Tampilkan postingan dengan label 11. Sistem Evaluasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 11. Sistem Evaluasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 November 2023

Analisis Item

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Evaluasi Pendidikan
Dosen pengampu : Sabar Siswoyo, MPd.
Oleh Kelompok 11 Angkatan 5:
1. Nindy Kurnianingrum (PAI)
2. Nur Fadillah Lubis (PAI)
3. Nurul Hasanah (PAI)
4. Nurul Haslinda (PAI)
5. Harnum Suri (PAI)


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas segala limpahan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan pertolongan dan kemudahan dari-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Shalawat dan salam semoga tetap Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqamah mengikutinya hingga akhir zaman.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sistem Evaluasi Pendidikan yang berjudul “Analisis Item”. Dengan kerja sama yang baik dari semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan terima kasih banyak.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak sekali kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Oleh sebab itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi membantu perbaikan dalam pembuatan makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang luas serta dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca dalam upaya merencanakan sistem pendidikan yang lebih baik kedepannya.

Mempawah, 31 Oktober 2023

Penyusun Makalah
Kelompok 11

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang.
B. Rumusan Masalah.
C. Tujuan Penulisan.
BAB II 3 PEMBAHASAN.
A. Pengertian Analisis Item.
B. Analisis Item pada Test Normatif.
C. Analisis Item pada Test Kriterion.
BAB III PENUTUP.
Kesimpulan.
DAFTAR PUSTAKA.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Barnard (1999) tujuan tes yang disusun dalam proses evaluasi dapat dikelompokkan dalam dua macam kategori, yaitu a) kategori birokrasi, dan b) kategori profesional. Tes juga dibedakan menjadi dua macam tipe, yaitu norm-referenced test dan criterion-referenced mastery test. Suatu tes dibuat oleh para evaluator dengan tetap mengikuti jenis baku yang disepakati, karena setiap tipe tes mempunyai tujuan yang berbeda. Norm-referenced test, misalnya, yang sering disebut Penilaian Acuan Normatif (PAN) merupakan jenis tes untuk mengukur penampilan atau posisi seorang siswa dibandingkan dengan siswa lain didalam grupnya sedangkan criterion-referenced test, yang populer dengan sebutan Penilaian Acuan Patokan (PAP), merupakan tes yang digunakan untuk mengukur penguasaan atau kemampuan siswa melalui kriteria tertentu yang telah di tetapkan sebelumnya oleh evaluator,tanpa membandingkan dengan penguasaan atau kemampuan siswa lainnya.

Permasalahan yang sering muncul dari dua macam tujuan diadakannya proses pengetesan di antaranya ialah bahwa tidak semua tes yang direncanakan guru atau evaluator jarang mampu mengakomodasi kedua tujuan tersebut dengan baik. Oleh karena itu, seorang evaluator perlu memutuskan bagaimana skor tes akan diarahkan. Salah satu metode untuk melaksanakan hal tersebut adalah dengan melakukan analisis item.

Tes pendidikan disusun dengan menggunakan sejumlah item Skor pada setiap item ditambahkan pada skor item lainnya untuk mencapai skor total. Tes yang digunakan untuk tujuan evaluasi sebaiknya memenuhi dua persyaratan penting, yaitu validitas dan reliabilitas. Konsekuensinya, kualitas dan nilai sebuah tes tergantung atas item individual dalam satu kesatuan. Oleh karena itu, praktik terbaik yang perlu dipertimbangkan oleh seorang guru adalah perlunya menganalisis setiap item, agar tes yang dibangun dapat disesuaikan dengan tujuan dan rasional alat yang dikonstruksi.[1]
[1] Prof. H.M. Sukardi, MS. Ph.D. EVALUASI PENDIDIKAN Prinsip dan Operasionalnya. Cetakan ketujuh (Jakarta Timur. PT. Bumi Aksara, 2012), hal 134-135.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Analisis Item?
2. Bagaimana Analisis Item pada Test Normatif?
3. Bagaimana Analisis Item pada Test Kriterion?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian Analisis Item
2. Mengetahui Analisis Item pada Test Normatif
3. Mengetahui Analisis Item pada Test Kriterion

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Analisis Item

Dalam penyusunan sebuah alat ukur, tahapan yang harus dilakukan adalah analisis item. Istilah analisis item digunakan untuk mendefinisikan perhitungan dan pengujian statistikal terhadap skor-skor item alat ukur individual. Sebuah item dapat dianalisa, baik itu analisa kualitatif (berdasarkan isi maupun bentuk dari item tersebut) dan analisa kuantitatif (berdasarkan muatan-muatan statistik seperti daya prediktif, daya beda dari item tersebut). Analisa kualitatif mencakup pertimbangan isi validitas, sedangkan analisa kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi item.

Tujuan utama dalam melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur. Menurut Crocker & Algina (1986) pengukuran yang umum digunakan dalam analisa item, adalah: Item difficulty, Item discrimination, dan Item-total correlation.

a. Item Difficulty

Jika skoring pada sebuah item itu dikotomi, maka rata-rata skor item berhubungan dengan banyaknya subyek yang menjawab item tersebut dengan benar. Proporsi orang yang menjawab benar untuk item inilah yang disebut dengan item difficulty, atau yang biasa diberi simbol p.

b. Item Discrimination

Tujuan dari kebanyakan pengukuran psikologis adalah memberikan informasi mengenai perbedaan individu (individual differences) dalam hal konstruk yang diukur tes atau dari kriteria eksternal yang ingin diprediksi oleh alat tes tersebut. Oleh karena itu sebuah tes perlu memiliki daya diskriminasi. Pengertian dari daya diskriminasi adalah derajat dimana item dapat membedakan responden dengan skor tinggi dan skor rendah.

Terdapat beberapa metode untuk melihat daya diskriminasi sebuah item. Salah satu metodenya melakukan perbandingan dengan cara membedakan kelompok responden dengan menentukan titik potong pada distribusi skor. Sedangkan metode lainnya merupakan metode koefisien korelasi. Berikut adalah penjelasan mengenai setiap metode.

c. Item Total Corellation

Metode item-total correlation merupakan suatu teknik analisis item yang mengkorelasikan skor item dengan skor total keseluruhan. Dengan kata lain, daya diskriminasi item melihat apakah subyek yang mampu menjawab sebuah item dengan benar juga bisa menjawab dengan benar pada item- item lainnya. Beberapa jenis korelasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah Pearson’s Product Moment Correlation, Point Biserial Correlation, Biserial Correlation, Phi Coefficient, atau Tetrachoric Correlation Coefficient. Grimm (1993) menjelaskan bahwa jika skor item dan skor total berupa variabel kontinu maka metode korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Product Moment Correlation. Kemudian jika variabel skor total adalah kontinu dan skor item dikotomi, maka metode korelasi yang digunakan adalah Point Biserial atau Biserial Correlation.[2]
[2] https://www.globalstatistik.com/analisis-item/

B. Analisis Item pada Test Normatif

Menurut Sudjana (2005:5) tes normatif adalah tes yang dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri. Surapranata (2005: 49) menyatakan bahwa tes normatif digunakan sebagai alat untuk memperbaiki program pembelajaran yang telah dilakukan. Labih lanjut lagi beliau menyatakan bahwa indeks kesukaran yang digunakan dalam tes ini bervariasi tergantung pada program pembelajaran.

Guru melaksanakan kegiatan evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Kegiatan evaluasi sangat perlu dilakukan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan seorang siswa sebagai peserta didik dan pendidik, satuan pendidikan serta pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan, sehingga hasil evaluasi harusnya menjadi acuan bagi semua pihak terkait tentang perbaikan dan peningkatan yang lebih baik. Peran guru sebagai evaluator artinya untuk mengetahui sejauh mana proses belajar dilakukan selain itu, guru harus dapat mengoreksi apakah pembelajarannya itu perlu diperbaiki atau dipertahankan.[3]
[3] ANALISIS KUALITAS BUTIR SOAL PADA TES FORMATIF KD 3.1, KD 3.2, DAN ... https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/swara bhumi/article/view/18406.

Dalam mengevalusi item, minimal ada dua aspek utama yang perlu dipertimbangkan oleh seorang evaluator. Kedua aspek utama tersebut, yaitu tingkat kesulitan setiap item dan nilai pembeda atau diskriminatif item.

1. Tingkat kesulitan

Tingkat kesulitan item atau disebut juga indeks kesulitan item adalah angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab betul dalam satu soal yang dilakukan dengan menggunakan tes objektif. Tingkat kesulitan tes item pada umumnya ditunjukkan dengan presentase siswa yang memperoleh jawaban item benar. Kesulitan item mengikut formula seperti berikut.

Di mana :
Pi = nilai kesulitan item.
Nt = jumlah peserta didik dalam sampel.
Xij = skor item I untuk peserta didik j.

Semakin tinggi nilai Pi berarti semakin mudah item atau soal tersebut bagi para siswa yang dievaluasi. Sebaliknya, semakin rendah nilai Pi berarti semakin sulit item tes bagi para siswa. Secara impiris, batasan tentang nilai kesulitan ini dapat ditingkatkan dengan cara menjadikan nilai total Nt sama dengan jumlah siswa yang telah menjawab item. Perubahan ini suatu ketika bisa manjadi signifikan, apabila terjadi pada item-item tertentu yang pada akhir tes banyak yang mengosongkan atau tidak menjawab.

Oleh karena itu, para evaluator perlu hati-hati dan mengantisipasi kemungkinan diatas, utamanya ketika para evaluator sedang melakukan uji coba item-item tes yang dimaksud. Menurut Gronlund dan Linn (1990), item kesulitan untuk tes normatif, dapat menggunakan formula berikut.

Di mana :
R = jumlah siswa yang menjawab item benar.
T = total siswa yang mengikuti evaluasi.

2. Indeks Pembeda (IP)

Batasan tentang indeks pembeda muncul terutama pada item-item tes yang disusun secara objektif. Apa yang dimaksud dengan indeks pembeda pada tes pencapaian hasil belajar, khususnya indeks pembeda yang mengacu pada tes normatif? Indeks pembeda menurut Barnard (1999) adalah angka atau koefisien yang memberikan informasi tentang pembeda secara individual, termasuk membedakan antara siswa yang pencapaiannya tinggi dengan siswa yang pencapaiannya rendah dalam suatu tes pencapaian hasil belajar.

Indeks pembeda item pada prinsipnya membedakan pada arah positif atau arah negatif. Indeks pembeda negatif, apabila siswa pada grup atas lebih banyak jumlahnya, jika dibandingkan siswa dengan grup bawah. Indeks positif menunjukkan bahwa item tes memiliki arah yang sama dengan total skor yang merefleksikan pencapaian tujuan yang diinginkan. Sebaliknya, indeks pembeda negatif berarti item menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan tujuan hasil belajar yang sudah direncanakan oleh guru.

Indeks pembeda menurut Daryanto (2005) dan Slameto (2001) merupakan kemampuan sesuatu soal atau item dalam membedakan antara siswa yang pandai atau berhasil dengan siswa yang kurang berhasil atau bodoh. Formula indeks pembeda dapat ditampilkan seperti berikut.

Di mana :
IP = indeks pembeda item.
Ru = jumlah siswa yang menjawab benar pada grup atas.
RI = jumlah siswa yang menjawab benar pada grup bawah.
T = total siswa yang mengikuti tes.

Jika item pada contoh soal kelas matematika digunakan maka:

Indeks pembeda item = 50%

Indeks pembeda suatu tes pada umumnya memiliki angka baku yang besarnya 0,40. Hal ini berarti, indeks pembeda pada kasus di atas digunakan untuk membedakan yang bisa menjawab item tes dan yang tidak bisa menjawab dengan benar. Sebagai contoh, jika suatu item ternyata memiliki IP = 50% dan IP baku item besarnya > 0,40, berarti item tes pada contoh tersebut adalah cukup baik. Hal ini berarti item tes tersebut sesuai dengan tujuan tes yang telah ditentukan oleh guru.[4]
[4] Prof. H.M. Sukardi, MS. Ph.D. EVALUASI PENDIDIKAN Prinsip dan Operasionalnya. Cetakan ketujuh (Jakarta Timur. PT. Bumi Aksara, 2012), hal 135-139 .

C. Analisis Item pada Test Kriterion

Criterionre ferenced tes(CRT) atau penilaian acuan patokan(PAP) adalah penilaian yang diacukan kepada tujuan instruksional yang harus dikuasai siswa. Dengan demikian derajat siswa dibandingkan dengan tujuan yang seharusnya dicapai, bukan dibandingkan dengan rata-rata pengelompokannya. Biasanya keberhasilan siswa ditentukan kriterianya, yakni berkisar 75-80%.[5]
[5] https://www.slideshare.net/missimada/norm-reference-test-and-criterion-referenced-test

Misalnya setiap siswa diberi pertanyaan sejumlah 50 soal. Setiap jawaban yang benar mendapatkan skor 1, sehingga skor maksimal yang dicapai adalah 50. Kriteria keberhasilan 80% artinya siswa harus mencapai nilai 40 agar bisa dinyatakan lulus. Apabila siswa mendapat nilai kurang dari 40, ia dinyatakan tidak lulus.

Sistem penilaian ini mengacu pada konsep belajar tuntas atau mastery learning. Makin tinggi kriteria yang digunakan oleh pendidik di sekolah tersebut, makin tinggi pula kualitas belajar siswanya. Keberhasilan dalam penilaian ini tergantung pada penguasaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan, guna mendukung tujuan instruksional.

Pada prinsipnya, Item analisis untuk tes criterion yang juga sering disebut penilaian acuan patokan ini melihat item atas dasar tingkat kesulitan dan indeks pembeda yang dapat diuraikan seperti berikut.

1. Tingkat kesulitan

Tingkat kesulitan untuk tes kriterion tidak terlalu mendasar pada kemampuan item dalam membedakan antara tinggi dan rendahnya siswa dalam menjawab soal. Kesulitan setiap item tes kriterion pada prinsipnya ditentukan oleh hasil belajar yang ingin diukur.

Jika tugas dalam hasil pembelajaran yang ditentukan direncanakan mudah maka tes yang dibuat oleh seorang evaluator juga mudah. Sebaliknya, jika tugas dalam hasil pembelajaran memiliki tingkat kesulitan tinggi maka tes yang dibuat oleh evaluator juga direncanakan memiliki tingkat kesulitan tinggi.

Dalam tes yang mengacu pada penilaian acuan patokan, tidak ada usaha yang dibuat untuk mengubah tingkat kesulitan item tanpa melihat tugas dalam proses pembelajaran.Agar meningkatkan daya pembeda atau mencapai penyebaran skor tes yang baik, formula baku untuk menentukan kesulitan item dapat diaplikasikan pada tes dengan penilaian patokan.Walaupun demikian, hasilnya belum tentu dapat digunakan untuk memiliki item atau memanipulasi kesulitan item yang ada. Hal ini terjadi karena hampir semua item pada teskriterion biasanya mempunyai kesulitan tinggi atau rendah sesuai dengan instruksi tes yang direncanakan.

2. Indeks pembeda

Kemampuan item tes untuk membedakan antara siswa yang menjawab benar dalam kelompok tinggi dan siswa yang menjawab benar dalam kelompok rendah, pada umumnya tidak terlalu penting untuk tes yang disusun dengan penilaian acuan patokan. Ada kemungkinan suatu item mempunyai indeks pembeda rendah atau mendekati 0; ini berarti para siswa dalam satu kelas memiliki dua peluang, yaitu;

a) Semua menjawab benar, atau sebaliknya.
b) Semua menjawab salah.

Dalam analisis item dengan penilaian acuan nomatif, maka item tersebut harus dibuang, karena tidak memiliki daya pembeda. Sebaliknya, pada analisis item dengan penilaian acuan patokan, item tersebut tidak perlu dibuang. Karena walaupun tidak memiliki daya pembeda,item tersebut tetap memberikan informasi penting, yakni tentang siswa dalam penampilan hasil pembelajaran di kelas.

Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan oleh seorang evaluator dalam menganalisis item dengan penilaian acuanpatokan adalah apakah item item tes telah benar-benar mengukur pengaruh instruksional atau pengajaran seorang guru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,seorang guru perlu dianjurkan pentingnya menerapkan prinsip eksperimen semu (quasi experiment) di kelas. Eksperimen semua ini dapat dilakukan, salah satu caranya dengan memberikan tes yang dua kali.

Pertama, pada saat pembelajaran dimulai sebagai hasil pretes; kedua, sesudah proses pembelajaran berakhir, sebagai hasil potes. Hasil yang dicapai adalah dapat diperolehnya indeks sensitivitas pengaruh pengajaran (S) yang mengikuti formula seperti berikut.

Di mana :
S = Sensitivitas pengaruh pengajaran.
Ra = jumlah siswa menjawab benar sesudah proses pengajaran.
Rb = jumlah siswa menjawab benar sebelum proses pengajaran.
T = total siswa yang mengikuti kedua proses testing.

Indeks sensitivitas merupakan koefisien atau angka yang menunjukkan selisih antara siswa menjawab benar sesudah dan sebelum proses pembelajaran dibagi jumlah siswa yang mengikuti dua tes dalam proses evaluasi.

Item ideal atau sempurna pada tes kriterion menghasilkan indeks 1,00. Dalam implementasi, item nilai indeks dikatakan efektif pada umumnya mempunyai nilai 0,00 sampai1,00. Semakin tinggi nilai positif, dapat diartikan item lebih sensitive terhadap pengaruhpengajaran hasil belajar. Sebaliknya, item dengan nilai 0,0 dan nilai negative berarti item tidak merefleksikan pengaruh pengajaran yang terencana.

Dalam tes kriterion pada umumnya selalu ada jawaban penjebak (distracter). Jawaban penjebak ini direncanakan oleh penyusun evaluasi atau guru kelas untuk mengacukan siswa yang tidak belajar dengan baik, sehingga akan memilih jawaban yang tidak benar. Maka seorang evaluator sebaiknya memperhatikan jawaban penjebak pada setiap item. Pengecekan tersebut fokus pada jawaban penjebak yang sering atau tidaknya dipilih oleh para siswa.

Pengecekan jawaban penjebak sebaiknya dilakukan ketika evaluasi pretes dilaksanakan, dimana Sebagian siswa diharapkan memilih jawaban penjebak yang disediakan. Jika item-item yang berisi jawaban penjebak tidak dipilih semuanya maka seorang evaluator perlu melakukan cek ulangkembali dan merevisi jawaban penjebak tersebut.[6]
[6] .Prof. H.M. Sukardi, MS. Ph.D. EVALUASI PENDIDIKAN Prinsip dan Operasionalnya. Cetakan ketujuh (Jakarta Timur. PT. Bumi Aksara, 2012), hal. 139-142

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Analisis item merupakan salah satu tahapan dalam penyusunan sebuah alat ukur yang digunakan untuk mendefinisikan perhitungan dan pengujian statistikal terhadap skor-skor item alat ukur individual. Tujuan utama dalam melakukan analisia item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur. Adapun pengukuran yang umum digunakan dalam analisa item yaitu : Item Difficualty, Item Discrimination, dan Item Total Correlation.

Analisis item pada test normatif adalah tes yang dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri. Ada juga yang menyatakan bahwa tes normatif digunakan sebagai alat untuk memperbaiki program pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam mengevaluasi item pada tes normatif seorang evaluator perlu mempertimbangkan dua hal yaitu tingkat kesulitan tiap item dan nilai pembeda atau diskriminatif item. Analisis item pada test kriterion adalah penilaian yang diacukan kepada tujuan instruksional yang harus dikuasai siswa.

Kesulitan setiap item tes kriterion (criterion referenced mastery) pada prinsipnya ditentukan belajar yang ingin diukur. Jawaban distracter direncanakan oleh penyusun evaluasi untuk mengacaukan siswa yang tidak benar-benar belajar agar tidak memilih jawaban yang benar. Item ideal pada cruerion-referenced test menghasilkan indeks 1,00. Item dikatakan efektif pada umumnya mempunyai nilai 0,00 sampai 1,00. Semakin tinggi nilai positif, berarti item lebih sensitif terhadap pengaruh instruksional. Item dengan nilai 0,00 dan nilai negatif berarti item tidak merefleksikan pengaruh instruksional yang terencana.

Indeks kesulitan item adalah angka yang menunjukkan proporsi siswa menjawab betul dalam satu soal yang dilakukan dengan menggunakan tes objektif. Indeks pembeda merupakan kemampuan suatu soal atau item dalam membedakan antara siswa yang pandai atau berhasil dengan siswa yang kurang berhasil atau bodoh.

DAFTAR PUSTAKA

ANALISIS KUALITAS BUTIR SOAL PADA TES FORMATIF KD 3.1, KD 3.2, DAN ... https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/swara-bhumi/article/view/18406.

https://www.globalstatistik.com/analisis-item/

https://www.slideshare.net/missimada/norm-reference-test-and-criterion-referenced-test.

Prof. H.M. Sukardi, MS. Ph.D. EVALUASI PENDIDIKAN Prinsip dan Operasionalnya. Cetakan ketujuh (Jakarta Timur. PT. Bumi Aksara, 2012).


Kamis, 26 Oktober 2023

Mengonstruksi Tes Pilihan Ganda

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Evaluasi Pendidikan
Dosen pengampu : Sabar Siswoyo, MPd.
Oleh Kelompok 10 Angkatan 5:
1. Suci Mardhotilla (PAUD)
2. Roslina Asis (PAI)
3. Siti Fauzia Tis Sakinah (SBA)
4. Tanti R.Apadu (SBA)
5. Ega Cahya Ningrum (PAI)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang telah memberikan hidayah serta nikmat-Nya, terutama nikmat sehat dan waktu luang sehingga kami bisa menyelesaikan makalah mata kuliah “Sistem Evaluasi Pendidikan”.

Sholawat serta salam tidak lupa kita sampaikan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan pengikutnya hingga hari kiamat kelak.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ustadz Sabar Siswoyo, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Sistem Evaluasi Pendidikan dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini maka itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Lahat, 27 Oktober 2023 M / 02 Rabi’ul Awal 1444 H

Penyusun Makalah Peran Pencernaan Dalam Sistem Pendidikan
Kelompok 10

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN.
1.1 Latar Belakang.
1.2 Rumusan Masalah.
1.3 Manfaat Penelitian.
BAB II PEMBAHASAN.
2.1 Kelebihan Item Tes Pilihan Ganda.
2.2 Item Tes Betul Salah (ITBS).
2.3 Kelebihan dan Kelemahan Item Tes Betul Salah (ITBS).
2.4 Item Tes Menjodohkan (ITM).
2.5 Item Tes Pilihan Ganda (ITPG).
2.6 Kelebihan Item Tes Pilihan Ganda (ITPG).
2.7 Kelemahan Item Tes Pilhan Ganda (ITPG).
2.8 Mengonstruksi Tes Pilihan Ganda.
2.9 Menilai Tes Pilihan Ganda.
BAB III PENUTUP.
3.1 Kesimpulan.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam upaya menggali potensi diri. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda, hal ini pun akan mempengaruhi tingkat motivasi belajar setiap siswa pada mata pelajaran yang diikutinya.

Sebagai guru kita memiliki tugas untuk memotivasi dirinya untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik atau meningkat. namun disisi lain perlu disadari bahwa hasil belajar siswa bukan hanya semata-mata karena hasil dari siswa itu sendiri, terdapat faktor gurulah yang menjadi cerminan apakah selama proses pembelajarannya sudah berupaya semaksimal mungkin dalam memperbaiki dan mengevaluasi proses pembelajaran dalam memperoleh hasil yang diharapkan untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa yang ditunjang dengan motivasi dari guru. Adapun hasil belajar ini dapat diukur dengan menggunakan instrumen tes.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penyusun membuat rumusan masalah sebagai barikut:

1. Apa saja kelebihan item tes pilihan ganda?
2. Bagaimana item tes betul salah?
3. Apa saja kelebihan dan kelemahan item tes betul salah?
4. Bagaimana item tes menjodohkan?
5. Bagaimana item tes pilihan ganda?
6. Apa saja kelebihan dan kelemahan item tes pilihan ganda?
7. Bagaimana mengosntruksi tes pilihan ganda?
8. Bagaimana menilai tes pilihan ganda?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui apa saja kelebihan item tes pilihan ganda.
2. Mengetahui bagaimana item tes betul salah.
3. Mengetahui apa saja kelebihan dan kelemahan item tes betul salah.
4. Mengetahui bagaimana item tes menjodohkan.
5. Mengetahui bagaimana item tes pilihan ganda.
6. Mengetahui apa saja kelebihan dan kelemahan item tes pilihan ganda.
7. Mengetahui bagaimana mengosntruksi tes pilihan ganda.
8. Mengetahui bagaimana menilai tes pilihan ganda.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kelebihan Item Tes Pilihan Ganda

Tes tipe pilihan ganda menurut Sukardi 2008: 125 mempunyai beberapa kelebihan yang secara ringkas dapat dicermati dalam uraian berikut:

1. Tes pilihan ganda memiliki karakteristik yang baik untuk alat pengukuran hasil belajar siswa.

2. Item tes pilihan ganda yang dikonstruksikan dengan intensif dapat mencangkup hampir seluruh bahan pembelajaran yang diberikan oleh guru kelas.

3. Item tes pilihan ganda adalah tepat untuk mengukur penguasaan informasi para siswa yang hendak dievaluasi.

4. item tes pilihan ganda dapat mengukur kemampuan intelektual atau kognitif, afektif, dan psikomotor siswa.

5. dengan menggunakan kunci jawaban yang sudah disiapkan secara terpisah jawaban siswa dapat dikoreksi dengan lebih mudah.

6. Hasil jawaban siswa yang diperoleh dari tes pilihan ganda dapat dikoreksi bersama, baik oleh guru maupun siswa dengan situasi yang lebih kondusif.

7. Item tes pilihan ganda yang sudah dibuat terpisah antara lembar soal dan lembar jawaban, dapat dipakai secara berulang-ulang.[1]
[1] Agdyah Eka Ning Ndaru, Skripsi: Pengembangan Tes Hasil Belajar Matematika Keompetensi Dasar Melakukan Operasi Perkalian dan Pembagian Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2017), Hal. 23

2.2 Item Tes Betul Salah

Tes obyektif bentuk benar atau salah (true false) adalah salah satu bentuk tes obyektif di mana butir-butir soal yang diajukan dalam tes hasil belajar itu berupa pernyataan (statement), pernyataan mana ada yang benar dan ada yang salah dengan kata lain terdapat dua kemungkinan alternatif jawab yaitu Benar atau Salah. Selain itu, tes ini juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek (short answer test), tes “ya/tidak” (yes-no test) dan merupakan tes model baru (new type test) dengan cara menuliskan jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan. Pada pernyataan tes benar atau salah, peserta tes tersebut tinggal menyilang atau melingkari huruf B jika pernyataan menurut pendapat benar dan huruf S jika salah. Dalam hal ini peserta tes diminta menentukan pendapatnya mengenai pernyataan-pernyataan tersebut dengan cara seperti yang telah ditentukan dalam petunjuk cara mengerjakan soal.

Bentuk tes benar atau salah ini bermacam-macam variasinya jika dilihat dari segi pola pengerjaannya yang terdiri dari:

1. Tes Benar-Salah bentuk pernyataan.

Dalam bentuk ini soal terdiri dari pernyataan-pernyataan dan siswa diminta memilih kemungkinan benar atau salah saja.

2. Tes Benar-Salah yang menuntut alasan.

Dalam bentuk ini selain seperti bentuk pertama juga menuntut supaya siswa memberi alasan apabila ia memilih kemungkinan salah (menyalahkan pernyataan soal).

3. Tes Benar-Salah dengan membetulkan.

Dalam bentuk tes ini selain seperti bentuk pertama juga menuntut supaya siswa membetulkan pernyataan soal yang disalahkan (jika siswa memilih kemungkinan salah terhadap pernyataan/ soal yang bersangkutan).

4. Tes Benar-Salah Berganda.

Pada bentuk ini satu induk persoalan menghasilkan beberapa anak persoalan. Beberapa anak persoalan itu dirumuskan dalam pernyataan/ soal yang mempunyai kemungkinan benar atau salah.

Penulisan item Benar-Salah, Item-item tes yang mempunyai tipe benar-salah harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya.

1. Soal harus singkat, jelas, bukan kalimat majemuk.

2. Jumlah soal harus banyak dan disusun atau dasar tabel spesifikasi.

3. Satu soal harus berisi satu pernyataan.

4. Tidak mengungkapkan kata-kata seperti: selalu, seringkali, pada umumnya, biasanya, karena kata-kata itu memudahkan murid untuk menerka jawaban.

5. Setiap pernyataan/soal harus pasti salah atau betul (tidak mendua arti).

6. Jumlah soal yang betul dan yang salah harus seimbang.

7. Urutan soal (yang betul dan yang salah) seharusnya tidak mengikuti pola yang teratur.

8. Sebaiknya pernyataan tidak diambil langsung dari buku.

9. Tulisan huruf B-S pada permulaan nomor masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (skoring).[2]
[2] Hendra dkk, Makalah: Menuliskan Item Tes Untuk Berbagai Jenis Tes,(Malang: Universitas Muhammadiyah, 2013), Hal 14-18

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Item Tes Betul Salah (ITBS)

Kelebihan dari soal bentuk soal benar-salah adalah sebagai berikut :

1. Mudah dikonstruksi, maksudnya adalah bahwa untuk menulis satu tes benar salah hanya diperlukan satu pernyataan, dimana pernyataan tersebut harus berkaitan dengan tes tersebut.

2. Perangkat soal dapat mewakili seluruh perangkat pokok bahasan, ini merupakan kekuatan utama dari tes tipe benar salah.

3. Mudah dalam Penilaian, karena hanya ada dua alternatif jawaban, maka setiap butir soal tes hanya mempunyai dua alternatif skor, yaitu satu untuk yang mengerjakannya secara benar dan nol untuk yang menjawab salah.

4. Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama yang berkenaan dengan ingatan. Tes tipe benar salah mengukur kemampuan dasar hasil belajar, yaitu dapat membedakan kenyataan diri yang bukan kenyataan atau dari suatu yang benar dari yang salah.

Adapun kelemahan dari tes objektif tipe benar salah adalah sebagai berikut:

1. Mendorong peserta tes (siswa) untuk menebak jawaban, karena probabilitas menjawab benar adalah 50 % maka tipe tes ini seakan mendorong para peserta tes untuk menebak jawaban walaupun mereka tidak mengetahui jawaban yang benar.

2. Terlalu menekankan pada ingatan, karena tes tipe ini memaksa penulis tes untuk menguji hasil belajar langsung yang berbentuk ingatan. Kelemahan ini lebih diperburuk jika guru atau pendidik mengkonstruksi tes yang mengambil langsung pernyataan dari buku ajar yang digunakan.

3. Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan (benar dan salah). [3]
[3] Ibid, hal 14-18

2.4 Item Tes Menjodohkan (ITM)

Item tes menjodohkan sering juga disebut matching test item. Item tes menjodohkan ini juga termasuk dalam kelompok tes objektif. Secara fisik, bentuk item tes menjodohkan, terdiri atas dua kolom yang sejajar. Pada kolom pertama berisi pernyataan yang disebut daftar stimulus dan kolom.kedua berisi kata atau frasa yang disebut juga daftar respons atau jawaban.

Item tes menjodohkan pada prinsipnya dapat mengevaluasi pengetahuan tentang fakta yang memiliki makna spesifik. Agar dapat digunakan sebagai materi premis atau kolom respons. fakta harus sederhana dan jelas. Jika kedua kriteria tersebut tidak dipenuhi maka tipe tes lain perlu dipertimbangkan penggunaannya. Agar mendapatkan item tes menjodohkan yang efektif, beberapa aturan dapat dipertimbangkan utamanya ketika seorang guru hendak mengonstruksi item tes jenis menjodohkan :

1. Perlu adanya petunjuk yang jelas tentang bagaimana menjawab tes menjodohkan. Petunjuk tersebut perlu disusun dengan kalimat yang singkat dan jelas. Guru pun perlu menegaskan makna dan cara menjawab pada setiap kolom.

2. Pada setiap kolom sebaiknya diberi label untuk lebih menjelaskan petunjuk .

3. Item-item dalam tes menjodohkan sebaiknya homogen. Jika hanya sedikit materi pembelajaran yang dapat dikelompokkan secara homogen dan berkaitan satu dengan lainnya, maka bentuk tes lain direkomendasikan untuk digunakan.

4. Sebaiknya antara premis dan respons tidak sama jumlahnya. Secara empiris antara jumlah respons lebih banyak antara 1 atau 2 jawaban. Jika premis dan respons dibuat sama jumlahnya, ada kemungkinan para siswa menjawab dengan menerka.

5. Untuk setiap tes jumlah item menjodohkan sebaiknya antara 4-8 item. Jika terlalu sedikit akan menimbulkan kurang informasi bagi para siswa. Sebaliknya, jika lebih besar dari 8, item kemungkinan terjadi tumpang tindih, membingungkan, dan menghabiskan waktu.

6. Huruf besar atau angka (arab) sebaiknya digunakan untuk memberikan label item-item pada daftar jawaban.

6.7. Item-item dalam daftar respons sebaiknya dibuat lebih pendek dibandingkan dengan daftar stimulus atau premis.

7. Kolom dan daftar respons sebaiknya di tempatkan pada sisi sebelah kanan.

8. Semua item untuk satu set tes menjodohkan, sebaiknya ditempatkan pada satu halaman. Penempatan kedua kolom pada halaman lain atau terpisah akan mengakibatkan siswa membaca sambil membolak-balik halaman.

8.Dari beberapa aturan tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa seorang guru hendak mengonstruksi item tes jenis menjodohkan dapat dikatakan berhasil secara apabila:

1. Perlu adanya petunjuk yang jelas untuk menjawab tes menjodohkan yang telah ditegaskan oleh guru.

2. Diberikan label disetiap kolom untuk lebih menjelaskan petunjuk.

3. Item-item dalam tes menjodohkan sebaiknya homogen.

4. Kolom dan daftar respons sebaiknya ditempatkan pada sisi sebelah kanan.

5. Sebaiknya antara premis dan respons tidak sama jumlahnya.

6. Semua item untuk satu set tes menjodohkan, sebaiknya ditempatkan pada satu halaman.[4]
[4] Rita Marniyawati Putri, Skripsi: Pengaruh Tes Objektif Terhadap Mental Belajar Siswa Kelas VIII MTsN 1 Kota Bumi Lampung Utara, (Bandar Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan, 2020), Hal. 21-24

2.5 Item Tes Pilihan Ganda (ITPG)

Item tes pilihan ganda merupakan jenis tes objektif yang paling banyak digunakan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang luas dengan tingkat domain yang bervariasi. Item tes pilihan ganda memiliki semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi objektivitas, reliabilitas, dan daya pembeda antara siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal atau bodoh. Item tes pilihan ganda dapat digunakan untuk mengevaluasi aplikasi pengetahuan hasil belajar yang telah diberikan kepada siswa selama satu semester atau kuartal. Item tes pilihan ganda juga dapat digunakan untuk mengukur batasan atau definisi pengetahuan yang sudah jelas, sedangkan untuk batasan pengetahuan yang masih kurang jelas para guru dianjurkan untuk menggunakan item tes menjodohkan (matching test).[5]
[5] Ibid, Hal.21

2.6 Kelebihan Item Tes Pilihan Ganda (ITPG)

Menurut Sukardi 2008: 125 item tes pilihan ganda mempunyai beberapa kelebihan yang secara ringkas dapat dicermati dalam uraian berikut:

1. Tes pilihan ganda merupakan tes yang baik untuk mengukur hasil belajar siswa,

2. Item tes pilihan ganda yang disusun dengan intensif dapat meliputi hampir seluruh pembelajaran dikelas,

3. Item tes pilihan ganda merupakan cara yang tepat untuk mengukur wawasan informasi para siswa,

4. Item tes pilihan ganda dapat mengukur kemampuan intelektual atau kognitif, afektif, dan psikomotor siswa,

5. Item tes pilihan ganda lebih mudah untuk dikoreksi karena kunci jawabannya sudah disiapkan secara terpisah

6. Dapat dikoreksi bersama oleh guru dan siswa dengan situasi yang kondusif,

7. Item tes pilihan ganda yang disusun secra terpisah antara lembar soal dan lembar jawaban dapat dipakai secara berulang-ulang.[6]
[6] Agdyah Eka Ning Ndaru, Skripsi: Pengembangan Tes Hasil Belajar Matematika Keompetensi Dasar Melakukan Operasi Perkalian dan Pembagian Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2017), Hal. 23

Dari beberapa sumber yang lainnya, ada beberapa kelebihan dari item tes pilihan ganda diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Efisien. Soal pilihan ganda dapat dikerjakan dengan cepat dan mudah, sehingga menghemat waktu dan tenaga.

2. Objektif. Jawaban benar dan salah dari soal pilihan ganda dapat ditentukan dengan jelas, sehingga penilaian dapat dilakukan secara objektif.

3. Tepat sasaran. Soal pilihan ganda dapat mengukur pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari.[7]
[7] “ Soal Pilihan Ganda : Kelebihan dan Kekurangannya”, (Https://www.kompasiana.com/lorongmandiri1237/650c82aa08a8b555c9460052/soal-pilihan-ganda-kelebihan-dan-kekurangannya, diakses pada tanggal 24 Oktober 2023 oukul 20.25 wib)

4. Hasil belajar dari yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur,

5. Sangat terstruktur dan tugas disusun dengan jelas,

6. Jawaban yang tidak benar memberikan informasi diagnostic.[8]
[8] Ambiyar, Pengukuran Dan Tes Dalam Pendidikan (Padang: UNP Press: 2011), Hal.57-58

2.7 Kelemahan Item Tes Pilihan Ganda (ITPG)

Sukardi 2008: 126 juga mengemukakan bahwa kelemahan dari tes tipe pilihan ganda ada empat yaitu,

1. Susunan item tes pilihan lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lumayan lama dibandingkan item tes lainnya,

2. Tidak semua guru menyukai tes pilihan ganda untuk mengukur hasil pembelajaran yang telah diberikan dalam waktu tertentu,

3. Item tes pilihan ganda kurang efektif untuk mengukur kemapuan siswa dalam mempelajari materi hasil pembelajaran,

4. Item tes pilihan ganda memberi peluang pada siswa untuk menebak-nebak jawaban.[9]
[9] Agdyah Eka Ning Ndaru, Loc.Cit.

Sumber lain juga mengemukakan beberapa kekurangan dari item tes pilihan ganda diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Hanya mengukur kemampuan peserta didik untuk memilih jawaban yang benar dan tidak dapat mengukur kemampuan peserta didik dalam berpikir secara kritis,

2. Menjawab soal dengan asal-asalan tanpa memahami materi yang dipelajari,

3. Soal pilihan ganda yang tidak sesuai materi dapat membuat peserta didik kebingungan,[10]
[10] “Soal Pilihan Ganda : Kelebihan dan Kekurangannya”, Loc.Cit.

4. Menyusun item tes pilihan ganda yang bagus membutuhkan waktu yang lama

5. Sulit membuat opsi pilihan yang bagus dan masuk akal,

6. Tidak efektif untuk mengukur bagaimana peserta didik memecahkan masalah dan menuangkan pengetahuannya,

7. Nilai dapat dipengaruhi oleh kemampuan membaca.[11]
[11] Ambiyar, Loc.Cit.

2.8 Mengonstruksi Tes Pilihan Ganda

Mutu butir tes pilihan ganda sangat tergantung kepada kemampuan orang yang mengkontruksi tes soal tipe ini. Berikut ini beberapa prinsip pokok dalam konstruksi butir tes pilihan ganda:

a) Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya kemampuan atau materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis, dan hanya mengandung satu persoalan untuk setiap nomor. Bahasa yang digunakan harus komunikatif sehingga mudah dimengerti peserta didik. Apabila tanpa harus melihat dahulu pilihan jawaban peserta didik sudah dapat mengerti pertanyaan/maksud pokok soal, maka dapat disimpulkan bahwa pokok soal tersebut sudah jelas.

b) Item tes pilihan ganda dengan empat jawaban, banyak digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.[12]
[12] Rian dan Ria, "Makalah mengonstruksi tes pilihan ganda" https://id.scribd.com/document/437867584/Makalah-Mengonstruksi-Tes-Pilihan-Ganda, diakses pada 25 Oktober 2023.

c) Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya, apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja.

d) Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini perlu diperhatikan karena adanya kecenderungan peserta didik untuk memilih jawaban yang paling panjang, Karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.

e) Hindari memberi kata-kata pada item yang mengandung petunjuk (clues) yang mengarah pada jawaban benar, baik yang tersirat maupun tersurat.

f) Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab dengan benar soal berikutnya.[13]
[13] Pustaka KTI, "Kaedah Penulisan Soal" http://literaturkti.blogspot.com/2014/04/kaidah-penulisan-soal.html?m=1. diakses pada 25 Oktober 2023.

g) Kalimat pada setiap butir tes pilihan ganda sebaiknya menggunakan kalimat positif, kecuali guru sangat perlu menggunakan kalimat negative maka kata negatif tersebut digaris bawahi atau ditulis tebal.

h) Semua pilihan jawaban sebaiknya direncanakan memiliki panjang dan jumlah kata yang sama dan tidak mengandung petunjuk jawaban benar.

i) Jangan menggunakan item tes pilihan ganda ketika ada jenis tes lain yang lebih tepat.

2.9 Menilai Tes Pilihan Ganda

Menurut Slameto (2001) penilaian item tes pilihan ganda pada umumnya dapat dibedakan menjadi dia macam yaitu:

a) Penilaian dengan memperhitungkan jawaban yang salah. Pada cara ini sebagai guru mempertimbangkan jawaban salah diperhitungkan dan digunakan sebagai denda untuk mengurangin jawaban yang benar. Penilaian model pertama ini mengikuti format seperti berikut:

Dimana:
N = nilai
B = benar
S = salah
n = banyaknya pilihan

Konsekuensi dari adanya denda ini siswa menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan jawaban soal.

b) Penilaian dengan tidak memperhitungkan jawaban salah. Dengan kata lain, jawaban salah tidak memperngaruhi nilai pada jawaban benar. Nilai akhir dari item tes pilihan ganda sama dengan jawaban benar.

N = B

Dimana:
N = nilai
B = benar

Dari dua tipe penilaian di atas jika tidak ada tujuan khusus dibalik proses ujian, tipe kedua adalah tipe yang dianjurkan bagi guru kelas. Dalam hal ini tantangan yang terpenting adalah menyusun tes pilihan ganda secara cermat dengan memperhitungkan distracter lebih baik dari pada menghukum siswa dengan menerapkan sistem denda pada jawaban yang salah.

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan

Mengontruksi tes pilihan ganda sangat memudahkan peserta didik untuk mengakses jawaban yang akurat. Tes pilihan ganda juga memiliki banyak manfaat dan sangat berguna dalam proses evaluasi baik bagi pengajar maupun peserta didik. Seperti yang sudah kita ketahui Item tes pilihan ganda memiliki semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi objektivitas, reliabilitas, dan daya pembeda antara siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal atau bodoh.

DAFTAR PUSTAKA

Agdyah Eka Ning Ndaru. 2017. Pengembangan Tes Hasil Belajar Matematika Keompetensi Dasar Melakukan Operasi Perkalian dan Pembagian Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Ambiyar. 2011. Pengukuran Dan Tes Dalam Pendidikan. Padang: UNP Press.

Hendra dkk. 2013. Menuliskan Item Tes Untuk Berbagai Jenis Tes. Makalah. Malang: Universitas Muhammadiyah

Kaidah Penulisan Soal. 08 April 2014. http://literaturkti.blogspot.com/2014/04/kaidah-penulisan-soal.html

Putri, Rita Marniyawati. 2020. Pengaruh Tes Objektif Terhadap Mental Belajar Siswa Kelas VIII MTsN 1 Kota Bumi Lampung Utara. Skripsi . Bandar Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan

Scribd, 02 Desember 2019, Makalah mengonstruksi Tes Pilihan Ganda diakses pada 25 Oktober 2023. https://id.scribd.com/document/437867584/Makalah-Mengonstruksi-Tes-Pilihan-Ganda

Soal Pilihan Ganda : Kelebihan dan Kekurangannya. 22 September 2023. (Https://www.kompasiana.com/lorongmandiri1237/650c82aa08a8b555c9460052/soal-pilihan-ganda-kelebihan-dan-kekurangannya.

Jumat, 20 Oktober 2023

Mengonstruksi Tes Objektif Jenis Isian

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Evaluasi Pendidikan
Dosen pengampu : Sabar Siswoyo, MPd.
Oleh Kelompok 9 Angkatan 5:
1. Nila Sari (PAI)
2. Nurul Izzah Razali (PAI)
3. Yuni Heri Suciasih (PAI)
4. Raisa Salsabila (PAI)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MENGONTRUKSI TES OBJEKTIF JENIS ISIAN” penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Evaluasi Pendidikan. Kami berharap dapat menambah wawasan.

Menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini. karena itu, kami sangat mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca untuk melengkapi segala kekurangan dan kesalahan dari makalah ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu selama proses penyusunan makalah ini.

Bogor, 20 Oktober 2023
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN.
1.1 Latar belakang.
1.2 Rumusan masalah.
1.3 Manfaat.
BAB II PEMBAHASAN.
2.1 Item Tes Jawaban Singkat Dan Tes Melengkapi.
2.2 Item Tes Asosiasi.
BAB III PENUTUP.
3.1 Kesimpulan.
3.2 Saran.
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Disamping tes esai seperti yang telah dibahas pada bab 8, ada item tes jenis lain yang juga sering digunakan oleh para guru dalam kegiatan belajar mengajar. Item tes yang dimaksud yaitu tes objektif. Tes ini dikatakan objektif karena para siswa tidak dituntut merangkai jawaban atas dasar informasi yang dimilikinya seperti pada tes esai. Pada tes jenis ini, jawaban pada umumnya sudah disediakan atau sudah diarahkan dan lebih bersifat pasti. Secara garis besar tes objektif dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tes objektif jenis isian (supply type) dan tes objektif jenis pilihan atau sering juga disebut selection type. Dibandingkan dengan tes esai, tes objektif jenis isian lebih mendekati pada tes esai sederhana. Pada item tes ini, juga memerlukan siswa untuk mengingat materi pembelajaran, dan menyimpan informasi materi dalam pikiran, kemudian menuangkannya dalam bentuk memberikan jawaban atas suatu pertanyaan. Oleh karena itu, tes jenis isian populer disebut sebagai supply type. Disebut demikian sebenarnya mengikuti alur logika saja; karena untuk menjawab tes tersebut, tidak hanya harus mengetahui informasi yang diinginkan, tetapi juga perlu menghafalkan dalam pikiran dan kemudian menuangkannya ke dalam jawaban secara tertulis.

Tes objektif jenis isian pada prinsipnya mencangkup tiga macam tes, yaitu: a) tes jawaban bebas atau jawaban terbatas, b) tes melengkapi, dan c) tes asosiasi. Tes jawaban bebas mengungkap kemampuan siswa dengan cara bertanya, tes melengkapi mengungkap kemampuan siswa dengan memberikan spasi atau ruang kosong untuk diisi dengan jawaban (kata) yang tepat, dan tes asosiasi mengungkap kemampuan siswa dengan menyediakan spasi yang diisi dengan satu jawaban atau lebih, di mana jawaban tersebut masih memiliki keterkaitan dan bersifat homogen antara satu dengan lainnya.

Ketiga tes yang disebutkan diatas mempunyai banyak kemiripan khususnya dalam tiga hal. Pertama, masing-masing tes memerlukan hafalan dari para siswa. Kedua, ketiga tes tersebut, masing-masing menuntut jawaban singkat dari para siswa. Ketiga, masing-masing tes pada umumnya direncanakan untuk mengungkapkan pemikiran siswa tentang materi pembelajaran yang dikategorikan sebagai definisi atau batasan. Pengetahuan tentang fakta dan prinsip-prinsip pengetahuan.

Namun demikian, ketiga tes ini memiliki perbedaan, terutama jika ketiga tes tersebut dilihat dari format atau bentuk tesnya. Tes jawaban singkat atau bebas merupakan tes yang item-itemnya dibuat dalam bentuk pertanyaan. Tes melengkapi bentuk itemnya memiliki satu spasi atau ruang kosong dan harus dijawab siswa, dan tes asosiasi memiliki ruang kosong yang diisi dengan jawaban yang memiliki kaitan satu dengan lainnya.

Tes objektif jenis isian ini walaupun sudah dikelompokan sebagai tes objektif, namun sebenarnya masih berkaitan dengan tes esai, yaitu bahwa tes ini masih menuntut jawaban bebas dan singkat dari para siswa. Namun, karena tes tersebut hanya memberikan kesempatan kepada siswa menjawab dengan satu kata dan biasanya telah terikat dalam definisi, fakta, dan atau prinsip-prinsip pengetahuan maka tes tersebut disebut sebagai tes objektif jenis isian.

1.2 Rumusan masalah

1. Apa pengertian item tes jawaban singkat dan tes melengkapi?
2. Apa pengertian item tes asosiasi?

1.3 Manfaat

1. Mengetahui pengertian item tes jawaban singkat dan tes melengkapi.
2. Mengetahui pengertian item tes asosiasi.

BAB II
PEMBAHASAN [1]
[1] Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), hlm. 107.

2.1 Item tes jawaban singkat dan melengkapi

Mengontruksi item tes, baik jenis isian maupun jenis pilihan merupakan langkah penting yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang guru kelas. Tes isian adalah soal yang ditandai dengan adanya jawaban pada tempat kosong yang disediakan oleh guru atau evaluator untuk menuliskan jawabannya sesuai petunjuk. Guru perlu memiliki kemampuan mengontruksi agar hal-hal yang menurunkan kualitas isi dan tampilan tes, seperti kerusakan teknik pernyataan yang tidak relevan, dan substansi yang keliru dapat dikurangi seminimal mungkin. Agar mendapatkan tes yang memiliki susunan dan penampilan yang baik, para guru atau evaluator dapat mempertimbangkan beberapa petunjuk yang dapat dilihat seperti berikut :

1. Nyatakan petunjuk tes yang singkat dan jelas dengan cara memberikan garis bawah pada kata-kata kunci. Petunjuk itu penting agar siswa dengan cepat dapat memahami perintah tes dengan baik dan bisa melakukan pekerjaan evaluasi seperti yang diperintahkan.

2. Tulis pertanyaan dan atau pernyataan, dimana hanya ada satu kemungkinan jawaban benar.

3. Pilih Batasan atau terminologi dari suatu pengetahuan, dengan menghilangkan kata kuncinya. Kata kunci tersebut menjadi jawaban yang harus diisi oleh para siswa.

4. Tanyakan secara spesifik untuk jawaban yang diinginkan. Sebagai contoh, tanaman jagung termasuk tanaman … dan perlu diganti setelah berbuah sekali. Jawabannya adalah (semusim).

5. Gunakan hanya satu spasi atau ruang kosong, untuk setiap item tes melengkapi. Jika spasi lebih dari tiga maka item tes tersebut lebih baik dikontruksi dengan model tes jawaban bebas.

Contoh :
Kurang baik : yang termasuk warna primer yaitu…, …, dan …
Lebih baik : tiga macam warna apakah yang termasuk sebagai warna primer?

6. Tempatkan spasi atau ruang kosong pada akhir kalimat dari item tes melengkapi. Penempatan spasi tersebut dimaksudkan agar lebih membantu para siswa untuk menjawab dengan cepat.

7. Buat kunci jawaban yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pemberian penilaian. Kunci jawaban diperlukan untuk memudahkan dalam penilaian guru maupun pedoman jawaban yang diberikan pada siswa.

Kelemahan utama dari tes dengan jawaban singkat dan tes melengkapi untuk mengetes pengetahuan siswa tentang fakta adalah bahwa ada kemungkinan dalam isian jawaban tersebut ada dua atau lebih jawaban benar. Untuk mengatasi hal ini, para guru dapat memodifikasi bentuk tes dari jawaban singkat menjadi tes esai dengan pernyataan pengenalan (recognition questions).

2.2 Item tes asosiasi

Tes ini sering disebut dengan tes identifikasi, karena pada proses evaluasi para siswa diminta menghubungkan atau mengidentifikasi satu konsep dengan konsep lainnya. Disebut juga dengan pertanyaan mengingat (recalling questions). Item asosisasi memang memang memerlukan ingatan fakta dari para siswa dengan cara yang tepat, di samping itu tes asosiasi juga sangat cocok untuk mengungkap kemampuan siswa dalam menentukan konsep yang memiliki hubungan sebab dan akibat.

Peran guru dalam proses belajar dan kaitannya dengan fungsi evaluasi sangat penting. Mereka dapat membantu siswa dalam menghubungkan konsep satu dengan konsep lain dalam satu tujuan. Untuk mendapatkan item tes asosiasi yang baik, berikut beberapa petunjuk yang dapat digunakan:

1. Nyatakan pengerjaan tes secara singkat dan jelas sehingga semua peserta didik dapat memahami perintah tersebut.

2. Guru sebaiknya lebih dulu melakukan pengelompokan fakta yang homogen. Jangan sampai pada langkah ini guru mencampuradukan antara fungsi alat dengan komponen lain yang tidak terkait satu sama lain.

3. Berikan satu kolom untuk satu konsep dan kolom yang lain untuk jawaban yang dimaksud.

4. Kedua kolom sebaiknya memuat kata-kata atau frasa yang sama tujuannya.

5. Gunakan konsep-konsep yang dapat dihubungkan dengan konsep lain untuk tujuan sama.

6. Untuk tujuan pengembangan, jumlah kolom jawaban pada umumnya dibuat lebih banyak dibandingkan pada jumlah pernyataan.

Item tes asosiasi dapat digunakan untuk mengungkap kemampuan siswa tentang hasil dan penggunaan atau manfaatnya.

Pada kondisi tertentu, tes asosiasi dapat juga dipresentasikan dalam bentuk lain, yaitu dengan tes penampilan yang menggunakan metode demonstrasi.

Item tes asosiasi dapat mengetes kemampuan siswa dalam mengidentifikasi hubungan sebab akibat. Pada pendidikan kejuruan, di antara subjek atau objek yang dipelajari, banyak yang memiliki hungan sebab akibat. Sebagai contoh, intensistas perawatan mesin dan alat perlengkapannya dengan tingkat produktivitas mesin, ketaatan dalam menerapkan aturan keselamatan kerja dalam perusahaan dan hubungan negatif dengan tingkat kecelakaan kerja yang terjadi. Guru dalam hal ini dapat membantu para siswa untuk memahami konsep tersebut dan mengembangkannya ke arah pembentukan kemampuan siswa dengan ketaatan aturan dan disiplin yang tinggi.

Item tes asosiasi yang menunjukkan hubungan sebab akibat juga mempunyai kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah banyak siswa kurang memahami hubungan sebab akibat tersebut. Maka untuk mengatasinya, para guru dianjurkan menggunakan tes jenis lain yang lebih tepat, yaitu tes objektif dengan jenis pilihan yang hendak dibahas pada bab berikutnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Secara garis besar tes objektif dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tes objektif jenis isian (supply type) dan tes objektif jenis pilihan (selection type).

2. Tes objektif jenis isian pada prinsipnya mencakup tiga macam tes, yaitu a) tes jawaban bebas atau jawaban terbatas, b) tes melengkapi dan c) tes asosiasi.

3. Tes jawaban bebas, mengungkap jawaban siswa dengan cara bertanya, tes melengkapi mengungkap kemampuan siswa melalui memberikan spasi atau ruang kosong untuk diisi siswa dengan kata yang tepat, dan tes asosiasi mengungkap kemampuan para siswa dengan menyediakan spasi yang diisi dengan satu jawaban atau lebih, di mana jawaban tersebut masih memiliki keterkaitan dan bersifat homogen antara satu dengan lainnya.

4. Validitas tes objektif jenis isian dan pilihan pada umumnya tergantung pada kualitas isi dan tampilannya, sedangkan kualitas isi dan tampilan sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengonstruksi tes yang dimaksud.

5. Kelemahan utama dari tes jawaban singkat dan tes melengkapi untuk mengetes kemampuan siswa tentang fakta adalah ada kemungkinan dalam isian jawaban tersebut ada dua atau lebih jawaban benar.

6. Item tes jenis asosiasi sering disebut tes identifikasi karena pada proses evaluasi para siswa diminta menghubungkan atau mengidentifikasi satu konsep dengan konsep lainnya.

Pada kondisi tertentu, tes asosiasi dapat dipresentasikan dalam bentuk lain, yaitu tes penampilan dengan menggunakan metode demonstrsasi, di mana para siswa diminta menunjukkan kegunaan dan mengidentifikasi macam-macam alat yang diinginkan.

3.2 Saran

Kami sadar bahwa masih banyak kekurangan yang kami miliki, baik dari tulisan maupun bahasan yang kami sajikan, oleh karena itu mohon diberikan sarannya agar kami bisa membuat makalah lebih baik lagi, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Sukardi. 2015. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: PT Bumi Aksara