bahasa Arab, h. 67

Pendekatan ini didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi perilaku. Ini mengadaptasi banyak prinsip dan prosedur metode langsung. Berdasarkan prinsip bahwa pembelajaran bahasa adalah pembentukan kebiasaan, pendekatan ini menumbuhkan ketergantungan pada mimikri, menghafal frasa yang ditetapkan, dan pembelajaran yang berlebihan. Karakteristik ALM dapat diringkas dalam daftar berikut (diadaptasi dari Prator dan Celce-Murcia, 1979).

1. Struktur diurutkan dan diajarkan satu per satu.

2. Pola struktural diajarkan menggunakan bor berulang.

3. Materi baru disajikan dalam bentuk dialog.

4. Ada ketergantungan pada mimikri, menghafal frasa yang ditetap- kan, dan pembelajaran yang berlebihan.

5. Sedikit atau tidak ada penjelasan tata bahasa yang diberikan; tata bahasa diajarkan secara induktif.

6. Kosakata sangat terbatas dan dipelajari dalam konteks.

7. Keterampilan diurutkan mulai dari mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dikembangkan secara berurutan.

8. Ada periode pra-membaca yang diperpanjang di awal kursus.

9. Ada banyak penggunaan kaset, laboratorium bahasa, dan alat bantu visual.

10. Sangat sedikit penggunaan bahasa ibu oleh guru yang diizinkan, tetapi tidak disarankan digunakan oleh siswa.

11. Sangat penting diberikan pengucapan asli yang tepat.

Secara metode, untuk sejumlah alasan metode audiolingual menikmati popularitas bertahun-tahun, dan bahkan hingga hari ini, adaptasi ALM ditemukan dalam metodologi kontemporer. Total Physical Response James J. Asher (1977), pengembang Total Physical Response (TPR), sebenarnya mulai bereksperimen dengan TPR pada 1960-an, tetapi hampir satu dekade sebelum metode ini banyak dibahas di kalangan profesional. James J. Asher mendefinisikan metode Total Physical Response (TPR) sebagai metode yang menggabungkan informasi dan keterampilan mela- lui penggunaan sistem sensorik kinestetik. Kombinasi keterampilan ini memungkinkan siswa untuk mengasimilasi informasi dan keterampilan dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, keberhasilan ini mengarah pada tingkat motivasi yang tinggi. Asher mencatat bahwa anak-anak dalam mempelajari bahasa pertama mereka, tampaknya melakukan banyak mendengarkan sebelum mereka berbicara, dan bahwa mendengarkan mereka disertai dengan respons fisik (meraih, bergerak, melihat, dan sebagainya). Asher juga yakin bahwa kelas bahasa seringkali menjadi fokus dari banyaknya kecemasan, sehingga menimbulkan keinginan untuk merancang metode yang dapat membuat seseorang bebas dari stres, di mana peserta didik tidak akan merasa defensif. Kelas TPR merupakan kelas di mana siswa banyak mendengarkan dan bertindak. Guru sangat direktif dalam mengatur pertunjukan. Instruktur adalah sutradara drama panggung di mana siswa adalah aktornya, kata Asher. Biasanya, TPR sangat memanfaatkan suasana imperatif, bahkan ke tingkat kemahiran yang lebih maju. Perintah adalah cara mudah untuk membuat pelajar bergerak, seperti buka jendela!, tutup pintu!, berdiri!, duduk!, ambil buku!, berikan kepada John!, dan sebagainya. Tidak ada tanggapan verbal yang diperlukan. Sintaks yang lebih kompleks dapat dimasukkan ke dalam imperatif, seperti gambar persegi panjang di papan tulis!, berjalan cepat ke pintu dan pukul!. Interogatif juga mudah ditangani, seperti di mana bukunya?, siapakah Yohanes? (siswa menunjuk pada kitab atau kepada Yohanes). Akhirnya satu per satu siswa akan merasa cukup nyaman untuk memberanikan diri menanggapi pertanyaan secara verbal, kemudian mengajukan pertanyaan sendiri, dan prosesnya dapat berlanjut. Teknik dalam menggunakan metode audiolingual sebagaimana berikut.

1. Guru mengatakan perintah saat dia sendiri melakukan tindakan.

2. Guru mengatakan perintah sebagai guru dan siswa kemudian mela- kukan tindakan.

3. Guru mengatakan perintah tetapi hanya siswa yang melakukan tindakan.

4. Guru memberi tahu satu siswa pada satu waktu untuk melakukan perintah.

5. Peran guru dan siswa dibalik, siswa memberikan perintah kepada guru dan kepada siswa lain.

6. Guru dan siswa memungkinkan perluasan perintah atau mengha- silkan kalimat baru.[19]
[19] Buku ajar Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, h. 50 - 52

9. Pendekatan Kognitif.

Pendekatan Kognitif, atau Memahami Cara Berpikir Mengubah Perilaku. Pendekatan kognitif adalah sebuah paradigma dalam psikologi yang menekankan pentingnya proses mental seperti persepsi, ingatan, pemikiran, dan pemecahan masalah dalam memahami perilaku manusia. Pendekatan ini beranggapan bahwa cara kita berpikir secara langsung mempengaruhi perasaan dan tindakan kita. Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan tentang suatu situasi akan menentukan bagaimana kita meresponsinya.

Konsep Dasar Pendekatan Kognitif

Skema: Pola pikir yang terorganisir yang digunakan untuk menginterpretasi informasi baru. Skema ini terbentuk dari pengalaman masa lalu dan memengaruhi cara kita memandang dunia.

Pemrosesan informasi: Proses di mana kita menerima, menyimpan, dan menggunakan informasi.

Kognitif bias: Kecenderungan untuk memproses informasi dengan cara yang tidak objektif, seringkali dipengaruhi oleh emosi atau pengalaman pribadi.

Prinsip-Prinsip Utama

Pikiran mempengaruhi perasaan dan perilaku: Cara kita berpikir secara langsung mempengaruhi emosi dan tindakan kita.

Perubahan kognitif dapat mengubah perilaku: Dengan mengubah cara berpikir, kita dapat mengubah perasaan dan perilaku yang tidak diinginkan.

Terapi kognitif: Terapi yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir yang tidak sehat.

Penerapan Pendekatan Kognitif

Pendekatan kognitif telah banyak diterapkan dalam berbagai bidang, seperti:

Psikologi klinis: Terapi kognitif-behavioral (CBT) adalah salah satu bentuk terapi yang paling efektif untuk mengatasi berbagai gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan panik.

Pendidikan: Pendekatan kognitif digunakan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa, seperti strategi belajar yang efektif dan pemecahan masalah.

Organisasi: Pendekatan kognitif digunakan untuk meningkatkan kinerja karyawan, seperti pelatihan keterampilan berpikir kritis dan pengambilan keputusan.

Contoh Penerapan

Misalnya, seseorang yang merasa cemas sebelum presentasi. Dengan pendekatan kognitif, individu tersebut dapat mengidentifikasi pikiran-pikiran negatif yang memicu kecemasan, seperti "Saya pasti akan gagal" atau "Semua orang akan menertawakan saya". Kemudian, individu tersebut dapat mengganti pikiran-pikiran negatif tersebut dengan pikiran yang lebih realistis dan positif, seperti "Saya telah mempersiapkan diri dengan baik" atau "Tidak semua orang akan menghakimi saya".

Pendekatan kognitif memberikan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana pikiran manusia bekerja dan bagaimana pikiran tersebut memengaruhi perilaku. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar pendekatan kognitif, kita dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi berbagai masalah yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Saran Pendekatan Kognitif

Terapkan pemikiran yang rasional: Latihlah diri Anda untuk berpikir secara rasional dan objektif.

Identifikasi pikiran negatif: Sadarilah pikiran-pikiran negatif yang sering muncul dan coba untuk menggantinya dengan pikiran yang lebih positif.

Cari dukungan: Jika Anda kesulitan untuk mengubah pola pikir Anda sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan dari seorang profesional.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan.

Demikian alternative beberapa pendekatan yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa Arab. Dengan mengetahui beberapa pendekatan tersebut diharapkan seorang guru bisa memastikan langkah berikutnya yaitu dengan memilih metode pembelajaran bahasa Arab.

Seorang guru bahasa Arab harus bisa memilah dan memilih pendekatan yang inovatif dalam stRategi pembelajaran bahasa Arab. Hal ini agar peserta didik mampu terlibat secara aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran melalui kegiatan pembelajaran yang berorentasi pada proses penemuan dan pencarian. Tentunya kegiatan pembelajaran seperti ini, memiliki dampak yang positif pada hasil yang dihasilkan baik yang bersifat pemahaman, sikap, atau berbagai keterampilan yang mesti dikuasai oleh peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA.

Rohayati, Enok. 2017. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Palembang: Rafah Press Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Chusnul Chotimah and Muhammad Fathurrohman, Paradigma Baru Sistem Pembelajaran,
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2018).

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006).

Munir, Pembelajaran Jarak Jauh: Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi, (Bandung: Alfabeta, 2009).

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012).

Ismail Suardi Wekke, Pembelajaran Bahasa Arab Di Madrasah, (Yogyakarta: Deepublish, 2018)

Abd Wahab Rosyidi and Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2020)

Umi Machmudah and Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2020), hlm. 221

Dudung Hamdun, “Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Karakter di Sekolah Dasar”, Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 8, No. 1, 2016

Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembang Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka , 1999), cet. Ke-10.

PWJ Nababan, Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya (untuk selanjutnya disebut Ilmu Pragmatik), (Jakarta: Dep. P dan K, 1987)

Diane Larsen-Freeman, Techniques and Principles in Language Teaching (Oxford: Oxford University Press, 1986)

Khoirurrijal, K., & Amrullah, M. K. (2023). Buku ajar metodologi pengajaran bahasa Arab: Cara mengajar dan belajar bahasa Arab. Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi.

Rohayati, E. (2017). Metodologi pengajaran bahasa Arab. Palembang: Rafah Press, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah.

Beck, A. T. (1976). Cognitive therapy and the emotional disorders. New York: International Universities Press.

Ellis, A. (1962). Reason and emotion in psychotherapy. New York: Lyle Stuart.