Tampilkan postingan dengan label 18. Tafsir Tarbawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 18. Tafsir Tarbawi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2024

Evaluasi Pendidikan, Reward, dan Punishment

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Dr. Muh. Ichsanuddin, M. Phil
Disusun Oleh Kelompok 10 Angkatan 5 :
1. Muhammad Miftahuddin (PAI).
2. Muhammad Faiz Tholib (PAI).
3. Willy Rahman (SBA).
4. Agis Sugiana (SBA).
5. Nanda Fajar Aprillianto (PAI).

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang Evaluasi pendidikan, reward dan punishment. Di era yang terus berkembang ini, pemahaman akan topik tersebut menjadi semakin penting dan relevan.

Tujuan dari penulisan makalah adalah untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah ilmu tarbawi yang berjudul “Evaluasi Pendidikan, Reward, dan Punishment”. Kami berharap makalah ini dapat memberikan wawasan baru dan bermanfaat bagi para pembaca, baik dalam konteks akademis maupun praktis.

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bekasi, 19 Agustus 2024

Penyusun Makalah
Kelompok 10

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang.
B. Rumusan Masalah.
C. Tujuan.
BAB II PEMBAHASAN.
A. EVALUASI PENDIDIKAN.
1. Pengertian evaluasi pendidikan.
2. Tujuan evaluasi pendidikan.
3. Fungsi evaluasi Pendidikan.
4. Ruang lingkup evaluasi Pendidikan.
5. Referensi Ayat Terkait Materi Evaluasi Pendidikan.
B. REWARD DAN PUNISHMENT.

1. Reward dalam Proses Pembelajaran.
2. Punishment dalam Proses Pembelajaran.
3. Implementasi Reward dan Punishment dalam Proses Pembelajaran.
4. Referensi Ayat Terkait Materi Reward.
5. Referensi Ayat Terkait Materi Punishment.
BAB III PENUTUP.
A. Kesimpulan.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan kemajuan suatu bangsa. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, evaluasi menjadi komponen yang sangat penting. Evaluasi pendidikan bukan hanya tentang penilaian hasil belajar siswa, tetapi juga mencakup penilaian terhadap seluruh komponen sistem pendidikan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Evaluasi Pendidikan?
2. Bagaimana pentingnya Reward dalam Proses Pembelajaran?
3. 
Bagaimana pentingnya Punishment dalam Proses Pembelajaran?
4. Bagaimana implementasi Reward dan Punishment dalam Proses Pembelajaran?

C. Tujuan

1. Mengetahui apa itu Evaluasi Pendidikan.
2. Mengetahui pentingnya Reward dalam Proses Pembelajaran.
3. 
Mengetahui pentingnya Punishment dalam Proses Pembelajaran.
4. Mengetahui implementasi Reward dan Punishment dalam Proses Pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. EVALUASI PENDIDIKAN

1. Pengertian evaluasi pendidikan

Pengertian evaluasi pendidikan apabila diartikan secara harfiah adalah penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.

Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, evaluasi pendidikan bisa diartikan tentang kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

Sehingga, apabila konsep evaluasi pendidikan diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar, bisa digambarkan ketika pengajar memberikan ulangan setiap berakhirnya materi, semester, dan kenaikan kelas. Setelah itu, data nilai akan diolah untuk menentukan apakah siswa A masuk ke kelompok sangat baik, baik, sedang, dan seterusnya. Hal ini yang bisa menjadi penentu kenaikan atau kelulusan siswa.

Bagaimana peran evaluasi pendidikan dalam proses pembelajaran? Evaluasi pendidikan bisa dijadikan ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menilai keberhasilan proses belajar mengajar oleh guru.

Sementara itu, dasar-dasar evaluasi pendidikan atau tolok ukur yang dijadikan landasan serta pijakan untuk menentukan kriteria penilaian peserta didik antara lain mencangkup dasar keagamaan, dasar filosofis, dasar sosiologis, dasar psikologis, dan dasar didaktis.

Evaluasi pendidikan harus berdasar pada prinsip-prinsip yang bisa menjelaskan dan menentukan apa yang harus dinilai dalam prosesnya, yaitu keberlanjutan, keterpaduan, keterlibatan siswa, koherensi, pedagogis, dan akuntabilitas.

2. Tujuan evaluasi pendidikan

Ada beberapa tujuan kenapa harus dilaksanakan evaluasi dalam pendidikan. Secara umum diantaranya:

-  Mendapatkan data yang membuktikan taraf kemajuan siswa.
-  Memungkinkan guru melakukan penilaian siswa.
-  Menilai metode pengajaran yang digunakan.

Sementara itu, tujuan khusus dari adanya evaluasi pendidikan adalah:

-  Merangsang kegiatan siswa.
-  Menemukan sebab kemajuan atau kegagalan dalam proses pembelajaran.
-  Memberikan bimbingan sesuai kebutuhan.
-  Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa untuk orang tua dan lembaga pendidikan.
-  Memperbaiki kualitas pendidikan.

Bagaimana evaluasi pendidikan dapat meningkatkan kualitas pendidikan? Setelah proses pencarian hasil evaluasi pendidikan, mulai dari pemberian ujian atau ulangan hingga penilaian akan terlihat kekurangan dari proses belajar mengajar. Sehingga, dari kekurangan yang terlihat usai proses evaluasi pendidikan dilakukan, bisa dicari solusi untuk memperbaikinya.

3. Fungsi evaluasi Pendidikan

Evaluasi pendidikan memiliki fungsi penting untuk sekolah, guru, dan siswa atau peserta didik. Berikut penjelasannya:

Sekolah : Fungsi evaluasi pendidikan untuk sekolah adalah untuk mendapatkan data yang nantinya bisa dilaporkan ke lembaga pendidikan. Selain itu, evaluasi pendidikan dapat digunakan untuk melihat kualitas guru dan murid di sekolah tersebut.

Guru : Fungsi evaluasi pendidikan untuk guru agar dapat mengetahui peserta didik yang sudah menguasai materi dan belum serta melihat apakah metode pembelajaran yang digunakan sudah tepat.

Siswa/peserta didik : Sementara itu, fungsi evaluasi pendidikan untuk siswa adalah untuk melihat kemampuan dan pencapaian mereka.

4. Ruang lingkup evaluasi pendidikan

Ruang lingkup evaluasi pendidikan berguna untuk melihat suatu sistem dalam kegiatan proses pembelajaran. Ruang lingkup evaluasi pendidikan ini bisa dilihat dari beberapa hal berikut ini:Ruang lingkup evaluasi program pembelajaran, meliputi: program tahunan, semester, modul, mingguan, dan harian.

Ruang lingkup evaluasi kegiatan pembelajaran, meliputi: kesesuaian antara proses belajar mengajar, kesiapan guru, kesiapan siswa, minat siswa, keaktifan siswa, peranan pembimbingan penyuluhan, komunikasi dua arah antar guru dan siswa, motivasi untuk siswa, tugas yang diberikan pada siswa, dan upaya menimbulkan dampak negatif dari kegiatan di sekolah.

Ruang lingkup evaluasi pembelajaran, meliputi: evaluasi mengenai tingkat penguasaan siswa dan evaluasi mengenai tingkat pencapaian siswa.[1]
[1] https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/evaluasi-pendidikan/, diakses tanggal 18 Agustus 2024, jam 21:00 WIB.

5. Referensi Ayat Terkait Materi Evaluasi Pendidikan

QS: Al-Baqarah ayat 155-157.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar".
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

Artinya: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk".

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menguji hamba-hambaNya, sebagaimana Dia berfirman: (Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (31)) (Surah Muhammad). Kadang-kadang dengan kebahagiaan, dan kadang-kadang dengan kesulitan, berupa ketakutan dan kelaparan, sebagaimana yang Allah SWT berfirman : (karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan) (Surat An-Nahl:112). Karena orang yang kelaparan dan takut, hal itu tampak pada diri mereka, dan itulah sebabnya Allah berfiman (pakaian kelaparan dan ketakutan) dan di sini Dia berfirman: (dengan sedikit ketakutan, kelaparan) yaitu sedikit dari itu, (kekurangan harta) yaitu kegilangan sebagian harta (dan jiwa) seperti kematian teman-teman, kerabat, dan orang-orang yang dicintai, (dan buah-buahan) yaitu kekurangan hasil bumi dan tanaman seperti biasanya, sebagaimana sebagian ulama’ salaf berkata: “sebagian pohon kurma yang hanya menghasilkan satu saja”

Semua ini, dan contoh-contoh tentang hal itu adalah cara Allah menguji hamba-hambaNya. Maka siapa saja yang bersabar, maka Dia akan memberinya pahala; dan siapa saja yang putus asa, maka Dia memberi hukuman atasnya. Karena itu Allah SWT berfirman: (Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar). Beberapa mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ketakutan di sini adalah takut kepada Allah, dan kelaparan adalah berpuasa di bulan Ramadan,

Kekurangan harta maksudnya adalah membayar zakat, dan jiwa adalah penyakit, serta buah-buahan adalah anak-anak. Dalam hal ini terdapat berbagai pendapat, dan hanya Allah yang lebih mengetahui.

Kemudian Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang bersabar dan disyukuri atas mereka, lalu Allah berfirman: ((yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (156)) yaitu, mereka menghibur diri dengan ucapan ini atas apa yang menimpa mereka, dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah milik Allah yang mengatur hambaNya sesuai kehendakNya, serta mereka mengetahui bahwa Dia tidak akan lengah pada sedikit pun hal pada hari akhirat, lalu hal itu mereka sadari bahwa mereka adalah hambaNya dan mereka akan kembali kepadaNya di akhirat. Oleh karena itu, Allah SWT memberitahu tentang apa yang Dia berikan kepada mereka atas hal itu dan berfirman: (Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka) yaitu pujian dan rahmat Allah atas mereka.[2]
[2] https://tafsirweb.com/624-surat-al-baqarah-ayat-155.html

QS: Al-Ankabut ayat 2-3


أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

Artinya: "Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta".

📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Ayat 2). { أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ } "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

Janganlah seseorang mengira bahwa dia akan bersih dari segala rasa sakit apapun, namun orang-orang yang merasakan sakit berbeda-beda dalam akal mereka. Yang paling bijak dari mereka adalah orang yang menjual rasa sakit terus menerus yang hebat untuk rasa sakit yang sebentar-sebentar. Dan seburuk-buruknya mereka adalah orang yang menjual rasa sakit yang terputus-putus dan ringan dengan rasa sakit yang hebat dan terus menerus.

Ayat 3). { وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ } "Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." Qotadah berkata: agar diketahui mana yang benar dari yang dusta, dan yang taat dari yang membangkang, dan sebagaimana telah dikatakan: sesungguhnya seorang mukmin akan ditimpa dengan fitnah sebagaimana emas dileburkan dengan api, dan telah dikatakan: sesungguhnya permisalan fitnah itu seperti dirham yang palsu orang buta akan mengambilnya dan orang yang melihat hanya melihatnya saja.[3]
[3] https://tafsirweb.com/7228-surat-al-ankabut-ayat-2.html

QS: An-Naml ayat 27.
۞ قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

Artinya: "Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta".

📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Kepada burung Hud-hud.

Disebutkan dalam Tafsir Al Baghawi dan Al Jalaalain, bahwa burung Hud-hud menunjukkan tempat air kepada mereka, lalu mereka menggali sumur-sumur tersebut, kemudian bala tentaranya meminum airnya hingga hilang dahaganya, lalu berwudhu’ dan shalat, kemudian Nabi Sulaiman menuliskan surat, yang isinya: Dari hamba Allah Sulaiman bin Dawud kepada Balqis ratu Saba, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, salam atas orang yang mengikuti petunjuk, amma ba’du: “Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Ibnu Juraij berkata, “Sulaiman tidak menuliskan lebih dari apa yang diceritakan Allah dalam kitab-Nya.” Qatadah berkata, “Demikianlah para nabi, menulis beberapa kalimat secara garis besar; tidak panjang dan tidak banyak.”[4]
[4] https://tafsirweb.com/6891-surat-an-naml-ayat-27.html

B. REWARD DAN PUNISHMENT

Reward dan punishment dikembangkan dari suatu konsep manajemen sumber daya manusia, terutama ditujukan dalam memotivasi seseorang melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasinya. Kedua metode ini sudah cukup lama dikenal dalam dunia pendidikan. Tidak hanya dalam dunia pendidikan, bahkan dalam dunia kerjapun kedua metode ini kerap kali digunakan.[5]
[5] Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan (Bandung:
Penerbit Remaja Rosdakarya, 2000), 47, diakses tanggal 19 Agustus 2024, jam 20:00 WIB.

1. Reward dalam Proses Pembelajaran

Secara bahasa reward berasal dari bahasa Inggris yang diartikan sebagai ganjaran, hadiah, upah dan penghargaan.[6] Reward adalah situasi atau pernyataan lisan yang bisa menghasilkan kepuasan atau menambah kemungkinan suatu perbuatan yang dikerjakan.[7] Dalam bahasa Arab padanan kata reward adalah targhib. Targhib adalah suatu motivasi untuk mencapai tujuan keberhasilan mencapai tujuan yang memuaskan motivasinya dianggap sebagai ganjaran atau balasan yang menimbulkan perasaan senang.[8] Al-Nahlawi mendefinisikan targhib sebagai janji yang disertai dengan bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan, kenikmatan, namun penundaan itu bersifat pasti baik dan murni, serta dilakukan melalui amal shaleh atau pencegahan diri dari kelezatan yang membahayakan (pekerjaan buruk).[9] Targhib juga diartikan, tanda jasa, penghargaan, hadiah, imbalan dan ganjaran.[10]
[6] John, M. Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris–Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2003), 135.
[7] C.P. Caplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono (Jakarta: Rajawali, 1989), 436.
[8] Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Al-Quran, Terj. M. Zaka Al-Farisi (Bandung:
Pustaka Setia, 2005), 265.
[9] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam Dirumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj.
Shihabuddin (Jakarta: Gema Insane Press, 1995), 295.
[10] Peter Salim, Advenced English Indonesia Dictionary (Jakarta: Modern English Press, 1991), 719.

Ngalim Purwanto mendefinisikan bahwa reward (ganjaran) ialah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan.[11] Sedangkan menurut Roestiyah N.K. reward (penghargaan) merupakan perbuatan yang bernilai positif dengan memberi dorongan pada anak (peserta didik), sehingga anak bersedia untuk berbuat sesuatu.[12]
[11] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 182. 
[12] Roestiyah N.K., Didaktik/Metodik (Jakarta: Bina Aksara, 1986), 62.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa reward (ganjaran) adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa karena mendapat hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji. Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan yang mudah dilaksanakan dan sangat menyenangkan para siswa, untuk itu reward (ganjaran) dalam suatu proses pendidikan sangat dibutuhkan keberadaannya demi meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.

Maksud dari pendidik memberi reward kepada siswa adalah supaya siswa menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau mempertinggi prestasi yang telah dicapainya, dengan kata lain siswa menjadi lebih keras kemauannya untuk belajar lebih baik.[13]
[13] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan..., 182. 

Jenis-jenis Reward

Reward adalah penilaian yang bersifat positif terhadap gaya dan tingkah belajar siswa. Reward yang diberikan kepada siswa bentuknya bermacam-macam. Secara garis besar reward dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu pujian, penghormatan, hadiah, dan tanda penghargaan.[14]
[14] Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1999), 46-47.

Wujud dari reward (penghargaan) dapat berupa:[15]
[15] Roestiyah N.K., Didaktik/Metodik..., 62.

a). Kata-kata pendek, tetapi penuh semangat.

Pujian adalah Jenis reward yang paling populer dan mudah dilakukan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti baik, bagus, bagus sekali, luar biasa dalam lain sebagainya, tetapi juga dapat berupa kata-kata yang bersifat sugerti seperti “lain kali akan jauh lebih baik lagi", dan sebagainya.

Memberikan pujian kepada siswa untuk menyenangkan perasaannya karena siswa merasa senang mendapat perhatian dari guru. Dengan perhatian tersebut, siswa merasa diawasi dan tidak dapat berbuat menurut kehendak hatinya. Pujian dapat berfungsi untuk mengarahkan kegiatan siswa pada hal-hal yang menunjang tujuan pengajaran.

Pujian harus disesuaikan dengan umur anak dan janganlah berjanji sesuatu kepada murid.

b). Tanda-tanda

Pemberian reward dengan tanda-tanda, dapat berupa gerakan tubuh. Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, adalah sejumlah gerakan fisik yang memberikan umpan balik dari siswa.

Gerakan tubuh merupakan penguatan yang bersifat positif yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa sehingga proses belajar mengajar akan menyenangkan, Karena adanya interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Gerakan tubuh dapat meluruskan prilaku siswa yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Contohnya, guru akan diam ketika akan memberhentikan siswa yang sedang
ribut berbicara, sikap diam tersebut pertanda teguran kepada siswa yang sedang ribut dalam kelas.

Berdasarkan uraian diatas peneliti memahami bahwa pemberian reward berupa gerakan tubuh seperti tepuk tangan dapat membangkitkan semangat belajar, disamping itu siswa merasa mendapatkan perhatian dari gurunya.

c). Benda-benda

Memberikan hadiah secara langsung: Hadiah dalam bentuk fisik ini diberikan kepada peserta didik secara langsung oleh tenaga pendidik tanpa menghitung token atau poin yang diperoleh siswa. Hadiah ini bisa berbentuk mainan, peralatan sekolah atau yang lainnya. pemberian hadiah hanya kadang-kadang saja dan jangan menjadi kebiasaan.

d). Angka-angka (nilai) yang dilaksanakan secara pedagogis.

Pemberian angka dimaksudkan sebagai simbol atau nilai dari hasil belajar siswa. Angka yang diberikan kepada siswa biasanya bervariasi sesuai dengan ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru. Angkat merupakan alat motivasi yang dianggap cukup memberikan rangsangan kepada siswa untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dengan pemberian angka atau nilai yang baik siswa akan termotivasi untuk lebiah giat dalam belajar. Akan tetapi guru harus berhati-hati dalam memberikan angka, perlu diperhatikan dan
dipertimbangkan terlebih dahulu. Apakah betul hasil yang dicapai siswa tersebut berdasarkan atas usahanya sendiri.

Dari beberapa macam reward tersebut di atas, dalam penerapannya seorang guru dapat memilih bentuk macam-macam reward yang cocok dengan siswa dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi, baik situasi dan kondisi siswa atau situasi dan kondisi keuangan pendidik, bila hal itu menyangkut masalah keuangan. Dalam memberikan reward seorang guru hendaknya dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan reward.

2. Punishment dalam Proses Pembelajaran

Punishment adalah bentuk konsekuensi atas perilaku siswa yang tidak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Hukuman dapat membantu membentuk perilaku siswa agar lebih baik dan mengurangi perilaku negatif. Namun, hukuman juga dapat memiliki dampak negatif jika tidak diberikan dengan tepat.

Punishment tidak boleh diberikan dengan cara yang merendahkan atau merugikan siswa. Punishment  harus diberikan dengan cara yang adil dan seimbang. Bentuk hukuman yang paling umum adalah hukuman verbal, seperti teguran atau peringatan, atau hukuman fisik, seperti menghukum siswa dengan duduk di pojok kelas. Namun, hukuman fisik harus dihindari karena dapat menyebabkan trauma emosional pada siswa.

Hukuman menurut bahasa berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata punishment yang berarti Law (hukuman) atau siksaan”.[16] Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hukuman memiliki arti peraturan resmi yang menjadi pengatur.[17]
[16] John M. Echole dan Hasan Shadily, Kamus Inggris..., 456.
[17] Ananda S. dan S. Priyanto, Kamus Lengkap..., 196.

Menurut M. Ngalim Purwanto, punishment (hukuman) adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan.[18] Adapun menurut Roestiyah, punishment (hukuman) adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan dari orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk pelanggaran dan kejahatan, yang bermaksud untuk memperbaiki kesalahan anak dan bukan untuk mendendam.[19] Menurut Malik Fadjar, punishment atau hukuman adalah usaha edukatif untuk memperbaiki dan mengarahkan siswa ke arah yang benar, bukan praktik hukum dan siksaan yang memasung kreatifitas.[20] Dengan adanya punishment (hukuman) itu diharapkan supaya siswa dapat menyadari kesalahan yang diperbuatnya, sehingga siswa jadi berhati-hati dalam mengambil tindakan.
[18] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan..., 186.
[19] Ny. Roestiyah N.K., Didaktik/Metodik.., 63.
[20] Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), 202.

Dari beberapa pendapat di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan, bahwa punishment (hukuman) adalah suatu perbuatan yang kurang menyenangkan, yang berupa penderitaan yang diberikan kepada siswa secara sadar dan sengaja, sehingga menimbulkan kesadaran dalam hati siswa untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Jenis-jenis Punishment

Sebelum diberikan punishment kepada siswa, ada baiknya dilakukan tahapan pendekatan sebagai berikut :

Tahap 1 : Pemberian teguran

Siswa yang melakukan kesalahan dan melanggar kesepakatan peraturan dalam pembelajaran seperti bercerita dengan temannya, ribut pada saat temannya berdiskusi serta menggangu ketertiban kelas, diberikan teguran dari guru kelas.

Tahap 2 : Pemberian peringatan

Apabila siswa yang melakukan kesalahan dan melanggar kesepakatan peraturan dalam pembelajaran serta menggangu ketertiban kelas, setelah diberi teguran dan masih melakukan kesalahan yang sama akan diberikan punishment sesuai dengan jenis dan tingkatannya.

Ada 4 jenis hukuman yang bisa diterapkan jika siswa melakukan pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan, yakni:

a. Hukuman fisik

Di zaman ini, hukuman fisik mulai jarang dilakukan. Kecuali saat mata pelajaran olahraga. Hukuman fisik termasuk ke dalam jenis hukuman yang baik, karena bisa memunculkan rasa jera kepada murid.

b. Menulis kata maupun kalimat

Biasanya jenis hukuman ini diberikan ketika siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Contoh nyata dari hukuman jenis ini adalah meringkas beberapa halaman dalam buku. Atau bisa juga berupa pemberian tugas tambahan, yaitu siswa yang diberi tugas dan tidak mengerjakan tugas atau tidak dikumpul tepat waktu akan diberi punishment berupa tambahan tugas.

c. Ekspresi dan gestur tubuh

Tenaga pendidik dapat memberikan semacam peringatan ataupun ancaman melalui ekspresi dan gestur tubuh. Contohnya memberikan pandangan mata yang melotot karena peserta didik melanggar peraturan.

d. Hukuman yang membuat resah

Tujuan dari jenis hukuman ini untuk memberikan rasa gelisah kepada siswa, seperti menyuruh berdiri di depan kelas, menyuruh untuk keluar kelas, serta berdiri atau duduk disamping tenaga pendidik, Pemberian alpa, atau Pemberian nilai tidak mencapai KKM.

Dari macam-macam punishment yang telah disebutkan di atas dimaksudkan untuk memperbaiki perbuatan siswa yang salah menjadi baik. Namun, punishment badan yang membahayakan bagi siswa tidak sepantasnya diberikan dalam dunia pendidikan, karena punishment semacam ini tidak mendorong siswa untuk berbuat sesuai dengan kesadarannya. Sehingga siswa trauma maka siswa tidak akan mau untuk belajar bahkan akan minta berhenti dari sekolah.

Punishment tidak hanya sebatas menjatuhkan hukuman pada siswa karena suatu kesalahan atau pelanggaran, akan tetapi untuk meningkatkan kedisiplinan siswa, memberikan motivasi siswa dan perbaikan prilaku yang menyimpang.

3. Implementasi Reward dan Punishment dalam Proses Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, keseimbangan antara reward dan punishment sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Terlalu banyak memberikan hukuman dapat membuat siswa kehilangan motivasi dan minat dalam belajar, sementara terlalu banyak memberikan penghargaan dapat membuat siswa menjadi terlalu tergantung pada reward dan tidak memperhatikan proses belajar itu sendiri.

Oleh karena itu, penting untuk menciptakan keseimbangan antara penghargaan dan hukuman. Memberikan reward secara proporsional terhadap prestasi dan usaha siswa dan memberikan hukuman secara adil dan seimbang terhadap perilaku negatif siswa dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan.

Setelah mengetahui pentingnya reward dan punishment dalam proses pembelajaran, bagaimana kita dapat mengimplementasikannya dalam kelas? Berikut adalah beberapa tips yang dapat digunakan:

a. Buat Aturan yang Jelas

Buat aturan yang jelas bagi siswa dalam kelas. Aturan harus mencakup perilaku yang diharapkan dan konsekuensi yang akan diberikan jika aturan dilanggar. Dalam membuat aturan, pilihlah kata-kata yang positif dan hindari kata-kata yang berkonotasi negatif.

b. Berikan Reward secara Proporsional

Berikan reward secara proporsional terhadap prestasi dan usaha siswa. Jangan hanya memberikan reward untuk nilai yang tinggi saja, tetapi juga berikan reward untuk siswa yang berusaha keras dan membuat kemajuan, meskipun nilai mereka belum tinggi.

c. Berikan Punishment secara Adil dan Seimbang

Berikan punishment secara adil dan seimbang terhadap perilaku negatif siswa. Hindari memberikan punishment yang merendahkan atau merugikan siswa. Hukuman verbal seperti teguran atau peringatan, atau hukuman fisik seperti menghukum siswa dengan duduk di pojok kelas, dapat digunakan sebagai bentuk hukuman.

d. Berikan Umpan Balik yang Konstruktif

Berikan umpan balik yang konstruktif kepada siswa. Umpan balik dapat membantu siswa memperbaiki diri dan meningkatkan prestasi. Berikan umpan balik secara spesifik dan hindari umpan balik yang bersifat umum atau menghakimi.

e. Libatkan Siswa dalam Proses Pembelajaran

Libatkan siswa dalam proses pembelajaran. Berikan siswa kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas dan memberikan masukan terhadap aturan yang ada di kelas. Hal ini dapat memberikan rasa memiliki pada siswa dan meningkatkan motivasi belajar.

Reward dan punishment adalah dua aspek penting dalam proses pembelajaran. Penghargaan dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rasa percaya diri pada siswa, sementara hukuman dapat membentuk perilaku siswa agar lebih baik dan mengurangi perilaku negatif. Dalam mengimplementasikan reward dan punishment dalam kelas, penting untuk menciptakan aturan yang jelas, memberikan penghargaan secara proporsional, memberikan hukuman secara adil dan seimbang, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang efektif, diharapkan siswa dapat mencapai potensi terbaik mereka.

4. Referensi Ayat Terkait Reward 

QS: Al-An’am ayat 84,132,160.

وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُۥدَ وَسُلَيْمَٰنَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: "Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik". (Ayat 84)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan kami menganugerahi Ibrahim karunia dengan memberikan kepadanya putra yang bernama ishaq dan cucu bernama ya’qub, dan sungguh kami telah memberikan taufik kepada mereka berdua untuk meniti jalan yang lurus. Demikian juga sebelumnya kami telah memberikan taufik menuju kebenaran kepada Nuh, (sebelum Ibrahim, ishaq, dan ya’qub). Demikian juga kami telah memberikan taufik menuju kebenaran bagi keturunan Nuh, yaitu dawud, sulaiman, Ayyub, yusuf, muusa, dan harun . Sebagaimana kami telah memberikan balasan baik bagi para nabi itu atas perbuatan-perbuatan baik mereka, kami pun akan memberikan balasan baik pula bagi setiap orang yang berbuat baik.[21]
[21] https://tafsirweb.com/2208-surat-al-anam-ayat-84.html

وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا۟ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: "Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan". (Ayat 133)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan tuhanmu (wahai rasul), yang memerintahkan manusia untuk beribadah kepadaNYa, Dia itu satu-satunya yang maha kaya, dan seluruh makhlukNya butuh kepadaNya. Dan Dia mempunyai rahmat yang sangat luas. Jika sekiranya Dia menghendaki, pastilah Dia akan membinasakan kalian dan menciptakan kaum yang lain dari kalian yang akan menggantikan kalian setelah kemusnahan kalian dan mengerjakan amal ketaatan kepada Allah , sebagaimana Dia dahulu menciptakan kalian dari keturunan kaum yang lain yang hidup sebelum kalian.[22]
[22] https://tafsirweb.com/2257-surat-al-anam-ayat-133.html

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)". (Ayat 160)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Barang siapa bertemu dengan tuhannya pada hari kiamat dengan amal kebaikan dari amal-amal yang shalih, maka baginya sepuluh kali lipat (pahala) dari kebaikannya itu. Dan barangsiapa bertemu dengan tuhannya dengan dosa, maka dia tidak dikenai hukuman, melainkan dengan yang sebanding dengan kesalahannya. Dan mereka tidaklah terzhalimi meski sebesar dzarrah sekalipun.[23]
[23] https://tafsirweb.com/2284-surat-al-anam-ayat-160.html

QS: Al-Kahfi ayat 88

وَأَمَّا مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَلَهُۥ جَزَآءً ٱلْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُۥ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Artinya: "Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami".

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan,” maksudnya dia mendapatkan surge dan kondisi yang baik di sisi Allah sebagai balasan pada Hari Kiamat “dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami,” maksudnya Kami akan mencurahkan kebaikan kepadanya, berlembut-lembut dengannya dalam ucapan dan kami memudahkan muamalah baginya. Ini menunjukkan statusnya dari kalangan raja yang shalih [dan] wali yang adil lagi berilmu, yang mana dia sejalan dengan keridhaan Allah dalam menyikapi setiap orang sesuai dengan kondisinya.[24]
[24] https://tafsirweb.com/4914-surat-al-kahfi-ayat-88.html

5. Referensi Ayat Terkait Punishment

QS: Al-An’am ayat 6, 42, 88, 120, dan 135.

وَجَعَلْنَا ٱلْأَنْهَٰرَ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَٰهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنشَأْنَا مِنۢ بَعْدِهِمْ قَرْنًا ءَاخَرِينَ

Artinya: "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain". (Ayat 6)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Apakah tidak mengetahui orang-orang yang mengingkari keesaan Allah dan keberhakan Nya untuk diibadahi dan juga mendustakan RasulNya, Muhammad, sesuatu yang telah menimpa umat-umat yang telah mendustakan (para Rasul) sebelumnya, berupa kebinasaan dan kehancuran. Padahal sebelumnya kami telah memberikan kekuasaan besar di muka bumi dengan kekuasaan yang tidak diberikan kepada kalian wahai orang-orang kafir, dan kami melimpahkan kenikmatan bagi mereka dengan menurunkan banyak hujan dan mengalirnya aliran sungai-sungai dari bawah tempat tinggal mereka. Sebagai istidroj dan penangguhan siksa. Maka mereka mengingkari kenikmatan-kenikmatan itu dan mendustakan para rasul. Akibatnya, kami binasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka dan kami adakan generasi-generasi manusia berikutnya yang mengggantikan mereka untuk mengurus pengelolaan bumi?[25]
[25] https://tafsirweb.com/2130-surat-al-anam-ayat-6.html

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri". (Ayat 42)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan sesungguhnya kami (wahai Rasul) telah mengutus rasul-rasul kepada golongan-golongan manusia sebelum engkau, rosul-rosul yang mengajak mereka kepada Allah. Namun umat-umat itu mendustakan para rasul itu, maka kami pun menimpakan cobaan kepada mereka terhadap harta benda mereka dengan kemelaratan yang sangat berat dan kesulitan hidup yang mencekik. kami juga menimpakan cobaan pada mereka terhadap fisik-fisik mereka dengan berbagai macam wabah dan rasa sakit, dengan harapan agar mereka mau menghinakan diri kepada Tuhan mereka dan tunduk patuh kepadaNya saja dalam beribadah.[26]
[26] https://tafsirweb.com/2166-surat-al-anam-ayat-42.html

ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Artinya: "Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". (Ayat 88)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Hidayah tersebut adalah taufik Allah yang telah memberikan taufik untuk itu kepada orang yang dikehendakiNya diantara para hambaNya. Sekiranya para nabi itu melakukan perbuatan syirik kepada Allah, (sekedar sebagai pengandaian dan perumpamaan saja) pastilah akan lenyap dari mereka amal-amal kebaikan mereka, sebab sesungguhnya Allah tidak menerima amalan yang di sertai dengan kesyirikan.[27]
[27] https://tafsirweb.com/2212-surat-al-anam-ayat-88.html

وَذَرُوا۟ ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا۟ يَقْتَرِفُونَ

Artinya: "Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan". (Ayat 120)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan tinggalkanlah oleh kalian (Wahai sekalain manusia) seluruh jenis maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat maksiat, akan dihukum oleh tuhan mereka akibat apa yang mereka lakukan dari perbuatan-perbuatan buruk tersebut.[28]
[28] https://tafsirweb.com/2244-surat-al-anam-ayat-120.html

قُلْ يَٰقَوْمِ ٱعْمَلُوا۟ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّى عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِ ۗ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: "Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan". (Ayat 135)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Katakanlah (wahai rasul), “wahai kaumku, berbuatlah sesuka hati kalian, sesungguhnya aku akan berbuat sesuai dengan ajaranku yang telah di syariatkan kepadaku oleh tuhanku . Kelak kalian akan mengetahui, (ketika siksaan menimpa kalian) siapakah (diantara kita) yang akan memperoleh akibat yang baik?. Sesungguhnya tiidak akan menggapai ridha Allah dan surgaNya orang yang berbuat melampaui batas dan melakukan tindakan aniaya dengan menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lain.”[29]
[29] https://tafsirweb.com/2259-surat-al-anam-ayat-135.html

QS: Al-Isra ayat 7

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا

Artinya: "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai".

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Jika kalian baik dalam perbuatan-perbuatan dan uacapan-ucapan kalian, Sesungguhnya kalian berarti telah berbuat baik terhadap diri kalian sendiri. Sebab pahalanya kembali kepada kalian. Bila kalain bertindak buruk, maka hukumannya(juga) berbalik mengenai kalian sendiri. Jika nanti telah tiba ketetapan terjadinya kerusakan kedua (yang kalian perbuat), maka Kami akan menjadikan musuh kalian berkuasa atas kalain kembali, untuk menghinakan dan mengalahkan kalian, sehingga tampaklah bekas-bekas penghinaan dan penistaan pada wajah-wajah kalian dan lalu merangsek masuk menghadapi kalain ke dalam baitul maqdis untuk menghancurkannya sebagaimana mereka dahulu pernah menghancurkannya, dan kemudian meluluhlantahkan semua yang mereka miliki sehabis-habisnya secara total.[30]
[30] https://tafsirweb.com/4611-surat-al-isra-ayat-7.html

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Evaluasi pendidikan adalah proses penilaian terhadap komponen-komponen pendidikan untuk mengukur efektivitas dan kualitas pembelajaran. Tujuannya antara lain untuk menilai kemajuan siswa, mengevaluasi metode pengajaran, dan meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan Penerapan reward dan punishment yang tepat dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif, memotivasi siswa, dan membantu mereka mengembangkan disiplin diri. Namun, penting untuk selalu mempertimbangkan dampak jangka panjang dan memastikan bahwa metode yang digunakan mendukung perkembangan akademis dan emosional siswa.


DAFTAR PUSTAKA

https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/evaluasi-pendidikan/

https://guruinovatif.id/@redaksiguruinovatif/penerapan-reward-dan-punishment-dalam-pendidikan

Raihan, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, "Penerapan Reward dan Punishment dalam Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Terhadap Siswa SMA di Kabupaten Pidie", Journal of Islamic Education Vol. 2, No. 1, 2019, 115-130

Waqiah, Muhammad Zuhri Dj., Kementerian Agama Bone, IAIN Bone, "Penerapan Reward Dan Punishment Dalam Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Di SMKN 4 BONE", Jurnal Al-Qayyimah, Vol. 4 Nomor 1 Juni Tahun 2021

John, M. Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris–Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2003), 135.

C.P. Caplin, Kamus Lengkap Psikologi, Terj. Kartini Kartono (Jakarta: Rajawali, 1989), 436.

Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Al-Quran, Terj. M. Zaka Al-Farisi (Bandung:
Pustaka Setia, 2005), 265.

Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam Dirumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj.
Shihabuddin (Jakarta: Gema Insane Press, 1995), 295.

Peter Salim, Advenced English Indonesia Dictionary (Jakarta: Modern English Press, 1991), 719.

M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 182. 

Roestiyah N.K., Didaktik/Metodik (Jakarta: Bina Aksara, 1986), 62.

https://tafsirweb.com/624-surat-al-baqarah-ayat-155.html

https://tafsirweb.com/7228-surat-al-ankabut-ayat-2.html

https://tafsirweb.com/6891-surat-an-naml-ayat-27.html

https://tafsirweb.com/624-surat-al-baqarah-ayat-155.html

https://tafsirweb.com/2208-surat-al-anam-ayat-84.html

https://tafsirweb.com/2257-surat-al-anam-ayat-133.html

https://tafsirweb.com/2284-surat-al-anam-ayat-160.html

https://tafsirweb.com/4914-surat-al-kahfi-ayat-88.html

https://tafsirweb.com/2130-surat-al-anam-ayat-6.html

https://tafsirweb.com/2166-surat-al-anam-ayat-42.html

https://tafsirweb.com/2212-surat-al-anam-ayat-88.html

https://tafsirweb.com/2244-surat-al-anam-ayat-120.html

https://tafsirweb.com/2259-surat-al-anam-ayat-135.html

https://tafsirweb.com/4611-surat-al-isra-ayat-7.html

Jumat, 09 Agustus 2024

Materi Pendidikan Islam

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Ust. Muh. Ihsanuddin, M. Phil
Disusun Oleh Kelompok 9 Angkatan 5 :
1. Efni Redho (PAI).
2. Nurhidayati Putri (PAI).
3. Lutfi Andaristin (PAI).
4. Neng Hindi Hadiyani (SBA).
5. Nurul Haslinda (PAI).

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas segala limpahan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan pertolongan dan kemudahan dari-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Shalawat dan salam semoga tetap Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqamah mengikutinya hingga akhir zaman.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Pendidikan Islam (Tauhid, Akhlaq, Ibadah, Sosial, Ekonomi, Politik, Keluarga, Sains dan Teknologi)”. Dengan kerja sama yang baik dari semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan terimakasih banyak.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak sekali kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Oleh sebab itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi membantu perbaikan dalam pembuatan makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang luas serta dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca dalam upaya merencanakan sistem pendidikan yang lebih baik kedepannya.

Singkawang, 08 Agustus 2024

Penyusun Makalah
Kelompok 9

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.
DAFTAR ISI.
BAB I PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang.
B. Rumusan Masalah.
C. Tujuan.
BAB II PEMBAHASAN.
A. Pengertian Materi Pendidikan Islam.
B. Cakupan Materi Pendidikan Islam.
C. Reverensi Ayat Terkait Materi Pendidikan Islam.
BAB III KESIMPULAN.
A. Kesimpulan.
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Materi pendidikan islam adalah ilmu yang didasarkan pada ajaran-ajaran islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Materi pendidikan islam adalah ilmu yang didasarkan pada Al-qur’an dan Assunnah serta ijma para ulama.

Tujuan materi pendidikan islam adalah untuk menjadikan manusia yang berakhlak mulia dan menjadikan hamba yang mengesakan Allah serta taat hanya kepada-Nya. Dengan adanya materi pendidikan islam diharapkan bisa merubah perilaku, berbuat luhur dan bisa hidup sesuai dengan Al-qur’an dan Assunnah yang selaras dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab II pasal 3 yang berbunyi : “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dengan demikian, pentingnya pendidikan agama islam yang seharusnya mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah dan pihak lembaga pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah :

1. Bagaimana pengertian materi pendidikan islam?
2. Bagaiamana cakupan mengenai materi pendidikan islam?
3. Apa saja referensi ayat terkait materi pendidikan islam?

C. Tujuan

1. Mengetahui pengertian materi pendidikan islam.
2. Mengetahui cakupan materi pendidikan islam.
3. Mengetahui referensi ayat yang terkait pendidikan islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Materi Pendidikan Islam

Materi pendidikan merupakan bahan yang akan disajikan kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Materi pelajaran tersebut telah ditetapkan dalam kurikulum yang disusun bersama oleh pengambil kebijakan satuan pendidikan dan disesuaikan dengan kurikulum nasional dan kearifan lokal. Dengan demikian, materi pendidikan ialah semua bahan pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik dalam suatu sistem institusional pendidikan.[1]
[1] Hamdani Ihsan dkk., Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h. 133.

Materi pendidikan merupakan substansi ilmu pengetahuan yang ditransmisikan kepada peserta didik agar diketahui, dikembangkan, dan diamalkan. Dalam pendidikan Islam, materi pelajaran adalah sumber normative Islam, yaitu Al-Qur’an dan al-Sunnah. Secara filosofis, rumusan materi pendidikan Islam adalah seperangkat bahan yang dijadikan sajian dalam upaya mengembangkan kepribadian yang selaras dengan Al-Qur’an, yaitu manusia yang bertakwa.[2]
[2] Moh. Chudlori Umar, http://fahdamjad.Files.wordpres.com/pendidikan-islam-kontemporer.pdf

Dimana rumusan materi pelajaran tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yaitu agar tercapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian peserta didik secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional; perasaan dan indra.[3]
[3] Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam. (Cet. 1; Jakarta: Kencana, 2008), h. 119.

Karena itu, materi pendidikan Islam hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif serta mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.

Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan materi pendidikan Islam adalah sejumlah organisasi bidang berupa isi dari segala konsep pendidikan Islam yang akan disampaikan kepada peserta didik di lembaga pendidikan.[4]
[4] https://tafsirweb.com/7373-surat-ar-rum-ayat-9.html

B. Cakupan Materi Pendidikan Islam

Materi pendidikan islam dilingkungan dapat disesuaikan dengan landasan dasar, fungsi, dan tujuan yang termaktub dalam ilmu pendidikan teoritis. Dalam hal ini akan terfokus membahas materi pendidikan islam, yaitu:

1. Tauhid

Materi yang berkenaan dengan tauhid ini bisa dilihat dalam nasihat Luqman Al-Hakim dalam QS. Luqman 31:13.

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Ayat ini memiliki kandungan makna bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan jika di dalam hati masih terdapat suatu keikhlasan yang tidak tulus dalam menyembah Allah, maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan syirik.

2. Akhlak

Materi kedua yang terkandung di dalam kisah Luqman al-Hakim adalah materi akhlak. Materi yang dimaksudkan disini adalah segala nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut yang berhubungan erat dengan akhlak yang mencakup ajaran akhlak yang diberikan Tuhan, juga akhlak yang disampaikan Luqman al-Hakim. Akhlak adalah sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia.

Dari kisah Luqman Al-Hakim, terdapat beberapa bentuk akhlak yang dijadikan kerangka dasar pembentukan sikap, baik secara Lahir maupun batin. Bentuk akhlak atau sasaran akhlak itu adalah Akhlak terhadap Allah. akhlak terhadap orang tua, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap lingkungan.

3. Ibadah

Materi ibadah ini dapat dilihat dari nasehar Luqman sebagaimana tercantum dalam QS. Luqman 31:17.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Artinya:

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

Pengertian etimologis ibadah adalah pengabdian. Sedangkan terminologis ibadah yaitu pengabdian yang dimaksud oleh agama Islam yaitu berserah diri kepada kehendak Allah dan ketentuan Allah swt. untuk memperoleh ridha-Nya (mardhatillah).

4. Mu’amalah

Pendidikan Mu’amalah yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada anaknya paling tidak memiliki esensi tujuan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Tujuan pendidikan mu’amalah itu adalah membentuk kehidupan yang baik, membina kepribadian, dan mengetahui hak dan kewajiban bermasyarakat.

Dalam ranah pendidikan formal di Indonesia, terdapat sistem pendidikan yang dikotomis sehingga materi pelajaran berbeda bobotnya antara satuan pendidikan Islam dan satuan pendidikan umum. Materi pendidikan agama Islam pada sekolah umum telah diatur dalam Silabus PAI, melalui defenisi pendidikan agama Islam yang diberikan Puskur Balitbang Depdiknas RI, yaitu rumpun mata pelajaran yang mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan takwa kepada Tuhan yang maha esa, serta berakhlak mulia/budi pekerti luhur dan menghormati penganut agama lain. Ruang lingkup materi pendidikan agama Islam, tardiri atas aspek: al-Qur’an, keimanan/aqidah, akhlak mulia, fiqhi ibadah/muamalah, dan tarikh Islam. Namun demikian, materi-materi keislaman yang disajikan di sekolah umum masih bersifat teoretis-normatif, dan kurang pada aspek penghayatan dan implementasi. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi yang akan disajikan dan terbatasnya waktu yang tersedia.

Jadi Materi pendidikan sangat menentukan dalam proses pendidikan, sebab melalui materi inilah, segala aspek kependidikan ditanamkan kepada peserta didik. Materi juga memiliki hubungan yang integral dengan unsur lainnya, apalagi jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan. Artinya tujuan tidak mungkin tercapai kecuali materi yang akan dikembangkan terseleksi secara baik dan tepat.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa di lingkungan keluarga merupakan kegiatan pendidikan pertama dan utama. Dimana materi pendidikan yang diterapkan berorientasi pada pendidikan spiritual dan akhlakul karimah. Kemudian di lingkungan pendidikan formal adalah pengembangan kognitif, psikomotorik, dan sosial-intrapersonal. sedangkan di lingkungan pendidikan masyarakat adalah pengembangan dalam bentuk implementatif dari berbagai aspek. Selain itu, dapat pula dipahami bahwa jelas materi pendidikan Islam mempunyai peran penting dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Apalagi dengan tujuan pendidikan Islam yang begitu kompleks, peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan secara afektif, kognitif maupun psikomotorik, tetapi dalam dirinya harus tertanam sikap dan pribadi yang berakhlakul karimah.

C. Reverensi Ayat Terkait Materi Pendidikan Islam

1. Q.S Ar Rum : 9

أَوَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوٓا۟ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا۟ ٱلْأَرْضَ وَعَمَرُوهَآ أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ ۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya: “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (Qs. Ar-Rum :9)

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia :

Apakah orang-orang yang mendustakan Allah sekaligus melalaikan kehidupan akhirat tersebut tidak berjalan di muka bumi untuk merenungkan dan memperhatikan, sehingga mereka bisa menyaksikan bagaimana balasan yang diterima oleh umat-umat yang mendustakan para utusan Allah seperti kaum Ad dan Tsamud? Mereka lebih kuat tubuhnya daripada orang-orang kafir tersebut, lebih mampu untuk menikmati kehidupan di muka bumi, sebab mereka telah menggarap tanah dan bercocok tanam di muka bumi, membangun dan menempati istana-istana. Mereka lebih memakmurkan dunia mereka daripada orang-orang Makkah memakmurkan dunia mereka, namun pemakmuran mereka dan lamanya waktu yang mereka miliki tidak berguna bagi mereka. Para rasul mereka datang kepada mereka dengan membawa hujjah-hujjah yang nyata dan bukti-bukti yang kuat, lalu mereka mendustakan para rasul, akibatnya Allah membinasakan mereka, Allah tidak menzhalimi mereka dengan pembinasaan tersebut, akan tetapi mereka sendirilah yang menzhalimi diri mereka dengan kesyirikan dan kemaksiatan.

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam :

Ayat ini menjelaskan tentang tauhid, sains dan ekonomi. Di dalam nya berisi peringatan kepada seluruh manusia bahwa di mana pun dan kapan pun mereka berada, agar mereka mengetahui dan menghayati hakikat hidup dan kehidupan, dan mengetahui tujuan Allah menciptakan manusia. Manusia diciptakan Allah dengan tujuan yang sama, sejak dahulu kala, saat ini, dan juga pada masa yang akan datang, yaitu sebagai khalifah Allah di bumi dan beribadah kepada-Nya. Barang siapa yang tujuan hidupnya tidak sesuai dengan yang digariskan Allah, berarti mereka telah menyimpang dari tujuan itu dan hidupnya tidak akan diridai Allah.1 Serta dijelaskan juga kondisi perekonomian dan sains yang bisa diihat dari cara mereka mengolah bumi.

2. Q.S Luqman ayat: 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kau mempersekutukan Allah, gotong royong mempersekutukan (Allah) yakni benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman :13)

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia :

Ingatlah (wahai Rasul) nasihat Luqman kepada putranya saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Allah, karena dengan itu kamu menzhalimi dirimu, sesungguhnya syirik benar-benar perbuatan dosa yang paling besar dan paling buruk.”

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam :

Surat Luqman ayat 13 adalah ayat yang mengabadikan pelajaran Luqman al Hakim kepada anaknya. Yakni pelajaran paling utama, tauhid dan ibadah. Luqman mengatakan kepada anaknya agar jangan menyekutukan Allah. Karena menyekutukan Allah adalah perbuatan aniaya yang paling besar serta harus mengesakan Allah dalam setiap ibadah.

3. Q.S Luqman ayat : 14

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada insan (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman :14).

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia :

Dan Kami memerintahkan manusia agar berbakti dan berbuat baik kepada bapak ibunya. Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah di atas kelemahan, mengandungnya dan menyapihnya setelah menyusuinya selama dua tahun. Kami berfirman kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah kemudian berterima kasihlah kepada kedua orang tuamu. Hanya kepadaKu-lah kalian akan kembali, lalu Aku akan membalas masing-masing sesuai haknya.”

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam :

Surat Luqman ayat 14 menjelaskan tentang akhlak, sosial dan muamalah dengan orang tua seperti birrul walidain, berbakti kepada kedua orangtua. Terutama kepada ibunya yang telah mengandung dalam kondisi lemah dan payah yang semakin bertambah seiring bertambahnya usia kehamilan. Lalu ia melahirkan dan menyusui hingga dua tahun.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa masa penyusuan yang sempurna adalah dua tahun. Sebagaimana juga disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 233. Lalu Allah menutup ayat 14 dari Surat Luqman ini dengan memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dan berterima kasih kepada kedua orangtua. Dia juga mengingatkan tempat kembali manusia. Bahwa kelak semua orang akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Termasuk dalam masalah aqidah dan birrul walidain.

4. Q.S Luqman ayat : 15

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. Luqman :15)

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia :

Dan bila bapak ibumu memaksamu (wahai anak yang beriman) untuk membuatmu menyekutukan sesuatu denganKu dalam ibadahmu kepadaKu dimana kamu tidak memiliki ilmu tentangnya atau keduanya mengajakmu berbuat maksiat, maka jangan taati keduanya, karena tidak ada ketaatan bagi makhluk untuk bermaksiat kepada khaliq, namun tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia ini dengan baik dalam hal-hal yang bukan menagndung dosa. Dan tempuhlah olehmu (Wahai anak yang beriman) jalan orang-orang yang bertaubat dari dosanya, yang kembali kepadaKu, beriman kepada utusanKu, Muhammad, kemudian hanya kepadaKu-lah tempat kembali kalian lalu Aku mengabarkan kepada kalian apa yang dulu kalian kerjakan di dunia dan Aku membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya.

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam :

Ayat ini menerangkantentang keluarga dan akhlak serta tauhid, yaitu seorang anak dilarang menaati ibu bapaknya jika mereka memerintahkannya untuk menyekutukan Allah, yang dia sendiri memang tidak mengetahui bahwa Allah mempunyai sekutu, karena memang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sepanjang pengetahuan manusia, Allah tidak mempunyai sekutu. Karena menurut naluri, manusia harus mengesakan Tuhan.

Selanjutnya Allah memerintahkan agar seorang anak tetap bersikap baik kepada kedua ibu bapaknya dalam urusan dunia, seperti menghormati, menyenangkan hati, serta memberi pakaian dan tempat tinggal yang layak baginya, walaupun mereka memaksanya mempersekutukan Tuhan atau melakukan dosa yang lain.[5]
[5] https://penerbitjabal.com/kandungan-quran-surat-luqman-ayat-13-14/

5. Surat Luqman Ayat: 17

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ.

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Qs. Luqman: 17)

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Wahai anakku, dirikanlah shalat dengan sempurna dengan rukun-rukun, syarat-syarat dan wajib-wajibnya. Perintahkanlah kepada yang baik dan cegahlah dari yang mungkar dengan lemah lembut dan hikmah sebatas kemampuanmu. Bersabarlah atas apa yang menimpamu dalam rangka beramar ma’ruf dan bernahi mungkar. Ketahuilah bahwa wasiat-wasiat ini termasuk perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah, yang patut dilakukan dengan penuh kemauan.[6]
[6] https://tafsirweb.com/7501-surat-luqman-ayat-17.html diakses pada 6 Agustus 2024.

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam :

Ayat ini menjelaskan tentang ibadah serta peran keluarga dalam mendidik anak sangat berpengaruh terhadap akhlak anak. Orangtua harus menggunakan kasih sayang dalam mendidik anaknya. Sesuai dengan Surat Luqman ayat 17 yang menjelaskan bahwa Luqman memberikan nasihat dengan penuh kasih sayang dan memberikan pendidikan utama yaitu shalat, amar ma’ruf nahi mungkar dan sabar. Penerapannya dengan keteladanan, nasihat, ajakan, perintah ataupun hukuman yang bersifat mendidik.[7]
[7] https://ojs.unsiq.ac.id/index.php/al-qalam/article/view/3500, Diakses pada 6 Agustus 2024

6. Surat Luqman Ayat: 18

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. Luqman: 18)

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena kesombongan, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan congkak dan membanggakan diri, sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang congkak dalam berjalan, yang berbangga dengan segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya serta menyombongkannya di atas manusia, ia tidak mensyukurinya, justru ia mengingkarinya.[8] 
[8] https://tafsirweb.com/7502-surat-luqman-ayat-18.html, Diakses pada 6 Agustus 2024

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam

Dalam surat Luqman ayat 18 menjelaskan tentang akhak, dimana secara tegas Allah subahanahu wata’ala melarang seseorang memalingkan wajah dari orang lain karena sombong. Bahkan manusia dilarang berjalan di muka bumi dalam keadaan angkuh atau sombong.

Larangan tersebut ada karena sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.

Adapun tanda-tanda orang yang sombong dan bersifat angkuh itu antara lain:

- Berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.

- Bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah.[9]
[9] https://www.jatimnetwork.com/khazanah/439162891/kandungan-surat-luqman-ayat-18-tersedia-dengan-teks-arab-latin-dan-terjemah-bahasa-indonesia

7. Surat Luqman Ayat: 19

وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ

Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan rendah hatilah saat berjalanmu, rendahkanlah suaramu dan jangan meninggikannya. Sesungguhnya suara yang paling buruk dan paling dibenci adalah suara keledai yang terkenal dengan kedunguan dan suaranya yang melengking jelek.[10] 
[10] https://tafsirweb.com/7503-surat-luqman-ayat-19.html

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam :

Ayat ini menjelaskan kepada kita tentang adab dan akhlak. Jika berjalan, maka tawadhu’ lah kepada Allah dalam setiap langkah, berjalanlah dengan penuh wibawa dan tenang, jika berkata ringankanlah suara, janganlah ditinggikan sebagai adab kepada Allah kemudian kepada manusia, maka jika ditinggikan suara itu, hal itu adalah sebuah amalan yang buruk dan menyerupai suara keledai. Pada wasiat ini ada peringatan akan meninggikan suara dengan tanpa kebutuhan.

8. Surat Al-Qashash Ayat: 3

نَتْلُوا۟ عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِٱلْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.”

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Kami membacakan kepadamu dari sebagian kisah Musa bersama bersama Fir’aun dengan benar, untuk kaum yang beriman kepada al-Qur’an ini dan membenarkan bahwa sesungguhnya al-Qur’an itu berasal dari sisi Allah dan mereka mengamalkan petunjuk-petunjuknya.[11] 
[11]  https://tafsirweb.com/7053-surat-al-qashash-ayat-3.html

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah membacakan kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Jibril ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah Nabi Musa dan Fir'aun untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Dengan memperhatikan kisah itu, di mana mereka mengetahui bahwa nasib orang-orang yang durhaka mendapat azab dan orang-orang mukmin terbebas dari penindasan orang-orang zalim, mereka bertambah yakin bahwa Al-Qur'an memang wahyu yang diturunkan Allah kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

9. Surat Fussilat Ayat: 53

سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?.”

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Kami akan memperlihatkan kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami berupa kemenangan dan keungulan islam yang menaklukan negri-negri dan menggungguli agama-agama, dari penjuru langit dan belahan bumi, peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada keduanya dan pada diri mereka sendiri yang mengandung keajaiban penciptaan Allah dan Ayat-AyatNya, sehingga dari ayat-ayat tersebut mereka mengetahui dengan jelas dan tidak menyisakan keraguan bahwa al-Qur’an yang mulia ini adalah haq yang di wahyukan kepadamu dari Tuhan semesta alam. Apakah kesaksian Allah belum cukup bukti bahwa al-Qur’an adalah haq dan orang yang membawanya adalah benar? Allah telah bersaksi dengan membenarkanya dan Dia Maha menyaksikan segala sesuatu, dan tidak ada kesaksian yang lebih besar dari pada kesaksian Allah.[12] 
[12] https://tafsirweb.com/9035-surat-fussilat-ayat-53.html

Keterkaitan ayat dengan Materi Pendidikan Islam

Ayat ini menerangkan tentang tauhid dan kelebihan dalam perkara dunia yang telah Allah berikan kepada umat islam. Bahwa orang-orang musyrik yang ragu-ragu kepada Al-Qur'an dan Rasulullah itu akan melihat dengan mata kepala mereka bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Allah di segenap penjuru dunia dan pada diri mereka sendiri. Mereka melihat dan menyaksikan sendiri kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan tertindas selama berada di Mekah kemudian Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Medinah meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai. Rasulullah saw selama di Medinah bersama kaum Muhajirin dan Ansar membentuk dan membina masyarakat Islam. Masyarakat baru itu semakin lama semakin kuat dan berkembang. Hal ini dirasakan oleh orang-orang musyrik di Mekah, karena itu mereka pun selalu berusaha agar kekuatan baru itu dapat segera dipatahkan. Kekuatan Islam dan kaum Muslimin pertama kali dirasakan oleh orang musyrik Mekah adalah ketika Perang Badar dan kemudian ketika mereka dicerai-beraikan dalam Perang Khandak. Yang terakhir ialah di waktu Rasulullah saw dan kaum Muslimin menaklukkan kota Mekah tanpa perlawanan dari orang-orang musyrik. Akhirnya mereka menyaksikan manusia berbondong-bondong masuk Islam, termasuk orang-orang musyrik, keluarga, dan teman mereka sendiri. Semuanya itu merupakan bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Allah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa materi pendidikan merupakan bahan yang akan disajikan kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Materi pelajaran tersebut telah ditetapkan dalam kurikulum yang disusun bersama oleh pengambil kebijakan satuan pendidikan dan disesuaikan dengan kurikulum nasional dan kearifan lokal. Dengan demikian, materi pendidikan ialah semua bahan pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik dalam suatu sistem institusional pendidikan. Adapun ateri pendidikan islam adalah ilmu yang didasarkan pada ajaran-ajaran islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Materi pendidikan islam adalah ilmu yang didasarkan pada Al-qur’an dan Assunnah serta ijma para ulama

Materi pendidikan islam mencakup semua aspek kehidupan manusia seperti tauhid, akhlak, ibadah, sosial, ekonomi, politik, keluarga, sains dan teknoogi, yang semua itu sudah diatur dalam Al-qur’an dan Assunnah seperti dalam Q.S Ar-Rum : 9 dan Q.S Luqman : 13 yang menjelaskan tentang tauhid, Q.S Luqman : 14-15 menjelaskan tentang akhlak dan keluarga, sedangkan Q.S Luqman :17 tentang ibadah dan seterusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Heri Achmadi, “Penerapan Model ASSURE Dengan Menggunakan Media Power Point Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Sebagai Usaha Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MAN Sukoharjo Tahun Pelajaran 2012/2013.” Jurnal Tekonologi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol.2, No.1. (2014), hlm. 37.

https://iinangreinim.blogspot.com/2019/12/model-pembelajaran-assure.html?m=1

https://www.kompasiana.com/sitisalbiah30/60710c1c8ede483a110c2604/mengenal-model-assure-dalam-perencanaan-pembelajaran

James D. Russell Sharon E. Smaldino, Deborah L. Lowther, Intructional Technology and Media For Learning: Teknologi Pedmbelajaran dan Media Untuk Belajar (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), hlm. 111.

Prawiradilaga, D.S. 2008. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana.